Usaha tanpa henti untuk menyamar membawa dampak psikologis yang nyata bagi banyak orang dengan ADHD. Konsekuensinya bisa memicu lelah kronis, meningkatnya rasa cemas, hingga mengalami krisis identitas. (Unsplash)Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas atau attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD) sering dibahas dari ciri-ciri yang kasat mata: gelisah, mudah terdistraksi, pelupa, atau tidak bisa diam. Namun, gejala yang terlihat itu hanyalah sebagian kecil dari pengalaman hidup dengan ADHD.ADHD merupakan kondisi perkembangan kompleks dan berkaitan dengan sistem motivasi, perhatian, serta fungsi eksekutif di otak. Banyak perilaku yang dari luar terlihat sebagai “perilaku mengganggu” sebenarnya merupakan cerminan dari perjuangan batin yang terus-menerus.Karena sistem perhatian dan motivasi otak bekerja dengan cara berbeda, banyak orang dengan ADHD kesulitan untuk menyaring suara-suara di sekitar, memprioritaskan tugas rutin, dan mengendalikan dorongan spontan. Kondisi ini dapat menimbulkan tantangan nyata keseharian kita, seperti kesulitan dalam memulai tugas, menjaga kerapian, hingga mengelola waktu. Namun, di sisi lain, ADHD juga membawa kelebihan tersendiri.Saat menemukan hal yang benar-benar memicu minatnya, seseorang dengan ADHD mampu fokus untuk waktu yang lama, menunjukan kreativitas yang luar biasa, dan memecahkan masalah dengan penuh semangat.ADHD adalah sebuah neurotipe yang membutuhkan penyesuaian, seperti lingkungan belajar yang mendukung, jam kerja yang fleksibel, dan pengertian dari orang-orang terdekat. Penelitian menunjukkan bahwa perjuangan yang dilakukan orang dengan tantangan ini jauh lebih kompleks dan tidak terlihat karena berlangsung dalam diri.Salah satu bentuk perjuangan tersebut adalah upaya mempertahankan penampilan tertentu di hadapan orang lain. Seseorang bisa terus-menerus berusaha “menutupi” gejala ADHD. Upaya ini dikenal sebagai masking dan sering kali sama melelahkannya dengan gejala ADHD itu sendiri, bahkan bisa terasa lebih berat.Masking bukan sekadar memilih untuk bersikap sopan atau memberi kesan baik, melainkan strategi bertahan hidup saat mereka merasa takut dihakimi, disalahpahami, atau didiskriminasi.Penelitian saya bersama rekan-rekan menunjukkan perjuangan orang dewasa dengan ADHD yang kerap tidak terlihat: tuntutan konstan untuk melakukan masking. Proses ini membutuhkan usaha mental yang intens dan berkelanjutan, yang pada akhirnya dapat menyebabkan kelelahan emosional dan perasaan terasing yang kronis.Lebih dari 90% orang dewasa dengan ADHD yang berpartisipasi dalam penelitian daring kami mengaku melakukan masking dalam situasi sosial. Perilaku ini tidak hanya terjadi di sekolah atau tempat kerja, tetapi juga ketika berada di transportasi umum, bersama keluarga, bahkan saat sedang sendirian.Lama-kelamaan, masking dapat menjadi kondisi yang terus dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari.Apa yang dimaksud dengan penyamaran sosial?Penyamaran sosial adalah upaya melelahkan yang dilakukan secara sadar untuk memantau, mengendalikan, dan mengubah perilaku, pikiran, serta respons emosional alami demi memenuhi norma sosial agar seseorang terlihat “neurotipikal”.Masking dilakukan untuk mendapatkan penerimaan, rasa memiliki, dan keamanan emosional. Bagi sebagian orang, masking berfungsi sebagai perisai dari lingkungan yang belum sepenuhnya memahami keberagaman cara kerja otak atau neurodiversitas. Orang dewasa dengan ADHD memiliki fungsi eksekutif dan regulasi diri yang berbeda, serta gangguan perhatian seperti pikiran yang melompat-lompat atau perilaku impulsif. Menyembunyikan perilaku-perilaku tersebut menguras otak, hanya untuk mempertahankan penampilan tertentu di mata publik. Baca juga: Tak hanya laki-laki, perempuan juga bisa mengalami ADHD dan sering diabaikan Seseorang harus terus-menerus mengawasi dirinya sendiri: “Apakah aku terlalu berisik? Tadi aku tidak sengaja menyela pembicaraan, ya?” Pengawasan konstan terhadap diri sendiri seperti menjalankan dua kesadaran sekaligus: satu untuk menjadi diri sendiri, dan satu alur lagi untuk menampilkan versi diri yang sudah disesuaikan.Para peneliti mengibaratkannya seperti seekor bebek yang tampak tenang meluncur di permukaan