Segelas Kopi dan Sebuah Kebohongan Kolektif

Wait 5 sec.

Ilustrasi gelas kopi berwarna hijau. Foto: Iuliia Pilipeichenko/ShutterstockMal ramai dan kafe penuh bukan tanda ekonomi baik-baik saja. Bisa jadi itu tanda sesuatu yang jauh lebih mengkhawatirkan.Seorang perempuan muda berdiri di antrean kedai kopi. Sudah dua puluh menit. Ia tahu harga segelas cold brew itu setara dengan tiga kali ongkos ojek pulang-pergi. Ia juga tahu bahwa bulan ini gajinya belum naik, sementara harga beras dan telur sudah naik duluan. Tapi ia tetap berdiri di sana dan itu bukan karena ia bodoh, atau boros, atau tidak tahu diri.Itu karena ia lelah. Dan segelas kopi adalah satu-satunya kemewahan yang masih terasa dalam jangkauan.Di sinilah titik masuk yang sering terlewat dari perdebatan soal lipstick effect yang belakangan ramai diperbincangkan. Media ramai membahas fenomenanya: mal penuh, kafe ramai, antrean mengular, sambil bertanya-tanya apakah ini bukti bahwa ekonomi Indonesia "baik-baik saja." Tapi pertanyaan yang lebih penting bukan soal apakah mal ramai. Pertanyaannya adalah: mengapa orang masih ke mal, meski segalanya terasa makin berat?Latar Belakang yang Tidak SederhanaRupiah menyentuh Rp17.598 per dolar AS pada pertengahan Mei 2026: level terlemah dalam sejarah. PMI Manufaktur Indonesia berada di bawah 50, menandakan kontraksi di sektor produksi. PHK massal melanda sektor tekstil, elektronik, dan startup. Data BPS menunjukkan sekitar 10 juta orang turun dari kelas menengah ke kelas bawah sejak 2019 hingga 2024.Di saat bersamaan, pengguna paylater melonjak 86,7 persen secara tahunan hingga menembus Rp56,3 triliun per Februari 2026. NPL (non-performing loan) atau kredit macet layanan itu bertahan di atas 5 persen. Rata-rata satu debitur kini memegang tujuh fasilitas paylater aktif di berbagai lembaga keuangan.Itulah potret sesungguhnya di balik antrean panjang itu.Keramaian hari ini belum tentu tanda kesejahteraan bisa jadi hanya cara paling sunyi untuk bertahan (Sumber Gambar: Image Generator)Lipstik Bukan Kemewahan, Ia adalah PelarianIstilah lipstick effect pertama kali muncul dari pengamatan Leonard Lauder dari Estée Lauder pada 2001, tepat setelah resesi AS pascatragedi 9/11. Ia menemukan bahwa penjualan lipstik justru naik saat ekonomi memburuk. Hipotesisnya: ketika orang tidak mampu membeli "kemewahan besar" seperti mobil atau liburan, mereka beralih ke "kemewahan kecil" yang masih terasa terjangkau seperti kosmetik, parfum, kopi, makan di luar.Di Indonesia 2026, fenomena itu hadir dalam wujud yang lebih kompleks.LPEM FEB UI sudah mencatatnya secara empiris: proporsi pengeluaran masyarakat untuk kosmetik dan perawatan pribadi meningkat dari 1,14 persen pada 2019 menjadi 1,27 persen pada 2024, hal ini justru di tengah penurunan daya beli. Tapi jangan berhenti di situ. Yang terjadi bukan sekadar orang membeli lipstik. Yang terjadi adalah orang membeli rasa normal; sesuatu yang membuat hari terasa tidak terlalu berat.Ini bukan sekadar self-reward. Para psikolog menyebutnya doom spending: belanja sebagai mekanisme pelarian dari kecemasan, bukan karena butuh, tapi karena tidak tahu harus melampiaskan tekanan ke mana.Dan kecemasan itu punya