Siti Hasinah atau Mbak Siti (51), penjual sate keliling asal Madura, berjalan kaki menyusuri perumahan di Madiun untuk menawarkan dagangannya, Kamis (21/05/2025). Foto: Calya/kumparan.Sore hari di Madiun terasa cukup tenang, di antara jalan-jalan kecil terlihat seseorang perempuan berjalan kaki sambil membawa wakul di atas kepalanya. Sesekali ia berseru "sate...sate..." sambil menawarkan dagangannya ke warga sekitar. Ia adalah Siti Hasinah, penjual sate keliling asal Madura.Mbak Siti sudah merantau ke Madiun sejak tahun 2003. Tujuannya sederhana, untuk mencari nafkah. "Ya buat cari nafkah," katanya.Saat pertama datang ke Madiun, ia tidak langsung berjualan. Ia sempat mengurus rumah tangga bersama suaminya. Seiring waktu, ia mulai berjualan sate keliling untuk membantu kebutuhan sehari-hari.Siti Hasinah atau Mbak Siti (51), penjual sate keliling asal Madura, berjalan kaki menyusuri perumahan di Madiun untuk menawarkan dagangannya, Kamis (21/05/2026). Foto: Calya/kumparan.Setiap hari, Mbak Siti berangkat dari rumah sekitar pukul 12.00 siang, Ia berjalan kaki menyusuri jalanan sambil membawa dagangannya. "Berangkat jam 12, nyampe perumahan sini jam 3 pulang jam 6. Jalan kaki sambil nyunggi wakul," ujarnya.Di sepanjang perjalanan, ia berkeliling dari satu gang ke gang lain. Kadang ia berhenti ketika ada pembeli, kadang juga harus terus berjalan karena tidak ada yang membeli. Suara langkah kaki dan sesekali sapaan pelan menjadi bagian dari rutinitasnya.Penghasilan dari jualan sate keliling tidak menentu, "kadang dapet 100, kadang cuma 50, tergantung lakunya," katanya. Meski begitu, ia tetap merasa cukup. "Alhamdulillah cukup buat makan. Kalau ada sisa ya disimpan," tambahnya.Siti Hasinah atau Mbak Siti (51), penjual sate keliling asal Madura, berjalan kaki menyusuri perumahan di Madiun untuk menawarkan dagangannya, Kamis (21/05/2026). Foto: Calya/kumparan.Untuk kebutuhan sehari-hari, Mbak Siti hidup sederhana. "Paling buat makan aja. Sama Listrik, air tiap bulan," ucapnya.Sebagai perantau, Mbak Siti masih memiliki keluarga di Madura dan rutin pulang setiap bulan. Namun, ada satu hal yang paling ia rindukan. "Yang paling dirindukan ya anak," katanya singkat.Tantangan terbesar yang ia rasakan adalah saat dagangannya sepi pembeli, "kalau lagi sepi ya sepi banget," ujarnya.Siti Hasinah atau Mbak Siti (51), penjual sate keliling asal Madura, berjalan kaki menyusuri perumahan di Madiun untuk menawaekan dagangannya, Kamis (21/05/2026). Foto: Calya/kumparanMeski harus berjalan jauh setiap hari dan menghadapi pembeli yang tidak menentu, Mbak Siti tetap menjalani pekerjaannya dengan sabar. "Namanya jualan, ya tergantung rezeki," katanya.Menjelang malam, langkahnya perlahan kembali pulang setelah berkeliling seharian. Ia berharap dagangannya habis dan bisa kembali esok hari dengan semangat yang sama. "Ya pengennya masih bisa jualan terus. Sama bolak-balik Madiun-Madura, kan masih butuh buat makan, banyak kebutuhan," tutupnya.Di tengah usahanya, Mbak Siti tetap bersikap ramah kepada siapa saja. Ia menawarkan satenya dengan senyum, bahkan kadang memberi lebih kepada pembeli. Bagi Mbak Siti, berjualan bukan hanya soal mencari uang, tetapi juga bersilaturahmi dengan orang orang.