Timwas Haji DPR soal Risiko Demensia Jemaah Lansia: Perkuat Layanan Kesehatan

Wait 5 sec.

Jemaah haji Indonesia bersama jemaah dari berbagai negara melakukan mabit di Muzdalifah, Makkah, Arab Saudi, Rabu (27/5/2026) waktu setempat. Foto: Citro Atmoko/ANTARA FOTOKasus gangguan kognitif dan demensia pada jemaah haji lanjut usia (lansia) menjadi perhatian Timwas Haji DPR 2026.Anggota Timwas Netty Prasetiyani Aher meminta pemerintah memperkuat layanan kesehatan mental selama penyelenggaraan ibadah haji.Menurut Netty, pemerintah perlu menambah tenaga dokter spesialis kejiwaan dan psikolog untuk mendukung penanganan jemaah, khususnya kelompok lansia."Kasus demensia yang banyak menimpa jemaah harus mendapat perhatian dari Pemerintah dengan memastikan dokter spesialis kejiwaan dan psikolog dapat dipenuhi secara proporsional," kata Netty di Makkah, dikutip Rabu (27/5).Lansia Dinilai Rentan Gangguan MentalJemaah haji Indonesia tiba di Arafah, Arab Saudi, Senin (25/5/2026). Foto: MCH 2026Netty menjelaskan mayoritas jemaah Indonesia berasal dari kelompok usia lanjut yang memiliki berbagai penyakit penyerta. Kondisi itu dinilai meningkatkan risiko gangguan mental dan disorientasi, terutama saat memasuki fase puncak ibadah haji.Ia menilai aspek kesehatan mental selama ini belum mendapat perhatian yang memadai, padahal tekanan fisik, cuaca ekstrem, kepadatan jemaah, serta perubahan lingkungan dapat memicu gangguan psikologis pada lansia.Netty menilai pelayanan kesehatan haji ke depan tidak cukup hanya berfokus pada penanganan fisik, tetapi juga harus mengantisipasi persoalan psikologis dan mental jemaah, terutama kelompok rentan dan lansia.Penguatan layanan kesehatan jiwa dan spesialisasi medis dinilai penting untuk mengurangi risiko keterlambatan penanganan pasien di tengah tingginya aktivitas ibadah dan kepadatan jemaah dunia di Tanah Suci.Dokter Spesialis Lain Juga DibutuhkanSelain tenaga kesehatan jiwa, Timwas DPR juga menerima masukan dari tenaga medis terkait kebutuhan dokter spesialis lain di lapangan."Kami mendapat masukan dari tenaga kesehatan dan tenaga medis agar kewenangan dokter spesialis ortopedi dapat diperluas agar kasus-kasus yang dapat ditangani di klinik tidak perlu dirujuk ke rumah sakit Arab Saudi," jelas Netty.Menurutnya, kebutuhan dokter spesialis ortopedi, dokter gigi, hingga spesialis mata perlu diperkuat agar penanganan jemaah dapat dilakukan lebih cepat tanpa harus dirujuk ke rumah sakit setempat.