Lebih dari Sekadar Trofi, Piala Dunia 2026 Berpotensi Gerakkan Ekonomi Rp 731 T

Wait 5 sec.

Para pekerja memasang rumput sod di Kansas City Stadium menjelang Piala Dunia 2026 di Kansas City, Missouri, Amerika Serikat (21/4/2026). Foto: Jamie Squire/Getty Images/AFPPiala Dunia atau World Cup bukan sekadar mencari negara dengan klub sepak bola terbaik dan euforia penonton di penjuru dunia. Tapi menjadi mesin ekonomi yang bernilai miliaran dolar. Piala Dunia 2026 yang digelar pada 11 Juni di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko diperkirakan menambah produk domestik bruto (PDB) global hingga USD 40,9 miliar atau sekitar Rp 731,29 triliun (kurs Rp 17.880 per dolar AS). Hajatan olahraga sepak bola ini juga menciptakan sekitar 824.000 lapangan kerja penuh waktu di berbagai negara.Proyeksi tersebut berasal dari studi dampak ekonomi dan sosial FIFA yang dikutip dari World Economic Forum (WEF), Sabtu (30/5), turnamen sepak bola terbesar di dunia itu juga diperkirakan menghasilkan output ekonomi sebesar USD 80,1 miliar, menarik sekitar 6,5 juta penonton secara langsung, memicu pengeluaran terkait acara sebesar USD 13,9 miliar, serta menambah penerimaan pemerintah hingga USD 9,4 miliar.Tak hanya itu, FIFA memperkirakan Piala Dunia 2026 akan menghasilkan manfaat sosial senilai USD 8,28 miliar. Studi tersebut juga menghitung Social Return on Investment (SROI) sebesar 3,64, yang berarti setiap USD 1 investasi yang terkait dengan penyelenggaraan turnamen berpotensi menghasilkan USD 3,64 nilai sosial bagi masyarakat.Bagi WEF, angka-angka tersebut menunjukkan bahwa olahraga kini telah berkembang menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi global.Dalam laporan Sports for People and Planet, WEF memperkirakan nilai ekonomi olahraga dunia akan meningkat dari sekitar USD 2,3 triliun pada 2025 menjadi USD 3,7 triliun pada 2030 dan melonjak hingga USD 8,8 triliun pada 2050. Dengan laju pertumbuhan tahunan rata-rata lebih dari 10 persen, industri olahraga dipandang sebagai salah satu sektor ekonomi dengan prospek paling menjanjikan dalam beberapa dekade mendatang.Ekonomi olahraga sendiri jauh lebih luas dibanding sekadar pertandingan atau kompetisi. WEF membaginya ke dalam sejumlah sektor inti seperti olahraga profesional dan elite, wisata olahraga, penjualan perlengkapan olahraga, serta aktivitas olahraga masyarakat.Mantan pemain sepak bola Gilberto Silva foto bersama Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Ketua PSSI Erick Thohir membuka tirai Trophy Tour by Coca-Cola di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (22/1/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparanDi luar itu, terdapat pula industri pendukung yang semakin besar kontribusinya, mulai dari penyiaran dan layanan streaming, layanan olahraga, perangkat wearable dan teknologi olahraga, nutrisi, hingga industri gim. Keseluruhan ekosistem tersebut menciptakan efek berganda yang menjalar ke berbagai sektor ekonomi.Masuk Jajaran Penggerak Ekonomi DuniaOptimisme terhadap ekonomi olahraga juga tercermin dalam laporan WEF bertajuk Growth in the New Economy: Towards a Blueprint.Dalam laporan tersebut, sektor akomodasi, makanan, dan rekreasi, yang biasanya menikmati limpahan manfaat dari penyelenggaraan ajang olahraga besar, menempati posisi keempat sebagai industri dengan prospek pertumbuhan terbesar hingga 2030. Sektor tersebut hanya berada di bawah layanan teknologi informasi, manufaktur maju, serta layanan kesehatan dan medis.Sementara itu, sektor hiburan dan olahraga juga masuk dalam kelompok industri yang diproyeksikan menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi global pada dekade mendatang.WEF juga memperkirakan Amerika Utara akan menjadi kawasan dengan pertumbuhan industri hiburan dan olahraga paling pesat. Karena itu, penyelenggaraan Piala Dunia 2026 dipandang sebagai salah satu momentum ekonomi terbesar bagi kawasan tersebut.Namun, organisasi itu mengingatkan bahwa dampak ekonomi dari sebuah ajang olahraga tidak terjadi secara otomatis."Olahraga adalah katalis, bukan jaminan. Kekuatan transformasinya nyata dan telah terbukti. Namun, manfaat tersebut hanya dapat terwujud melalui kepercayaan, keterbukaan, dan keyakinan masyarakat, bukan sekadar kapasitas stadion," tulis WEF.Ilustrasi Trophy Piala Dunia 2022 Qatar. Foto: ShutterstockDengan kata lain, keberhasilan sebuah turnamen besar tidak hanya ditentukan oleh jumlah penonton atau kemegahan infrastruktur, melainkan juga oleh kemampuan kota dan negara tuan rumah memanfaatkan momentum tersebut untuk