Pantau gizi lewat ponsel: Bagaimana membuat layanan kader posyandu makin inklusif?

Wait 5 sec.

● Aplikasi digital dan pendampingan dorong kader lebih rutin pantau gizi anak secara inklusif.● Kader perlu dikenalkan pada konsep gender dan cara berkomunikasi dengan masyarakat rentan.● Selain menambah rasa percaya diri kader, sederet cara ini memperluas deteksi masalah gizi anak.Masalah gizi masih membebani anak Indonesia. Stunting menghantui 4,48 juta balita. Sementara, satu dari 12 balita mengalami wasting (berat badan rendah karena gizi kurang ataupun buruk) yang menyebabkan kematian 400 ribu anak di dunia tiap tahunnya. Pemerintah memang telah mengerahkan kader—relawan terlatih yang bantu tugas tenaga kesehatan—di posyandu untuk mencatat gizi anak, tetapi prosesnya belum optimal. Beban berlipat masyarakat (sosial, ekonomi, dan kesehatan) membuat proses pencatatan gizi menjadi lebih sulit. Di sisi lain, kerja kader kerap terbebani oleh target skrining segala usia (siklus hidup), serta tugas administratif yang berat. Mereka juga tidak mendapatkan standar pengecekan gizi anak ideal. Kesenjangan ini, menurut kami, perlu diatasi lewat intervensi digital menyeluruh. CISDI bersama peneliti lintas universitas di Indonesia dan Australia merancang aplikasi digital PN-PRIMA guna membantu kader mencatat dan membuat keputusan di lapangan saat memantau gizi anak.Kami juga mengadakan pelatihan, pemantauan, dan pendampingan secara rutin agar kader bisa mengidentifikasi, serta menghadapi masalah gizi dan kerentanan di masyarakat.Dorong kader pantau gizi lebih rutinDalam pengembangan aplikasi PN-PRIMA, CISDI bersama Pusat Kajian dan Advokasi Perlindungan dan Kualitas Hidup Anak (PUSKAPA) Universitas Indonesia dan Nossal Institute for Global Health, University of Melbourne, Australia, melakukan penelitian selama 2024-2026 (belum dipublikasikan). Kami melakukan survei, diskusi terpumpun (FGD), dan wawancara mendalam dengan informan kunci yang melibatkan 190 kader di 37 posyandu (5 kader per posyandu) dan 836 orang tua/pengasuh di Kota Depok dan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Hasilnya, kami menemukan bahwa kader kesehatan tidak melakukan pencatatan gizi anak secara rutin. Padahal, pemantauan gizi rutin sangat penting untuk memastikan tumbuh kembang anak secara optimal, mendeteksi dini kondisi kesehatan mereka, serta mendorong penanganan medis lanjutan. Tujuannya agar anak terhindar dari risiko masalah gizi dan gangguan kesehatan yang lebih fatal.Contohnya, anak wasting punya sistem kekebalan sangat rapuh. Penurunan berat badan drastis dalam waktu singkat membuat mereka lebih rentan terserang penyakit—bisa mengancam nyawa. Selain itu, tanpa pemantauan gizi rutin, banyak anak dari keluarga rentan luput dari pendataan resmi. Misalnya, anak keluarga pendatang, penduduk nomaden, ataupun keluarga miskin yang belum mempunyai nomor induk kependudukan (NIK). Baca juga: Hasil timbangan anak bebani para ibu: Cap negatif dari tenaga posyandu hambat kasus ‘wasting’ dan ‘stunting’ Pada anak dengan kondisi gizi normal, pemantauan idealnya dilakukan sekali sebulan. Adapun anak dengan masalah gizi perlu dipantau lebih sering.Lewat aplikasi PN-PRIMA, kami mendorong kader kesehatan “jemput bola”, bukan menunggu masyarakat mengunjungi posyandu. Kader PN-PRIMA melakukan kunjungan rumah lebih rutin: sekali dalam sepekan, tergantung kondisi gizi anak. PN-PRIMA juga menggunakan data pelengkap dari aplikasi pencatatan gizi pemerintah (e-PPGBM), sehingga bisa memastikan pemantuan gizi dengan cakupan yang luas dan menyeluruh. Terhitung sejak Oktober 2025 sampai Februari 2026, 37 posyandu yang didampingi CISDI melakukan 1.944 skrining balita. Sebanyak 910 anak dididampingi setidaknya sekali.Aplikasi digital bantu kinerja kader kesehatanSejumlah fitur dalam aplikasi PN-PRIMA mempermudah kinerja kader di lapangan, misalnya “notifikasi pengingat jadwal kunjungan otomatis”.Fitur ini memberikan notifikasi jadwal pemantauan berkala bagi kader untuk mengunjungi anak-anak yang terindentifikasi memiliki masalah gizi.Saat berkunjung ke rumah, kader mengukur tinggi dan berat badan anak guna mengetahui status gizi mereka. Kader juga mengajukan sejumlah pertanyaan dasar kepada orang tua, seperti keadaan rumah, akses air bersih, hingga riwayat imunisasi. Hasil pengukuran gizi anak beserta jawaban orang tua kemudian dicatat dalam aplikasi PN-PRIMA.Aplikasi kemudian menampilkan status gizi secara otomatis berdasarkan Grafik Pertumbuhan Anak. Jadi, kader tidak perlu mengukur status gizi secara manual.Aplikasi juga menampilkan fitur “pesan kunci"—yang tampilannya menyerupai Instagram Story. Pesan kunci membantu kader menyampaikan edukasi penting ke orang tua sesuai kondisi mereka, termasuk memberikan apresiasi jika kondisi gizi anak sudah baik.Pelatihan menunjang komunikasi kaderKami berupaya menciptakan intervensi