Busi Kotor dan Aus Bikin Konsumsi BBM Boros, Benarkah?

Wait 5 sec.

Ilustrasi membuka busi mobil Foto: dok IstimewaKondisi busi yang mulai aus atau jelek pada kendaraan ternyata berdampak langsung terhadap efisiensi penggunaan bahan bakar minyak (BBM). Penurunan kinerja komponen pemantik ini memicu penurunan kualitas proses pembakaran di dalam ruang mesin.Aftermarket Technical Support NGK, Diko Oktaviano, menyebutkan bahwa busi yang sudah jelek secara fisik umumnya dapat diidentifikasi. Adanya perubahan tersebut membuat percikan api yang dihasilkan tidak lagi fokus saat memicu letupan tenaga."Busi jelek normalnya bisa diliat dari gap antar elektroda yang udah besar," kata Diko saat kepada kumparan, Selasa (6/10/2026)."Kalau sudah gitu mesin jadi brebet, langsam berkurang dan starter jadi susah," lanjutnya.Diko bilang, dampak teknis dari melemahnya pengapian tersebut langsung terasa pada stabilitas putaran mesin yang sering kali tersendat. Pengemudi juga akan mendapati mesin lebih sulit dihidupkan saat proses pengontakan awal.Ujung elektroda busi motor Honda Vario Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparanMenurutnya ketidakmampuan busi memercikkan api secara sempurna membuat campuran udara dan bensin gagal terbakar seluruhnya. Sisa bahan bakar yang tak terolah ini keluar begitu saja menjadi emisi kotor dan residu."Dampak ke konsumsi bbm bisa makin boros karena ruang bakar enggak punya cukup energi buat ngebakar semua campuran udara dan bahan bakar yang di semprotin, jadinya ada residu," ujarnya.Ketika ruang bakar tidak mendapatkan energi pemicu yang cukup, pengemudi cenderung menekan pedal gas lebih dalam demi mendapatkan dorongan tenaga. Kebiasaan menginjak gas berlebihan ini secara tidak sadar makin menyedot pasokan BBM dari tangki penyimpanan.Selain memicu pemborosan bensin, proses pembakaran yang tidak tuntas juga meninggalkan jelaga sisa di dinding ruang bakar. Deposit karbon hasil pembakaran tidak sempurna ini berpotensi menumpuk dan memicu gangguan teknis pada komponen internal lainnya.Busi Honda Vario yang sudah harus diganti Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparanSetiap tetes bahan bakar yang masuk ke ruang silinder seharusnya terukur dan terbakar habis menjadi energi dorong kendaraan. Namun, lemahnya pelepasan listrik pada celah busi yang renggang merusak efisiensi thermal mesin secara keseluruhan.Penurunan performa pengapian ini terasa kian parah saat kendaraan melintasi jalur padat yang menuntut manuver stop and go. Mesin butuh suplai BBM lebih banyak hanya untuk menjaga putaran awal tetap stabil di tengah lemahnya percikan api.Diko mengatakan, pemeriksaan komponen pengapian secara berkala terbukti jauh lebih hemat ketimbang menanggung pembengkakan biaya pembelian BBM harian. Kesadaran merawat hal-hal kecil pada komponen mesin menjadi langkah awal menjaga performa kendaraan tetap efisien."Dampak ke konsumsi bbm bisa makin boros karena ruang bakar nggak punya cukup energi buat ngebakar semua campuran udara dan bahan bakar," pungkasi Diko.