air, padahal kakinya bersusah payah mengayuh di bawah permukaan.Bagi banyak orang, masking menjadi cara mereka melindungi diri sendiri. Mereka menggambarkannya seperti “membangun dinding di sekelilingnya”. Tindakan ini bertujuan untuk mengurangi risiko diperlakukan buruk atau didiskriminasi.Salah satu partisipan dewasa dengan ADHD dalam penelitian kami mengatakan:“Saat hidup dengan kondisi kronis dan merasa tidak dipahami sama sekali, fokus utama kita bergeser dari mengekspresikan diri secara autentik menjadi sekadar bertahan hidup. Dan dalam hal ini, bertahan hidup berarti menyesuaikan diri.Beban berat di balik maskingUpaya konstan untuk tampil sesuai ekspektasi menuntut harga mahal yang harus dibayar, mulai dari kelelahan mental, rasa sakit fisik hingga rusaknya hubungan dengan orang lain.Penelitian kami menunjukkan besarnya beban kognitif yang dipicu oleh masking. Berbeda dengan kecemasan sosial biasa, penyamaran sosial melibatkan upaya aktif untuk menekan perilaku alami. Setiap interaksi sosial berubah menjadi latihan yang melelahkan untuk mengendalikan diri: menahan antusiasme, mengerem dorongan untuk berkomentar secara impulsif, dan secara sadar meniru perilaku yang dipelajari dari hasil mengamati orang lain.Upaya yang terus-menerus ini dapat menimbulkan tekanan psikologis yang nyata. Dampaknya antara lain:Kelelahan kronis (burnout): Ketika interaksi sosial berubah menjadi aktivitas yang menguras energi, bukan pengalaman yang menyenangkan, seseorang dapat merasa energinya sangat terkuras, bahkan ketika acara sosial yang dihadiri relatif sederhana.Meningkatnya kecemasan: Ketakutan terbongkarnya "topeng” mereka dan memperlihatkan perilaku khas ADHD dapat memicu kecemasan yang semakin tinggi.Krisis identitas: Akibat terlalu lama memainkan peran yang tidak sesuai dengan jati diri mereka, orang dewasa dengan ADHD dapat mengalami pecahnya identitas. Mereka dapat kesulitan mengenali apa yang sebenarnya mereka inginkan atau bagaimana mereka akan bereaksi jika tidak berada di bawah tekanan untuk masking. Baca juga: ADHD berkaitan erat dengan kecemasan dan depresi: riset terbaru Ada pula dampak fisik. Strategi yang digunakan untuk menahan perilaku ADHD, seperti mengatupkan rahang, menahan dorongan sampai menimbulkan rasa sakit, atau menggigit lidah menjadi bukti terjadinya tindakan menyakiti diri sendiri yang nyata.Masking juga dapat mengganggu hubungan, koneksi dengan orang lain, dan kestabilan mental secara keseluruhan. Kondisi ini menciptakan siklus saat upaya itu justru menjadi sumber penderitaan baru.Mengubah cara kita memahami ADHDTemuan penelitian kami menantang sejumlah stereotip dan anggapan umum seputar gejala ADHD. Kesulitan berkonsentrasi atau mengatur emosi dapat menjadi tanda bahwa seseorang sedang menghadapi tekanan dan beban yang sangat besar akibat terus-menerus menekan perilaku alaminya.Oleh karena itu, sistem pendukung, baik keluarga, tempat kerja, maupun lingkungan akademis, perlu mengubah cara pandang mereka. Kesulitan yang dialami seseorang perlu dipahami sebagai tanda besarnya usaha mereka, bukan sebagai kegagalan untuk mengendalikan diri.Kita tidak bisa meminta seseorang untuk berhenti masking. Yang mereka butuhkan adalah lingkungan—di sekolah, tempat kerja, dan komunitas—yang didasari pemahaman dan penerimaan.Sistem yang ada juga perlu mengakomodasi orang-orang dengan neurotipe tertenty. Ini termasuk mengenali ADHD di lingkungan profesional serta menciptakan lingkungan yang tidak penuh tekanan dan lebih dapat diprediksi. Bentuk empati yang paling nyata adalah menciptakan dan mendorong terbentuknya lingkungan yang membebaskan mereka dari tuntutan untuk masking secara terus menerus.Selain itu, kita membutuhkan edukasi yang dapat mengubah cara kita membicarakan ADHD, dari narasi yang hanya berfokus pada kekurangan–apa yang mereka tidak bisa lakukan–menjadi pendekatan berbasis kekuatan yang mengakui cara unik otak neurodivergen memproses informasi.Pada akhirnya kita perlu membangun lingkungan yang memandang perbedaan bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian dari pengalaman manusia.Ignatia Sarasvati Wahyuputro menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris.Grace Iarocci menerima dana dari SSHRC, NSER, CIHR dan MSFHR.