Dari Desa, Harapan Baru Tumbuh-Perjalanan Business Assistant (BA)

Wait 5 sec.

Ilustrasi wanita bekerja. Foto: Amnaj Khetsamtip/ShutterstockKetika ilmu ekonomi bertemu realitas masyarakat desa — sebuah perjalanan yang tidak ada di dalam buku teks mana pun. Ini Perjalanan Singkat!Ada hal-hal dalam hidup yang tidak pernah kita rencanakan, namun justru datang paling tepat waktu. Oktober 2025 menjadi salah satu bulan paling tak terduga dalam perjalanan hidup saya. Di tengah penantian panjang yang penuh doa di tengah sebuah proses yang sudah lama saya perjuangkan — saya tidak menyangka bahwa di bulan yang sama, dua kabar baik akan datang dengan bersamaan.Seperti yang selalu saya percaya — rezeki memang akan sampai kepada yang berhak menerimanya, dengan cara yang tidak pernah kita duga sebelumnya.Sebelum berbicara tentang pengalaman saya di lapangan, penting untuk memahami besarnya program yang sedang kita bicarakan bersama. Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih lahir dari Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2025 sebuah mandat besar untuk memperkuat perekonomian desa melalui pendekatan ekonomi kerakyatan yang berpijak pada nilai gotong royong.82.769 Unit KDKMP berbadan hukum secara nasional (per Nov 2025)1.584 Koperasi terbentuk di Provinsi Jambi — 99,9% dari target726 Titik lahan siap dibangun gerai & gudang di Jambi218 PMO & BA terlatih se-Provinsi Jambi (Okt 2025)Dan Saya adalah satu dari 156 Business Assistant yang ditugaskan di seluruh kabupaten/kota Provinsi Jambi menjadi ujung tombak yang bersentuhan langsung dengan masyarakat desa setiap harinya.Antara Teori dan LapanganSaya bukan orang asing dengan dunia pengabdian masyarakat. Hampir 14 tahun saya aktif berorganisasi di Muhammadiyah — bergerak, berdiskusi, dan melayani. Namun menjadi BA Koperasi Merah Putih adalah babak yang benar-benar berbeda. Ini bukan forum seminar, bukan ruang kelas, bukan rapat organisasi. Ini adalah lapangan sesungguhnya.Saya dipercaya mendampingi 11 desa dengan 11 KDKMP di dalamnya. Di sinilah saya jadi ingat pada sebuah buku yang pernah saya baca, dengan judul Creating a World Without Poverty: Social Business and the Future of Capitalism, karya Muhammad Yunus — ekonom asal Bangladesh, pendiri Grameen Bank, dan peraih Nobel Perdamaian 2006. Dalam buku tersebut, Yunus menegaskan "Kemiskinan bukan takdir. Ia adalah produk dari sistem yang tidak memberi kesempatan kepada manusia untuk menggunakan potensi penuh mereka. Ketika lembaga ekonomi benar-benar hadir untuk rakyat manusia dapat bangkit dari kondisi apa pun." Koperasi Merah Putih, bagi saya, adalah jawaban konkret atas tantangan itu.Membaca Yunus dulu, kalimat-kalimatnya terasa seperti teori yang menarik. Namun kini, ketika saya duduk bersama pengurus koperasi di desa-desa dampingan mendengar harapan mereka, merasakan semangat mereka kalimat-kalimat itu terasa hidup kembali.Di sisi lain saya juga teringat pada sebuah jurnal yang pernah saya baca "Analisis Pembentukan Koperasi Desa Merah Putih: Studi Kasus Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Kampung di Kabupaten Manokwari Selatan" Jurnal ini menemukan hal yang sangat bersinggungan dengan apa yang saya alami setiap hari di lapangan. "Modal sosial berupa nilai gotong royong, musyawarah, dan kepercayaan pada tokoh adat berperan penting dalam memperkuat proses pembentukan koperasi. Namun ditemukan kendala berupa literasi kelembagaan yang rendah, keterbatasan administrasi, dan ketidaksesuaian petunjuk teknis dengan kondisi lokal. Pembentukan Koperasi Desa Merah Putih berpotensi menjadi instrumen efektif pemberdayaan ekonomi masyarakat apabila diiringi pendampingan intensif."Temuan jurnal ini seperti cermin dari apa yang saya jumpai di 11 desa dampingan saya: semangat gotong royong yang luar biasa ada, potensi yang nyata tersedia namun tanpa pendampingan yang tepat, semua itu bisa berhenti hanya di level administrasi. Inilah mengapa peran BA bukan sekadar pelengkap program, melainkan tulang punggung keberhasilan program ini di akar rumput.Belajar Berbicara dengan Hati"Komunikasi yang efektif bukan soal seberapa banyak kosa kata yang kita kuasai. Komunikasi yang sesungguhnya adalah ketika pesan kita sampai, dipahami, dan