alasan yang sangat nyata: harga rumah jauh dari jangkauan, lapangan kerja formal makin sempit, dan masa depan terasa tidak pasti. Jika menabung pun tidak akan cukup untuk beli rumah, maka bagi sebagian anak muda, argumen "untuk apa menabung" terasa masuk akal secara emosional, meski berbahaya secara finansial.Mal Ramai, Tapi Oleh Siapa?Di sinilah sudut pandang yang sering luput: keramaian mal bukan cermin dari seluruh Indonesia.Ambil contoh yang lebih dekat dari Jakarta. Di Bandar Lampung, mal Bumi Kedaton pada akhir pekan selalu tampak ramai: gerai kopi penuh, food court berdesakan, area hiburan tak pernah sepi. Tapi kalau diperhatikan lebih seksama, sebagian besar pengunjungnya bukan kalangan pengusaha atau profesional bergaji tinggi. Banyak di antara mereka adalah Aparatur Sipil Negara (ASN), pegawai pemerintah yang gajinya, jujur saja, tidak terlampau besar. Pas untuk hidup, kurang untuk bermewah-mewah. Tapi mereka tetap ada di sana, seminggu sekali, atau bahkan lebih sering.Bukan karena mereka kaya. Tapi karena Bumi Kedaton adalah satu-satunya "dunia lain" yang masih terasa terjangkau; tempat di mana untuk beberapa jam, tekanan pekerjaan, beban cicilan, dan ketidakpastian ekonomi bisa sejenak dilupakan di balik segelas kopi dan putaran eskalator.Fenomena ini bukan khas Lampung. Ia terjadi di mal-mal kota menengah di seluruh Indonesia. Yang berbeda hanya namanya: Transmart Palembang, Hartono Mall Yogyakarta, atau mal mana pun yang menjadi "tempat pergi" ketika tidak ada tempat lain yang terasa aman untuk sekadar bernafas.Survei Katadata Insight Center (KIC) mencatat 56,6 persen Gen Z jarang atau tidak pernah menabung sejak awal, dan lebih mendahulukan pembelian barang daripada menyisihkan uang. Data LPS memperkuat gambarannya: rata-rata tabungan nasabah rumah tangga yang pada akhir 2024 masih di kisaran Rp4,16 juta, anjlok ke hanya Rp1,7 juta pada awal 2025; penurunan hampir setengahnya dalam waktu kurang dari satu semester. Sementara itu, jumlah saldo rekening kelompok terkaya tumbuh 10,4 persen secara tahunan. Jurang itu bukan melebar perlahan, ia melebar cepat.Artinya: yang terlihat ramai di mal adalah segmen tertentu dan seringkali bukan segmen yang keuangannya sedang baik-baik saja. Justru sebaliknya. Sementara di luar sana, jutaan orang sedang diam-diam mengencangkan ikat pinggang, beralih ke merek yang lebih murah, memilih kemasan kecil yang lebih terjangkau, atau yang paling mengkhawatirkan mulai menggali lubang baru berupa utang paylater untuk menutup lubang lama.Ekonom Yusuf Rendy Manilet dari CORE Indonesia menyebutnya dengan tepat: ini bukan tanda konsumsi sedang kuat. Ini adalah sinyal kehati-hatian yang berpakaian keramaian.Mengapa Indonesia Lebih Rentan dari TeorinyaLipstick effect versi Indonesia bukan sekadar salinan dari teori Leonard Lauder. Ada tiga lapisan yang membuatnya lebih pelik:Pertama, media sosial sebagai mesin kebutuhan baru. Di era Estée Lauder, orang membeli lipstik karena mau. Di era TikTok dan Instagram, orang membeli karena algoritma membacamu di momen paling rentan; malam setelah berita PHK, siang setelah bertengkar soal tagihan, pagi setelah melihat postingan liburan teman. Fear of