Mencari Ilmu dalam Ekonomi Islam

Wait 5 sec.

https://chatgpt.com/c/6a0d9647-9a2c-83ec-97cd-a02bc379ad9fYang paling sunyi dari ekonomi Islam hari ini mungkin justru ilmunya. Bukan lembaganya, seminarnya, banknya, produknya, atau gelar-gelar akademik yang mengitarinya. Semua tampak tumbuh: program studi bertambah, jurnal bermunculan, konferensi berlangsung, industri keuangan syariah bergerak, dan bahasa maqashid makin akrab di ruang akademik. Namun di balik keramaian itu, satu pertanyaan sederhana terasa sulit dihindari: di mana ilmu dalam ekonomi Islam?Pertanyaan ini bukan usaha meragukan Islam. Justru karena membawa nama Islam, ekonomi Islam memikul beban ilmiah, moral, dan sosial yang lebih berat. Ia tidak cukup menjadi pembeda istilah dari ekonomi konvensional. Ia tidak cukup menjadi sistem kepatuhan akad. Ia tidak boleh puas menjadi versi halal dari mesin ekonomi yang tetap melahirkan ketimpangan. Ekonomi Islam seharusnya menjadi ilmu yang bekerja: menjelaskan realitas, menguji klaim, membongkar ketidakadilan, dan menawarkan jalan keluar yang bermartabat.Industri Tumbuh, Ilmu Tertinggal?Secara industri, ekonomi Islam tidak bisa disebut kecil. Bank syariah, sukuk, reksa dana syariah, asuransi syariah, sertifikasi halal, zakat digital, dan wakaf produktif menunjukkan bahwa ekonomi syariah memiliki ruang pasar yang membesar. Namun pertanyaan keilmuannya tetap terbuka. Apakah pertumbuhan aset otomatis berarti pertumbuhan ilmu? Apakah makin banyak produk syariah berarti makin kuat paradigma ekonomi Islam?Di sinilah kita perlu membedakan industri dan ilmu. Industri tumbuh karena regulasi, pasar, demografi, dan kebutuhan identitas. Tetapi ilmu tumbuh karena teori, metodologi, kritik, dan kemampuan menjelaskan kenyataan. Industri bertanya: produk apa yang bisa dijual? Regulasi bertanya: akad apa yang sah? Kampus bertanya: mata kuliah apa yang diajarkan? Ilmu bertanya lebih dalam: realitas apa yang mampu dipahami, diukur, dikritik, dan diubah?Jika ekonomi Islam hanya tumbuh sebagai industri, ia sibuk mengurus pasar. Jika hanya tumbuh sebagai kepatuhan, ia sibuk mengurus legalitas. Tetapi jika sungguh tumbuh sebagai ilmu, ia harus berani masuk ke ruang yang lebih keras: inflasi, kurs, fiskal, utang, kemiskinan struktural, pengangguran, ketimpangan aset, produktivitas, dan distribusi kekuasaan ekonomi.Terlalu Banyak Jawaban NormatifKekuatan ekonomi Islam terletak pada fondasi etiknya. Ia berbicara tentang larangan riba, gharar, dan maysir. Ia mengangkat keadilan, keseimbangan, maslahat, falah, distribusi kekayaan, dan maqashid syariah. Semua itu penting. Di tengah ekonomi modern yang sering memperlakukan manusia sebagai angka, ekonomi Islam mengembalikan dimensi moral ke pusat pembicaraan.Namun nilai dapat berubah menjadi slogan bila tidak diturunkan menjadi metode. Maqashid syariah, misalnya, indah dalam pidato akademik. Ia hadir dalam pendahuluan makalah dan sambutan seminar. Tetapi seberapa sering maqashid benar-benar menjadi indikator pembangunan, instrumen evaluasi APBD, alat ukur kemiskinan multidimensi, atau dasar audit kebijakan publik?Ekonomi Islam sering kuat dalam mengatakan “seharusnya”, tetapi belum selalu kuat dalam menjawab “bagaimana”. Ia menyatakan bahwa sistem ekonomi harus adil. Tetapi bagaimana keadilan itu diukur? Ia menolak eksploitasi. Tetapi bagaimana eksploitasi dalam rantai pasok modern dipetakan? Ia mengkritik bunga. Tetapi bagaimana sistem moneter Islam menjawab inflasi, transmisi kebijakan, nilai tukar, dan ekspektasi pasar?Pertanyaan-pertanyaan itu tidak bisa dijawab hanya dengan kemuliaan niat. Ia membutuhkan model, data, keberanian metodologis, dan kerja intelektual panjang. Tanpa itu, ekonomi Islam akan terus berada dalam posisi ganjil: mulia sebagai cita-cita, tetapi lemah sebagai alat baca kenyataan.Di Mana Para Penjaga Ilmunya?Pada titik ini, peran para guru besar dan pemangku otoritas akademik dalam ekonomi Islam perlu ditempatkan dalam percakapan yang lebih jernih. Otoritas akademik membawa tanggung jawab keilmuan: merawat arah ilmu, memperluas horizon pemikiran, menguatkan metodologi, dan membantu masyarakat membaca persoalan ekonomi secara lebih adil.Karena itu, ukuran pentingnya adalah gagasan apa yang diwariskan, kerangka analisis apa yang diperkuat, instrumen kebijakan apa yang ditawarkan, dan sejauh mana ekonomi Islam hadir bukan hanya di ruang seminar, tetapi juga dalam percakapan serius tentang pembangunan, keadilan sosial, dan masa depan ekonomi umat.Ekonomi Islam tidak sedang kekurangan panggung. Yang lebih ia butuhkan adalah keberanian intelektual: mengakui bahwa sebagian praktik keuangan syariah masih terlalu mirip logika kredit konvensional; bahwa sebagian kurikulum masih terlalu normatif dan kurang kuat pada data, ekonometrika, ekonomi politik, serta perancangan kebijakan; bahwa zakat dan wakaf tidak boleh hanya menjadi statistik kebaikan, tetapi harus menjadi instrumen transformasi sosial.Mencari ilmu dalam ekonomi Islam bukan tindakan sinis. Ia adalah bentuk cinta yang paling serius. Ilmu yang terlalu sering dipuji akan kehilangan daya koreksi. Ilmu yang terlalu dilindungi identitas akan mudah rapuh. Dan ilmu yang membawa nama agama justru harus paling siap diuji, karena ia tidak hanya mengklaim kebenaran teknis, tetapi juga membawa amanah moral.Pada akhirnya, kebesaran ekonomi Islam tidak ditentukan oleh banyaknya seminar, bertambahnya prodi, naiknya aset industri, atau dikukuhkannya para profesor. Kebesarannya ditentukan oleh satu hal yang lebih mendasar: apakah ia mampu membuat ekonomi menjadi lebih adil, lebih manusiawi, dan lebih dekat kepada maslahat.Di situlah pencarian ini dimulai. Bukan mencari Islam dalam ekonomi Islam. Islamnya sudah jelas. Yang perlu dicari kembali adalah ilmunya.