Pemkab Sleman menggelar Festival Upacara Adat 2026 yang menampilkan berbagai tradisi adat dari 17 kecamatan. Foto: Pandangan Jogja/Resti DamayantiRagam tradisi upacara adat dari 17 kapanewon/kecamatan di Sleman ditampilkan dalam Festival Upacara Adat yang digelar pada Jumat–Sabtu, 22–23 Mei 2026. Dalam festival ini, tiap kapanewon menampilkan upacara adat khas wilayah masing-masing, mulai dari Upacara Wiwitan hingga Nyadran.Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Sleman, Ishadi Zayid, mengatakan festival tersebut menjadi salah satu upaya Pemerintah Kabupaten Sleman untuk menjaga keberlangsungan tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat. Menurutnya, upacara adat tidak hanya menampilkan unsur seremonial, tetapi juga memuat nilai yang masih relevan dalam kehidupan saat ini.“Jadi Festival Upacara Adat ini adalah sebagai bentuk upaya dari Pemerintah Kabupaten Sleman untuk melestarikan upacara-upacara adat yang ada di Sleman. Kan banyak sekali upacara-upacara adat yang hidup dan berkembang di masyarakat Sleman di seluruh 17 kapanewon,” kata Zayid kepada Pandangan Jogja, Sabtu (23/5).Pemkab Sleman menggelar Festival Upacara Adat 2026 yang menampilkan berbagai tradisi adat dari 17 kecamatan. Foto: Pandangan Jogja/Resti DamayantiFestival ini juga menghadirkan penilaian dari dewan juri untuk menentukan peserta terbaik. Namun, menurut Zayid, tujuan yang lebih luas adalah memperkenalkan makna di balik tradisi kepada generasi muda agar tetap mengenal warisan budaya daerah.“Nah di dalam upacara adat ini kan bukan hanya bentuk seremonial saja, tetapi di dalam upacara adat ini mengandung beberapa nilai filosofi, salah satunya gotong royong, saling menghargai, toleransi, kemudian kedekatan dengan alam untuk menjaga alam, dan nilai spiritual berupa doa rasa syukur,” katanya.Festival Upacara Adat disebut rutin diselenggarakan setiap tahun oleh Pemkab Sleman. Selain menjadi ruang pelestarian budaya, kegiatan ini juga menjadi wadah bagi masyarakat untuk menampilkan tradisi yang berkembang di wilayah masing-masing.“Upacara adat bukan hanya sekadar seremonial atau bentuk seni budaya, tetapi nilai-nilai filosofi inilah yang harus tersampaikan kepada masyarakat,” ucapnya.Pemkab Sleman menggelar Festival Upacara Adat 2026 yang menampilkan berbagai tradisi adat dari 17 kecamatan. Foto: Pandangan Jogja/Resti DamayantiSalah satu tradisi yang ditampilkan adalah Upacara Wiwitan dari Kapanewon Ngaglik yang diperankan warga Padukuhan Penen. Panewu Ngaglik, Edi Wibowo, mengatakan prosesi tersebut dipilih karena memiliki keterkaitan dengan budaya pertanian yang kini semakin jarang ditemui di wilayah semi-urban.“Persiapan kurang lebih kita hampir dua setengah bulan, tiga bulan lah. Nah itu sudah ditunjang karena upacara wiwitan itu memang setiap tahun dilaksanakan di Padukuhan Penen,” ujarnya.Edi menjelaskan, pemilihan tradisi Wiwitan juga berkaitan dengan upaya pelestarian budaya di tengah perubahan penggunaan lahan di wilayah Ngaglik. Ia menyebut tradisi tersebut telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb).“Sekarang Kapanewon Ngaglik itu kan jadi kapanewon semi-urban. Banyak pendatang, terus banyak perubahan lahan dari pertanian menjadi permukiman. Nah wiwitan ini kan satu budaya yang kaitannya dengan sektor pertanian, sekaligus pelestarian budaya masyarakat Indonesia,” katanya.Pemkab Sleman menggelar Festival Upacara Adat 2026 yang menampilkan berbagai tradisi adat dari 17 kecamatan. Foto: Pandangan Jogja/Resti DamayantiKontingen Ngaglik menjadi salah satu peserta dengan jumlah personel terbanyak dengan melibatkan sekitar 70 warga dalam satu padukuhan. Edi berharap festival semacam ini terus diselenggarakan sebagai ruang pelestarian budaya sekaligus pengenalan tradisi kepada generasi muda.“Harapan ke depan kegiatan seperti ini tetap diadakan dan dilestarikan. Itu sebagai ruang bagi kelompok-kelompok seni sekaligus edukasi dan bentuk mempertahankan budaya tak benda yang harus diwariskan turun-temurun,” kata Edi.Selain Ngaglik, 16 kapanewon lainnya juga menampilkan beragam upacara adat, di antaranya Kapanewon Gamping dengan tradisi Nyadran dan Kapanewon Mlati dengan prosesi adat di Sendang Temanten.