Satu Kaki di Indonesia, Satu Kaki di Singapura: Cerita Saya Pindah Kewarganegara

Wait 5 sec.

Dokumentasi Pribadi Muhamad KhairiTahun 2023, saya resmi menjadi warga negara Singapura. Sebelumnya, saya tumbuh besar sebagai orang Indonesia — sekolah, kuliah, dan menjalani sebagian besar hidup saya di sana. Kalau ada yang bertanya, “Gimana rasanya pindah kewarganegaraan?” jawaban paling jujur dari saya adalah: rasanya seperti hidup di antara dua dunia yang sama-sama nyata, tapi sangat berbeda.Tulisan ini bukan tentang mana yang lebih baik. Indonesia dan Singapura punya tempatnya masing-masing di hati saya. Tapi sebagai orang yang melewati transisi ini secara penuh, ada banyak hal kecil yang ingin saya bagikan — hal-hal yang mungkin nggak akan dirasakan kalau cuma sekadar bolak-balik liburan.Pertama Kali Merasakan KontrasnyaHal yang paling cepat saya sadari saat menetap di Singapura adalah kebersihannya. Bukan sekadar “lumayan bersih,” tapi benar-benar bersih sampai bikin saya canggung sendiri di awal. Buang sampah sembarangan di sini bukan cuma soal etika — ada dendanya. Aturan ketat ini membentuk perilaku publik yang otomatis. Lama-lama, saya pun ikut terbiasa: nyari tempat sampah dulu sebelum buang tisu, walaupun cuma secarik kecil.Yang kedua, biaya hidup. Ini adalah salah satu hal yang paling cepat membuat saya sadar bahwa saya nggak lagi di Indonesia. Harga makanan, kebutuhan pokok, transportasi — semuanya naik beberapa kali lipat.Tapi yang paling bikin saya berpikir lama bukan soal kebersihan atau harga, melainkan cara orang Singapura menjalani hidup: hidup gue ya hidup gue, hidup lu ya hidup lu.Ritme Hidup yang Berbeda TotalDi Indonesia, jam 5 pagi masih terasa terlalu pagi. Di Singapura, jam 5 pagi adalah waktu yang wajar untuk mulai bersiap. Orang-orang bangun cepat, tidur cepat, dan disiplin dengan waktunya sendiri.Saya masih ingat dulu pertama kali melihat orang-orang berangkat kerja di pagi hari Singapura — mereka jalan cepat, hampir seperti sedang mengejar sesuatu. Kaya ngejar goals, begitu kesan saya waktu itu. Awalnya saya pikir mereka selalu terburu-buru, tapi lama-lama saya paham: itu cara mereka hidup. Efisien, terstruktur, dan fokus.Adaptasi ke ritme ini butuh waktu. Tapi setelah beberapa tahun, saya menyadari saya sudah mulai mengikuti pola yang sama. Jalan lebih cepat. Bicara lebih to-the-point. Lebih menghargai waktu — milik sendiri dan milik orang lain.Bahasa: Singlish yang Awalnya AsingBahasa adalah tantangan tersendiri. Bahasa Inggris yang saya pelajari di sekolah ternyata bukan Bahasa Inggris yang saya dengar setiap hari di sini. Singlish punya aksen, ritme, dan kosakata sendiri — campuran Inggris, Melayu, Hokkien, Mandarin, dengan sentuhan “lah,” “lor,” dan “leh” di akhir kalimat.Awalnya pusing. Saya butuh waktu untuk menangkap maksud orang. Tapi setelah cukup lama tinggal di sini dan bergaul dengan banyak orang, saya jadi lebih mengerti — bahkan sekarang justru aksen Singlish yang paling mudah saya pahami dibandingkan aksen Inggris lainnya. Mungkin karena telinga saya sudah terbiasa.Yang Tak Bisa Diganti dari IndonesiaAda hal-hal dari Indonesia yang tak bisa benar-benar saya bawa pindah. Salah satunya, dan mungkin yang paling sederhana, adalah rasa.Kalau ditanya makanan apa yang paling saya rindukan, jawabannya tanpa ragu: nasi padang. Itu makanan favorit saya — dan meskipun di Singapura ada beberapa tempat yang jual nasi padang, rasanya tetap beda.Bukan jelek, cuma… nggak sama. Mungkin karena bumbunya, mungkin karena tangan yang masak, mungkin juga karena rasa kangennya yang bikin lidah jadi lebih sentimentil. Pada akhirnya, ada rasa yang memang hanya ada di kampung halaman.Yang Paling Saya RindukanDi balik semua adaptasi dan kenyamanan baru, ada satu hal yang nggak bisa diganti: teman-teman saya di Indonesia. Di Singapura, saya tetap punya kawan, tapi nggak sebanyak dulu — dan cara bergaulnya beda banget.Di Indonesia, persahabatan terasa lebih organik, lebih hangat, lebih nggak hitung-hitungan. Itu yang paling saya kangenin.Penutup: Di Antara Dua DuniaPindah kewarganegaraan bukan keputusan kecil, dan adaptasinya juga bukan proses cepat. Sampai sekarang, saya masih merasa berdiri di antara dua dunia — satu kaki di Indonesia tempat saya tumbuh besar, satu kaki di Singapura tempat saya membangun masa depan. Dan saya pikir, itu nggak apa-apa.Justru di antara dua budaya inilah saya belajar siapa diri saya sebenarnya.