ilustrasi seseorang yang menyendiri (sumber: https://pixabay.com/)“Jika sempit hidup ini, Tidur selalu tak tenang, Pagi selalu menyiksa, Semua akan baik saja, Sebab tuhan telah berjanji, Setelah sempit ada kemudahan”Bait lagu tersebut sangat menggambarkan kisah di film “Semua Akan Baik-Baik Saja”. Setiap manusia pasti mempunyai masalah dan rintangan selama hidupnya. Namun semua masalah pasti akan tetap bisa kita lalui dengan mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Apakah kamu sudah menonton film Semua Akan Baik-Baik Saja? Film ini bukan hanya tentang cerita kesedihan, tetapi juga tentang seseorang yang berusaha menyembunyikan luka di dalam dirinya. Film semua akan baik-baik saja memperlihatkan bagaimana luka emosional dapat disembunyikan dengan cara yang berbeda-beda pada setiap orang. Hal tersebut terlihat melalui karakter Langit dan Malika yang sama-sama berusaha terlihat kuat meskipun sebenarnya sedang menghadapi tekanan batin yang mendalam. Mari kita gali lebih dalam dan bahas permasalahan pada karakter Langit dan Malika di film ini.1. Langit dan Tekanan untuk Selalu Terlihat KuatKarakter Langit pada film ini digambarkan sebagai sosok yang tenang, dewasa, dan berusaha bertanggung jawab setelah kepergian kakaknya Tari. Ia mencoba menjadi figur pelindung bagi keluarganya dan tetap menjalani hidup seperti biasa. Namun, di balik sikap tenangnya, Langit menyimpan tekanan emosional yang sangat besar. Langit menunjukkan bahwa terkadang seseorang harus merasa selalu kuat demi orang lain. Ia jarang menunjukkan kesedihannya secara langsung dan lebih memilih memendam semuanya sendiri. Dalam psikologi, kondisi ini disebut emotional suppression atau menekan emosi.Menurut Gross dan John (2003), emotional suppression adalah usaha seseorang untuk menyembunyikan ekspresi emosinya agar tidak terlihat oleh orang lain. Orang yang sering menahan emosi akan cenderung mengalami tekanan psikologis yang lebih besar karena emosi tersebut tidak benar-benar hilang. Hal tersebut terlihat dari cara Langit menghadapi situasi ketika ia kehilangan kakaknya. Ia tetap berusaha untuk tetap tenang dan tegar, meskipun sebenarnya sedang terluka. Melalui karakter Langit, film ini memperlihatkan bahwa tekanan untuk selalu terlihat kuat terkadang justru membuat seseorang semakin lelah secara emosional.2. Malika dan Luka yang DipendamBerbeda dengan Langit yang lebih tenang dan tertutup, karakter Malika menunjukkan luka emosionalnya melalui sikap dingin dan sulit percaya kepada orang lain. Malika terlihat menyimpan banyak kesedihan setelah kehilangan sosok seorang ibu. Dalam beberapa adegan, Malika tampak seperti menjaga jarak dan berusaha menutupi perasaannya. Sikap tersebut sebenarnya dapat menjadi bentuk coping mechanism atau cara seseorang melindungi dirinya dari rasa sakit. Menurut Lazarus dan Folkman (1984), coping adalah usaha seseorang untuk menghadapi tekanan atau situasi yang dianggap sulit secara emosional. Setiap orang memiliki coping mechanism atau cara yang berbeda dalam menghadapi suatu tekanan emosional. Ada yang memilih bercerita, tetapi ada juga yang memendam semuanya sendiri. Karakter Malika juga lebih sering menahan emosinya dibanding mengungkapkan apa yang sebenarnya ia rasakan. Menurut Yuan et al. (2014), seseorang yang terus menerus menekan emosinya dapat mengalami tekanan psikologis karena emosi tersebut tidak benar-benar hilang, melainkan hanya disembunyikan.Film Semua Akan Baik-Baik Saja bukan hanya menceritakan tentang kehilangan seseorang, tetapi juga tentang luka yang sering disembunyikan seseorang di balik sikap tenangnya. Melalui karakter Langit dan Malika, film ini mengajarkan kita bahwa setiap orang memiliki cara berbeda dalam menghadapi rasa sakit. Karena itu, penting bagi kita untuk lebih peka dan saling memberikan dukungan, sebab tidak semua orang yang terlihat baik-baik saja benar-benar sedang baik-baik saja.PenulisMilania Dwi Augusty SumarnoDr. Rachmat Mulyono, M.Si., Psikolog