missing out (FOMO) bukan sekadar psikologi; ia kini adalah mekanisme bisnis yang terstruktur.Kedua, paylater sebagai pintu yang terlalu mudah dibuka. Suku bunga tinggi, tabungan tipis, tapi pintu konsumsi selalu terbuka. Paylater tumbuh 86,7 persen dalam setahun. Pertumbuhan P2P lending bahkan mencapai 153,49 persen. Orang tidak perlu punya uang untuk berbelanja, mereka cukup punya handphone dan aplikasi. Ini berbeda secara fundamental dari pola lipstick effect klasik, di mana orang belanja dengan uang yang memang ada, hanya dialihkan ke barang lebih murah.Ketiga, downtrading yang tersembunyi di balik keramaian. Yang tidak kelihatan di foto estetis kafe adalah bahwa sebagian pengunjung itu beralih dari restoran mahal ke kafe yang lebih terjangkau, dari branded coffee ke kopi lokal, dari belanja bulanan penuh ke kemasan sachet. Ini bukan konsumsi yang kuat; ini adalah konsumsi yang bertahan.Kapan Alarm Berubah Menjadi Krisis?Guru Besar FEB UI Budi Frensidy mengingatkan bahwa lipstick effect sendiri bukan bukti krisis. Ia adalah alarm kecil. Alarm itu baru berubah menjadi sesuatu yang lebih serius ketika tabungan mulai terkuras, utang konsumtif naik, kredit macet paylater meningkat, dan konsumsi barang tahan lama melemah.Dari keempat indikator itu, tiga di antaranya sudah menunjukkan tanda-tanda mengkhawatirkan.NPL paylater bertahan di atas 5 persen. Tabungan kelas bawah terus menipis. Gaikindo memasang target 850.000 unit penjualan mobil untuk 2026, naik dari realisasi 2025 yang hanya 803.687 unit. Tapi kinerja awal tahun belum meyakinkan: penjualan Maret 2026 turun 13,8 persen secara tahunan. Yang belum tersungkur besar adalah konsumsi secara agregat, tapi konsumsi agregat adalah angka rata-rata yang bisa menyembunyikan kesengsaraan di satu sisi dan kemewahan di sisi lain.Yang Paling Berbahaya adalah Salah MembacaSejarah punya catatannya sendiri. Jepang di era Lost Decade 1990-an: restoran tetap ramai, tapi ekonomi stagnan selama sepuluh tahun. Indonesia sendiri, menjelang krisis 1998, masih ada yang belanja di mal sebelum rupiah runtuh dari Rp5.000 ke Rp17.000 dalam hitungan bulan.Keramaian di permukaan tidak selalu berarti fondasi yang kuat.Bahaya terbesar dari lipstick effect bukan pada fenomena itu sendiri. Bahaya terbesarnya adalah ketika pemerintah, pelaku pasar, dan pengambil kebijakan salah membaca data mikro yang tampak aktif sebagai bukti bahwa segalanya baik-baik saja, lalu mengendurkan kewaspadaan di saat yang justru paling kritis.Kembali ke Perempuan di Antrean KopiPerempuan tadi akhirnya mendapat kopinya. Ia duduk sebentar, membuka ponsel, scroll media sosial, lalu pergi. Mungkin ia tersenyum sejenak. Mungkin ia lupa sebentar bahwa tagihan listrik belum dibayar dan cicilan paylater-nya sudah masuk bulan ketiga.Tidak ada yang salah dengan segelas kopi. Yang salah adalah saat kita sebagai masyarakat, sebagai pengambil kebijakan, sebagai media melihat antrean panjang itu lalu menyimpulkan bahwa semua orang baik-baik saja.Mal yang ramai bisa berarti dua hal yang bertolak belakang: ekonomi yang sehat, atau masyarakat yang sedang minum obat pereda nyeri sambil menunda ke dokter.Saat ini, tanda-tanda mengarah ke yang kedua.