diterima oleh lawan bicara kita."Saya terbiasa berbicara dengan mahasiswa, junior, senior, bahkan kepala daerah — dengan bahasa yang cenderung formal dan kadang akademik. Namun di sini, yang saya hadapi adalah ibu-ibu pengurus koperasi dan bapak-bapak kepala dusun, orang-orang yang usianya jauh di atas saya, yang tidak membutuhkan istilah teknis, melainkan kejelasan dan kehangatan.Dan momen paling memuaskan bukan ketika saya menyampaikan materi dengan sempurna — melainkan ketika seorang pengurus berkata, "Oh, jadi begitu ya, Mbak. Sekarang saya paham."Namun pengalaman ini tidak berhenti pada soal administrasi dan komunikasi saja. Dalam setiap kunjungan, saya juga diam-diam mengamati sesuatu yang jauh lebih dalam — sesuatu yang justru bersinggungan langsung dengan topik disertasi yang sedang saya kerjakan.Saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana rendahnya pemahaman literasi keuangan di tingkat masyarakat desa bukan sekadar angka dalam data statistik. namun ini benar2 terlihat dalam proses percakapan sehari-hari saya bersama para pengurus koperasi dampingan.Realitas lapangan ini mengingatkan saya pada sebuah jurnal yang berjudul “Penguatan Ekonomi UMKM melalui Literasi Keuangan” (2024). Jurnal tersebut menemukan bahwa pelaku usaha di tingkat desa masih belum mampu memisahkan pengeluaran bisnis dari pengeluaran pribadi, serta belum mengoptimalkan instrumen keuangan yang tersedia — dan untuk mengubah itu, dibutuhkan kolaborasi intensif antara pendamping lapangan, lembaga keuangan, dan otoritas terkait.Temuan itu bukan sekadar kutipan akademik bagi saya. Itu adalah cermin dari apa yang saya saksikan setiap minggunya. Dan semakin saya dalami, semakin saya yakin — bahwa jarak antara teori dan realitas di desa masih sangat lebar. Tugas kita bersama adalah mempersempitnya, satu pendampingan dalam satu waktu. Banyak pengurus koperasi yang antusias membangun unit simpan pinjam, namun belum sepenuhnya memahami bagaimana membedakan keuangan koperasi dari keuangan pribadi mereka. Di sinilah pendampingan BA menjadi sangat krusial — bukan hanya soal dokumen, tetapi soal membangun kapasitas berpikir masyarakat secara perlahan dan sabar.Dua Wajah Pengurus yang Saya TemuiSelama bertugas, saya bertemu dengan dua karakter pengurus yang sangat berbeda. Yang pertama — mereka yang bersemangat dan penuh harapan, melihat Koperasi Merah Putih sebagai kesempatan nyata mengubah nasib desa. Yang kedua — mereka yang pesimis dan ragu, sesuatu yang sangat manusiawi di tengah ketidakpastian ekonomi.Dan tantangan ini pun sudah dipotret secara akademik. Sebuah jurnal bertajuk "Tantangan dan Peluang Kelembagaan Koperasi Desa Merah Putih" yang diterbitkan di Jurnal Manajemen dan Inovasi (2025) mengonfirmasi apa yang saya rasakan di lapangan.Setelah berbulan-bulan menjalani peran ini, saya sampai pada satu kesimpulan : Koperasi Merah Putih bukan sekadar program sosial — ia adalah endogenous growth strategy yang paling realistis untuk konteks Indonesia saat ini. Ketika teori pertumbuhan endogen menegaskan bahwa kemajuan ekonomi lahir dari dalam komunitas itu sendiri — melalui akumulasi modal manusia, kelembagaan lokal, dan inovasi berbasis akar rumput — maka Koperasi Merah Putih adalah jawaban struktural atas kegagalan model pembangunan top-down yang selama ini kita andalkan. Program ini bukan mimpi di atas kertas. Ia adalah institutional arrangement yang jika dikelola dengan tata kelola yang transparan dan akuntabel, berpotensi menjadi pilar inclusive growth — pertumbuhan yang tidak hanya dirasakan oleh pusat, tetapi benar-benar meresap sampai ke lapisan ekonomi paling bawah.Jika ada satu hal yang ingin saya titipkan dari perjalanan ini — jangan takut untuk mencoba sesuatu yang berada di luar zona nyamanmu. Saya seorang mahasiswi ilmu ekonomi yang turun ke desa, berbicara dengan bahasa yang jauh dari jurnal ilmiah, dan belajar kembali dari masyarakat yang tidak pernah duduk di bangku kuliah. Di sanalah saya menemukan ilmu paling berharga yang tidak akan pernah saya temukan di perpustakaan mana pun.Karena pada akhirnya, pendidikan tertinggi bukan gelar yang kita sandang — melainkan seberapa jauh kita mampu memberi manfaat nyata bagi orang-orang di sekitar kita.