pembangunan jangka panjang.Kekhawatiran Menjelang Kick-offMeski begitu, menjelang kick-off Piala Dunia, sejumlah kota tuan rumah di Amerika Serikat justru mulai khawatir lonjakan wisatawan yang selama ini diharapkan tidak akan sebesar proyeksi awal.Laporan Financial Times yang dikutip WEF menyebut tingginya harga tiket, kekhawatiran inflasi, serta fenomena yang disebut sebagai Trump slump membuat sebagian penggemar mengurungkan niat untuk datang langsung ke stadion. Akibatnya, tarif hotel di sejumlah kota tuan rumah, mulai dari Atlanta hingga San Francisco, dilaporkan turun sekitar sepertiga dibandingkan ekspektasi sebelumnya.Fenomena tersebut dinilai cukup kontras dengan proyeksi jangka panjang industri olahraga yang justru menunjukkan tren pertumbuhan kuat, khususnya di Amerika Utara.Mengubah Nasib KotaMeski menghadapi tantangan jangka pendek, WEF menilai sejarah menunjukkan bahwa olahraga dapat menjadi alat transformasi ekonomi yang efektif ketika didukung kebijakan yang tepat.Salah satu contoh yang disoroti adalah Wrexham, kota bekas pertambangan di Wales yang mendunia setelah klub sepak bolanya diakuisisi aktor Hollywood Ryan Reynolds dan Rob McElhenney.Kisah kebangkitan klub tersebut kemudian diangkat dalam serial dokumenter Welcome to Wrexham dan memicu lonjakan perhatian global terhadap kota tersebut.Penelitian University of Michigan yang diterbitkan dalam jurnal Communication & Sport menemukan bahwa pada September 2022, Wrexham memiliki tingkat pekerjaan terendah ketiga di Wales. Namun pada Maret 2024, kota itu justru mencatat tingkat pekerjaan tertinggi.Belanja wisatawan di Wrexham mencapai USD 204,5 juta pada 2022 atau meningkat 51 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, pendapatan tahunan klub melonjak dari kurang dari USD 4 juta sebelum akuisisi menjadi sekitar USD 45,1 juta pada musim 2024-2025.Para peneliti menyimpulkan bahwa perubahan tersebut bukan sekadar kebetulan. Setelah memperhitungkan berbagai faktor ekonomi yang memengaruhi wilayah Wales secara keseluruhan, mereka menemukan bahwa keberhasilan klub sepak bola dan cerita yang dibangun di sekelilingnya benar-benar memberikan dampak terhadap perekonomian daerah.Menurut penelitian tersebut, klub olahraga beserta narasi yang menyertainya terbukti mampu mengubah arah perekonomian sebuah kota.Dampak serupa juga terlihat pada penyelenggaraan ajang olahraga berskala besar. Manchester, misalnya, memanfaatkan Commonwealth Games 2002 untuk merevitalisasi kawasan timur kota yang sebelumnya mengalami kemunduran industri. Investasi sekitar USd 405 juta melahirkan kawasan permukiman baru, sekolah, Manchester Aquatics Centre, hingga stadion yang kemudian menjadi markas Manchester City."Transformasi ini merupakan salah satu kisah revitalisasi kawasan paling sukses yang pernah ada di belahan bumi Barat," kata Mantan Kepala Eksekutif Dewan Kota Manchester Sir Howard Bernstein. Contoh lain datang dari Barcelona yang kerap disebut sebagai kisah sukses pemanfaatan Olimpiade sebagai alat transformasi kota.Foto IG Lionel Messi angkat trofi Piala Dunia 2022 raih like terbanyak. Foto: @leomessi/InstagramTingkat pengangguran di Barcelona turun dari 18,4 persen menjadi 9,6 persen antara 1986 hingga 1992, jauh lebih baik dibandingkan rata-rata nasional Spanyol pada periode yang sama.Jumlah wisatawan juga meningkat tajam dari 1,7 juta orang pada 1992 menjadi 8,3 juta orang pada 2015. WEF mencatat dampak ekonomi tidak langsung dari investasi Olimpiade Barcelona melampaui USD 21,9 miliar dan membantu mengubah kota pelabuhan yang sempat mengalami kemunduran menjadi salah satu destinasi wisata paling populer di kawasan Mediterania.Bukan hanya soal UangMenurut WEF, manfaat olahraga tidak hanya tercermin dalam pertumbuhan ekonomi atau penciptaan lapangan kerja.Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Systematic Reviews pada 2023 menemukan bahwa partisipasi olahraga, terutama olahraga beregu, secara konsisten berkaitan dengan tingkat depresi dan kecemasan yang lebih rendah serta tingkat kesejahteraan dan kepuasan hidup yang lebih tinggi.Karena itu, laporan Sports for People and Planet menyebut olahraga bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari infrastruktur sosial yang mampu memperkuat kohesi masyarakat.Analisis Sport England menunjukkan aktivitas fisik masyarakat sepanjang 2023-2024 menghasilkan nilai sosial sekitar USD 166 miliar hanya di Inggris. Nilai tersebut berasal dari pengurangan biaya kesehatan, perbaikan kesehatan mental, hingga meningkatnya keterhubungan sosial di masyarakat.