Dampak Perang di Iran, RI dan Thailand Beralih ke Surat Utang Jangka Pendek

Wait 5 sec.

Petugas menghitung uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (2/1/2025). Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal LinggaIndonesia dan Thailand semakin mengandalkan instrumen utang jangka pendek untuk menghadapi tekanan akibat perang Amerika Serikat dan Iran yang mengguncang pasar keuangan global.Bank Indonesia meningkatkan penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menarik aliran modal asing demi menopang rupiah, yang menyentuh level terendah sepanjang sejarah dan menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di Asia sepanjang kuartal ini. Di Thailand, pemerintah mulai lebih banyak menggunakan surat utang jangka pendek untuk membiayai program pinjaman darurat.Preferensi terhadap surat utang tenor pendek terjadi di tengah kekhawatiran inflasi akibat lonjakan harga energi yang memicu aksi jual obligasi pemerintah tenor panjang di berbagai negara. Meski langkah ini memberi fleksibilitas pendanaan lebih besar, analis menilai risiko pembiayaan ulang dapat meningkat dalam jangka panjang.“Ketika investor membeli instrumen utang jangka pendek ini, permintaan terhadap obligasi tenor panjang menjadi berkurang sampai batas tertentu,” kata ahli strategi suku bunga dan valuta asing BNP Paribas di Singapura, Chandresh Jain, dikutip dari Bloomberg, Kamis (28/5). Petugas keamanan melakukan penjagaan di kawasan Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (3/9/2025). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTOTotal SRBI yang beredar meningkat 126,7 triliun rupiah pada bulan lalu, terbesar dalam hampir dua tahun terakhir. Rupiah melemah sekitar 2 persen terhadap dolar AS pada April, kinerja terburuk sejak Oktober 2024. SRBI sendiri memiliki tenor hingga 12 bulan.Imbal hasil SRBI tenor 12 bulan naik menjadi 6,76 persen pada lelang terakhir 22 Mei, tertinggi sejak Januari 2025 dan berada di atas yield obligasi pemerintah Indonesia tenor dua tahun yang berada di kisaran 6,53 persen.“Kami menilai pasar kini lebih memilih membeli SRBI dibanding obligasi pemerintah Indonesia. SRBI menawarkan imbal hasil serupa dengan obligasi pemerintah tanpa membuat investor menghadapi “risiko durasi yang signifikan," terangnya. Sementara itu di Thailand, pemerintah baru berupaya menahan dampak konflik Timur Tengah yang mengganggu perdagangan dan sektor pariwisata, dua mesin utama ekonomi negara tersebut. Pemerintahan Perdana Menteri Anutin Charnvirakul bulan ini menyetujui paket bantuan yang mencakup bantuan tunai dan subsidi sebagai bagian dari rencana pinjaman darurat senilai 400 miliar baht atau sekitar US$12 miliar.Thailand berencana menghimpun sekitar US$5 miliar melalui kombinasi surat sanggup bayar dan pinjaman berjangka untuk membiayai berbagai langkah pengendalian biaya hidup, kata Direktur Jenderal Public Debt Management Office, Jindarat Viriyataveekul.Ilustrasi mata uang Thailand, Baht. Foto: Makhh/ShutterstockStrategis Citigroup Inc. termasuk Gordon Goh sebelumnya juga memperkirakan tambahan pembiayaan pemerintah Thailand pada tahun fiskal 2026 akan lebih banyak berasal dari surat utang jangka pendek ketimbang obligasi pemerintah.Jumlah surat sanggup bayar yang beredar tercatat sekitar 1,16 triliun baht pada akhir Maret, mendekati level tertinggi sejak awal 2023. Obligasi tenor panjang Thailand juga telah mengalami tekanan jual akibat kekhawatiran fiskal dan inflasi.“Karena kurva obligasi Thailand cukup curam, pemerintah ingin menjaga biaya bunga tetap rendah” dengan lebih mengandalkan instrumen jangka pendek seperti pinjaman berjangka dan surat sanggup bayar, kata Jain.