Sejumlah kapal tongkang bermuatan batu bara melintas perairan Sungai Mahakam di Samarinda, Kalimantan Timur, Rabu (6/11/2024). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTOHarga minyak mentah dunia bergerak cenderung stabil pada Selasa (26/5) setelah mengalami tekanan tajam pada perdagangan sebelumnya. Kontrak berjangka minyak mentah WTI bertahan di kisaran USD 91 per barel, sementara Brent berada di sekitar USD 97 per barel, setelah keduanya anjlok lebih dari 6 persen pada sesi sebelumnya.Mengutip Trading Economic, pelemahan harga minyak dipengaruhi meningkatnya optimisme pasar terhadap potensi kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang dinilai dapat mengakhiri konflik sekaligus membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis bagi perdagangan energi global.Presiden Donald Trump mengatakan proses negosiasi berjalan cukup baik, meski ia juga memperingatkan serangan baru masih dapat terjadi jika pembicaraan gagal mencapai kesepakatan. Di sisi lain, seorang mediator dari Pakistan dilaporkan menyampaikan kepada China bahwa peluang tercapainya kesepakatan semakin besar.Saat ini, AS dan Iran sedang membahas kerangka kesepakatan yang mencakup perpanjangan gencatan senjata selama sekitar dua bulan. Dalam periode tersebut, Washington disebut akan mencabut blokadenya, sementara Teheran akan membuka kembali Selat Hormuz.Meski demikian, sejumlah isu penting masih belum menemukan titik temu, terutama terkait program nuklir Iran dan tuntutan Teheran untuk tetap memiliki kewenangan atas lalu lintas maritim di jalur perairan penting tersebut.Sementara itu, pasar masih mencermati perkembangan ketegangan di kawasan Selat Hormuz. Laporan mengenai serangan AS dan Israel terhadap kapal-kapal Iran turut membuat investor tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan.Batu BaraKontrak berjangka batu bara termal berada di level USD 132,5 per ton dan bergerak dalam rentang yang relatif sempit setelah turun dari level tertinggi dalam 18 bulan di USD 146 per ton pada akhir Maret.Mengutip Trading Economic, pergerakan ini mengikuti pelemahan harga gas alam seiring pasar menilai prospek permintaan terhadap sumber energi alternatif di sejumlah negara ekonomi utama.Harga gas alam melemah setelah muncul laporan bahwa sejumlah kapal pengangkut gas alam cair (LNG) dari Uni Emirat Arab (UEA) masih dapat melintas di Teluk Persia. Kondisi tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan sejak konflik mulai berlangsung.Peningkatan pasokan LNG tahun ini turut memicu reaksi pada harga batu bara termal karena perusahaan utilitas mengandalkan pembangkit listrik berbasis batu bara untuk memenuhi kebutuhan energi.Meski telah turun dari level puncaknya, peningkatan permintaan batu bara sejak awal konflik masih membuat harga kontrak berjangka tercatat naik 22 persen sejak awal tahun (year-to-date).Peralihan penggunaan energi ini terutama terjadi di Jepang dan Korea Selatan, yang merupakan konsumen terbesar batu bara termal berkualitas tinggi dari Australia.Impor batu bara termal Korea Selatan pada April tercatat melonjak 40 persen menjadi 5,7 juta ton, sedangkan Jepang mengalami kenaikan 2,5 persen menjadi 7,9 juta ton.NikelHarga nikel mengalami kenaikan. Berdasarkan data dari London Metal Exchange, harga nikel naik 0,99 persen ke level USD 18.913 per ton.TimahHarga timah juga naik 1,74 persen. Berdasarkan data dari London Metal Exchange saat ini harga timah ada pada level USD 54.174 per ton.CPOBerdasarkan Bursa Malaysia, harga CPO untuk kontrak Juli mengalami kenaikan. Dengan begitu, harga CPO berada di level MYR 4.461 per ton.