Kondisi pedagang daging sapi di Pasar Rumput, Jakarta Selatan, dan Pasar Senen, Jakarta Pusat, Sabtu (23/5/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparanHarga daging sapi yang masih mahal jelang Idul Adha menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Sabtu (23/5). Presiden Prabowo Subianto yang meminta penundaan pembangunan kantor-kantor megah juga jadi berita populer. Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman berita populer tersebut:Harga Daging Sapi Masih Mahal Jelang Idul Adha, Tembus Rp 150 Ribu/KgKondisi pedagang daging sapi di Pasar Rumput, Jakarta Selatan, dan Pasar Senen, Jakarta Pusat, Sabtu (23/5/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparanHarga daging sapi di pasar tradisional Jakarta masih menunjukkan tren kenaikan signifikan, bahkan menjelang Hari Raya Idul Adha. Saat ini, harga daging sapi lokal dibanderol antara Rp 140.000 hingga Rp 150.000 per kilogram. Angka ini jauh di atas harga normal yang seharusnya berkisar Rp 120.000 hingga Rp 130.000 per kg. Pedagang mencatat bahwa kondisi ini sudah berlangsung sejak Ramadan dan Idul Fitri, menandakan anomali harga yang tidak biasa terjadi menjelang Idul Adha.Kenaikan harga ini dipicu oleh beberapa faktor ekonomi. Pedagang seperti Kiki di Pasar Rumput menjelaskan bahwa pasokan sapi dari peternakan sedang seret, sementara permintaan dari masyarakat justru meningkat. Selain itu, biaya pakan dan operasional lainnya juga mengalami kenaikan, yang secara langsung berdampak pada harga jual daging. Kondisi serupa juga ditemukan di Pasar Senen, di mana pedagang merasakan pasokan normal namun menduga adanya permainan harga dari hulu.Dampak dari tingginya harga ini sangat terasa di tingkat konsumen dan pedagang. Mayoritas pembeli mengeluhkan mahalnya harga daging sapi, dan daya beli masyarakat disebut menurun drastis. Bagi pedagang, keuntungan mereka tergerus hingga 50 persen dari kondisi normal, membuat mereka pesimis akan adanya normalisasi harga dalam waktu dekat. Situasi ini menciptakan dilema bagi warung-warung makan yang kesulitan menaikkan harga jual produk mereka tanpa kehilangan pelanggan.Prabowo Minta Tunda Bangun Kantor: Tak Perlu Bagus, yang Penting ProduktifPresiden Prabowo Subianto (kedua kanan) didampingi Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (kanan) menjaring udang saat panen raya udang di lokasi Tambak Budidaya Udang Berbasis Kawasan Kebumen, Jawa Tengah, Sabtu (23/5/2026). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTOPresiden Prabowo Subianto menginstruksikan jajarannya untuk menunda pembangunan kantor-kantor fisik yang megah, dengan menekankan pentingnya memprioritaskan produktivitas. Prabowo menilai bahwa fokus pemerintah seharusnya adalah menciptakan nilai tambah bagi negara dan masyarakat, bukan pada kemegahan infrastruktur. Pernyataan ini disampaikan setelah peresmian panen raya udang di Tambak Budidaya Udang Kebumen, Jawa Tengah, yang ia jadikan contoh proyek produktif.Tambak udang di Kebumen, dengan luas 65 hektare, menunjukkan produktivitas yang luar biasa dengan hasil 40 ton udang per hektare dalam waktu tiga tahun beroperasi. Keberhasilan ini mendorong Prabowo untuk merencanakan ekspansi serupa di berbagai wilayah lain, termasuk Waingapu seluas 2.000 hektare, Gorontalo 200 hektare, dan hingga 14.000 hektare di jalur Pantura. Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan produksi protein bagi rakyat dan juga sebagai komoditas ekspor untuk mendapatkan devisa negara.Prabowo menegaskan bahwa kriteria proyek produktif adalah yang mampu menciptakan lapangan kerja bagi rakyat, menghasilkan nilai tambah ekonomi, dan memperkaya bangsa Indonesia. Dengan batasan ini, pemerintah diharapkan dapat mempercepat pembangunan proyek-proyek yang secara langsung berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi, dibandingkan dengan alokasi anggaran untuk pembangunan fisik yang tidak selalu berkorelasi langsung dengan produktivitas.