yang inklusif dan tidak membeda-bedakan warga, baik di dalam aplikasi maupun lewat cara berkomunikasi kader.Pertanyaan dasar dalam PN-PRIMA, misalnya, disusun berdasarkan penilaian kerentanan (vulnerability assessment) selama diskusi dan wawancara dengan kader maupun orang tua.Selain itu, kami memberikan pelatihan kepada kader mengenai konsep gender dan cara berkomunikasi dengan masyarakat rentan, seperti keluarga dengan anak stunting dan ibu pekerja rumah tangga.Kami juga melatih kader untuk mengidentifikasi berbagai dimensi kerentanan (seperti kemiskinan dan disabilitas) melalui pertanyaan-pertanyaan sederhana.Ketika bertemu dengan pengasuh, kader akan diminta untuk melakukan skrining status kepemilikan asuransi, dokumen pencatatan sipil, dan kondisi disabilitas mereka. Baca juga: Kader kesehatan: Bantu nakes tolong masyarakat, tapi diupah sangat minim (bagian 1) Nia (bukan nama sebenarnya), seorang kader di salah satu sesi FGD mengaku bahwa identifikasi kerentanan membantu dirinya lebih peka dalam mengenali kondisi pengasuh dan menumbuhkan perasaan egaliter terhadap mereka."Kami jadi tahu cara mendekati pengasuh berkebutuhan khusus. Kalau mereka ke posyandu kami jadi punya bayangan harus kayak apa,” ujar Nia, disambut anggukan kader lainnya.Riset CISDI sejauh ini menunjukkan bahwa intervensi digital menyeluruh lewat aplikasi PN-PRIMA dan pelatihan membantu kader lebih percaya diri dan kompeten melakukan kunjungan rumah.“Enak aplikasinya ada notifikasinya. Kami diingatkan, jadi enggak lupa dan lebih prepared buat kunjungan besoknya,” ujar Rumi, kader di Kabupaten Bekasi. Baca juga: Indonesia perlu memperkuat peran posyandu untuk mencegah asupan gula berlebih pada bayi Kendati sudah mendapatkan pelatihan dan panduan dari PN-PRIMA, kader kesehatan tetap menghadapi banyak sekali dinamika selama kunjungan rumah.Misalnya, pengasuh ataupun anak tidak ada saat dikunjungi kader, padahal sudah janjian. Tak sedikit pula yang berbohong karena enggan ditemui kader.Butuh peran pemerintahPenggunaan aplikasi digital disertai pendampingan kader kesehatan berpotensi mendukung skrining gizi dan keterampilan komunikasi kader.Agar dapat diterapkan secara lebih luas hingga tingkat nasional, peran pemerintah sangat diperlukan dalam standardisasi protokol kunjungan rumah, penguatan kapasitas kader secara berkelanjutan, serta peningkatan kualitas aplikasi maupun pemadanan data antardaerah dengan pusat. Tantangan di daerah dengan keterbatasan internet juga perlu diperhatikan. Termasuk dengan mengembangkan fitur offline mode agar aplikasi tetap bisa diakses kader saat mendata warga. Lalu, data otomatis terunggah ke dalam sistem di area yang terjangkau internet.Data status gizi anak yang dikumpulkan juga perlu dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung pengambilan keputusan dan intervensi yang lebih tepat sasaran. Tingkatkan pula detail kualitas datanya (termasuk kerentanan warga) agar pelayanan kader lebih inklusif.Wafa Zahida (Product Designer), Diky Herdiansyah (Interim Technical Lead), dan Reyhan Alemmario (Data Scientist) dari CISDI turut berkontribusi dalam penulisan artikel ini.Artikel ini merupakan hasil kolaborasi diseminasi sains para pakar bersama KONEKSI dan The Conversation Indonesia.Muhammad Mikail Hasan bekerja sebagai Lead for Digital Health Technologies for Health Pillars di CISDI, sekaligus Project Lead dalam penelitian terkait penguatan kesehatan primer berkolaborasi dan menerima dana dari KONEKSI (Australia-Indonesia Knowledge Parternship Platform) Bintang Qanitah Putri bekerja sebagai Research Associate di CISDI yang melakukan penelitian terkait layanan kesehatan primer berkolaborasi dan menerima dana dari KONEKSI (Australia-Indonesia Knowledge Partnership Platform)Muhammad Anugrah Saputra bekerja sebagai Chief of Research and MEL di CISDI yang melakukan penelitian terkait layanan kesehatan primer berkolaborasi dan menerima dana dari KONEKSI (Australia-Indonesia Knowledge Partnership Platform)Yurdhina Meilissa bekerja sebagai Chief of Health System Strengthening di CISDI yang menjadi Principal Investigator dalam penelitian mengenai layanan kesehatan primer yang berkolaborasi dan menerima pendanaan dari KONEKSI (Australia-Indonesia Knowledge Partnership Platform). Maria Puspa Kartika (Tika) bekerja sebagai Project Manager di layanan kesehatan primer yang melakukan supervisi terhadap pelaksanaan program dan menerima pendanaan dari KONEKSI (Australia-Indonesia Knowledge Partnership Platform).Nidya Eka Putri bekerja sebagai Lead for Community Health di CISDI, memimpin program Pencerah Nusantara PRIMA, sebuah inisiatif penguatan layanan kesehatan primer berbasis komunitas melalui supervisi suportif dan inovasi digital untuk kader kesehatan, sekaligus berkolaborasi dan mendukung penelitian yang didanai oleh KONEKSI (Australia-Indonesia Knowledge Partnership Platform).