Nikah karena Konten, Cerai karena Realita

Wait 5 sec.

ilustrasi ini di buat oleh penulis dengan aiDi era media sosial, pernikahan bukan lagi sekadar hubungan personal antara dua individu, tetapi juga sering berubah menjadi konsumsi publik. Banyak pasangan muda membangun citra rumah tangga harmonis melalui konten TikTok, Instagram, maupun YouTube. Mulai dari video lamaran mewah, “couple goals”, daily vlog pasangan, hingga romantisasi kehidupan rumah tangga, semuanya menjadi tren yang terus menarik perhatian warganet. Namun di balik konten yang terlihat sempurna, tidak sedikit hubungan yang justru berakhir dengan konflik hingga perceraian.Fenomena ini semakin terlihat di kalangan Generasi Z dan milenial yang hidup dalam budaya validasi digital. Pernikahan terkadang tidak lagi dibangun berdasarkan kesiapan emosional, tetapi demi eksistensi sosial dan kebutuhan konten. Akibatnya, hubungan rumah tangga rentan goyah ketika realita kehidupan tidak seindah yang ditampilkan di media sosial.Menurut penelitian dalam Jurnal Sosial Humaniora, penggunaan media sosial secara berlebihan dalam hubungan romantis dapat memicu konflik, kecemburuan, dan tekanan psikologis akibat adanya kebutuhan untuk mempertahankan citra ideal di depan publik. Penelitian tersebut menyebut bahwa pasangan yang terlalu fokus pada validasi sosial cenderung mengalami ketidakpuasan hubungan dalam kehidupan nyata. (ejournal.unsrat.ac.id).Selain itu, penelitian dari Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking menemukan bahwa intensitas penggunaan media sosial dalam hubungan percintaan memiliki hubungan dengan meningkatnya konflik pasangan, terutama akibat perbandingan sosial dan pengawasan digital terhadap pasangan.Fenomena ini kemudian memunculkan pertanyaan besar: apakah media sosial hanya menjadi sarana hiburan, atau justru ikut memengaruhi meningkatnya keretakan rumah tangga modernPembahasanMedia sosial pada dasarnya tidak selalu berdampak buruk bagi hubungan keluarga. Banyak pasangan memanfaatkannya untuk berbagi momen bahagia, membangun komunikasi, bahkan menghasilkan pendapatan melalui konten digital. Namun, masalah muncul ketika hubungan rumah tangga berubah menjadi ajang pencitraan dan kompetisi sosial.Dalam banyak kasus, pasangan muda merasa tertekan untuk selalu terlihat harmonis di depan publik. Mereka berlomba menunjukkan kemesraan, hadiah mahal, liburan romantis, hingga kehidupan rumah tangga yang tampak sempurna. Padahal, kehidupan nyata tidak selalu berjalan sesuai ekspektasi media sosial.Penelitian dari Journal of Social and Personal Relationships menunjukkan bahwa pasangan yang terlalu sering membandingkan hubungan mereka dengan pasangan lain di media sosial lebih rentan mengalami ketidakpuasan emosional dan konflik rumah tangga. Perbandingan sosial membuat seseorang merasa hubungan mereka kurang romantis, kurang mewah, atau kurang bahagia dibanding yang dilihat di internet.Di Indonesia sendiri, fenomena perceraian terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Data dari Mahkamah Agung menunjukkan bahwa faktor perselisihan dan pertengkaran terus-menerus masih menjadi penyebab utama perceraian di Pengadilan Agama. Walaupun media sosial bukan satu-satunya penyebab, kehadirannya sering menjadi pemicu tambahan dalam konflik rumah tangga modern.Dalam perspektif hukum keluarga, hubungan suami istri sejatinya dibangun atas dasar tanggung jawab, komunikasi, dan komitmen jangka panjang. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menjelaskan bahwa tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Namun, ketika pernikahan lebih fokus pada pencitraan digital dibanding kesiapan mental dan emosional, tujuan tersebut menjadi sulit tercapai.Selain itu, media sosial juga memunculkan bentuk konflik baru dalam rumah tangga modern. Perselingkuhan digital, komunikasi tersembunyi, oversharing masalah rumah tangga, hingga cyber jealousy menjadi persoalan yang semakin sering terjadi. Penelitian dari Computers in Human Behavior menemukan bahwa aktivitas digital pasangan dapat memicu rasa curiga dan kecemburuan yang berdampak pada rusaknya kualitas hubungan.Ironisnya, banyak pasangan tetap mempertahankan citra harmonis di media sosial meskipun hubungan mereka sebenarnya sedang bermasalah. Hal ini menciptakan fenomena “nikah karena konten, cerai karena realita”, di mana pernikahan terlihat sempurna di internet tetapi rapuh dalam kehidupan nyata.Generasi muda perlu memahami bahwa media sosial hanyalah potongan kecil dari kehidupan seseorang. Tidak semua yang terlihat romantis di internet benar-benar bahagia di dunia nyata. Pernikahan bukan tentang siapa yang paling viral, paling estetik, atau paling sering dipuji warganet, tetapi tentang bagaimana pasangan mampu bertahan menghadapi masalah secara dewasa.Karena itu, penting bagi pasangan muda untuk membangun batas sehat dalam penggunaan media sosial. Privasi rumah tangga tetap harus dijaga agar konflik tidak berubah menjadi tontonan publik. Komunikasi langsung, rasa percaya, dan kedewasaan emosional jauh lebih penting dibanding validasi dari likes dan komentar.Fenomena “nikah karena konten, cerai karena realita” menunjukkan bahwa media sosial kini memiliki pengaruh besar terhadap hubungan keluarga modern. Budaya validasi digital membuat sebagian pasangan lebih fokus membangun citra dibanding membangun kualitas hubungan yang sebenarnya. Akibatnya, ketika realita rumah tangga tidak sesuai dengan ekspektasi media sosial, konflik menjadi sulit dihindari.Secara hukum, media sosial memang bukan penyebab utama perceraian. Namun, dampaknya terhadap komunikasi, kecemburuan, tekanan sosial, dan konflik emosional tidak dapat diabaikan. Rumah tangga yang sehat tidak dibangun dari seberapa romantis tampilannya di internet, melainkan dari kemampuan pasangan untuk saling memahami, menjaga komitmen, dan menyelesaikan masalah tanpa bergantung pada validasi publik.Di era digital saat ini, pasangan muda perlu lebih bijak memisahkan antara kehidupan nyata dan kehidupan media sosial. Sebab pada akhirnya, pernikahan bukanlah konten yang dinilai warganet, tetapi hubungan jangka panjang yang harus dipertanggungjawabkan dalam kehidupan nyata.