Para ilmuwan baru saja menghapus skenario iklim terburuk—tanda aksi iklim mulai membuahkan hasil

Wait 5 sec.

Ali Majdfar/GettySkenario baru tentang perubahan iklim selalu menarik perhatian. Sebab, skenario-skenario ini akan menggambarkan seperti apa iklim dunia di masa depan, yang tentunya sangat bergantung pada seberapa cepat aksi kita mengurangi emisi saat ini.Dalam skenario iklim terbaru yang diluncurkan pada Mei ini, komite ilmiah internasional—yang merupakan tim perancang skenario iklim untuk PBB dan IPCC (Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim)—resmi menghapus skenario RCP8.5 dan penerusnya SSP5-8.5.Kedua skenario ini merupakan skenario emisi tertinggi (skenario terburuk) dalam proyeksi perubahan iklim. Skenario tersebut sebelumnya memakai proyeksi bahwa negara-negara di dunia tidak melakukan upaya apa pun untuk mengurangi emisi dan malah memperluas penggunaan bahan bakar fosil. Akibatnya, pada 2100, kadar karbon dioksida di atmosfer akan bertambah hampir tiga kali lipat dan dunia akan menjadi 4,5°C lebih panas dibandingkan masa pra-industri.Para ilmuwan iklim yang menyusun berbagai kemungkinan iklim masa depan ini menghapus skenario RCP8.5 dengan alasan yang sangat kuat. Faktor utamanya adalah karena dunia sudah mulai menunjukkan perubahan dalam mengatasi perubahan iklim. Meskipun lambat dan belum cukup, aksi iklim perlahan menunjukkan hasil nyata. Kita berhasil menghindari masa depan iklim terburuk yang dulu dianggap mungkin terjadi.Namun pekerjaan kita tentu masih jauh dari kata selesai. Emisi kita masih berada pada rekor tertinggi dalam sejarah. Pemanasan global juga semakin cepat. Tapi yang jelas, tidak seperti klaim Donald Trump dan para peragu perubahan iklim, penghapusan skenario emisi tinggi ini bukanlah tanda ada kesalahan dalam pemodelan iklim sebelumnya atau bahwa perubahan iklim hanyalah hoaks. Sebaliknya, ini adalah tanda bahwa perkembangan energi surya, angin, kendaraan listrik, dan baterai telah memperlambat pertumbuhan emisi. Berdasarkan skenario iklim terburuk sebelumnya, yaitu SSP5-8.5, suhu bumi diperkirakan akan naik sekitar 4,5°C pada tahun 2100. IPCC, CC BY-NC-ND Bagaimana skenario ini dibuat?Saat ini Bumi sudah memanas kira-kira sekitar 1,4°C dibanding zaman pra-industri. Dampak perubahan iklim nyata kita rasakan, terutama dengan cuaca yang semakin ekstrem.Karena penyebab utamanya adalah aktivitas manusia (seperti membakar batu bara, minyak, dan gas), maka manusia juga sebenarnya bisa mengurangi masalahnya untuk memperbaiki masa depan.Seperti apa masa depan itu? Apakah dunia akan terus memanas, atau akan ada aksi cepat untuk memangkas emisi dan menghentikan pemanasan? Jawaban ini akan sangat menentukan masa depan umat manusia.Memprediksi jawaban ini memang sulit. Namun sekelompok ilmuwan sudah membuat sejumlah skenario yang mewakili berbagai kemungkinan masa depan iklim.Karena masa depan tidak ada yang pasti, para ilmuwan menyusun berbagai kemungkinan jalur untuk emisi gas rumah kaca kita di masa depan. Mereka mendasarkannya pada apa yang sudah terjadi sejauh ini dan apa yang mungkin terjadi dalam politik dan teknologi selama beberapa dekade mendatang.Kemudian, mereka memilih jalur emisi yang dianggap paling masuk akal dan mengambil contoh berbagai masa depan yang kurang lebih optimistis terkait penggunaan bahan bakar fosil.Kelompok ilmiah di seluruh dunia lalu memodelkan skenario ini secara mendalam menggunakan berbagai model iklim untuk memastikan ketersediaan data yang cukup pada tingkat global, regional, dan lokal.Skenario-skenario ini tidak diberi peringkat berdasarkan kemungkinan terjadinya. Semua dianggap sebagai masa depan yang bisa terjadi. Rentang perbedaan antara skenario paling optimistis dan paling pesimistis pada 2100 punya selisih hampir 2°C. Hal ini menunjukkan betapa keputusan manusia saat ini menentukan masa depan.Kenapa penghapusan skenario RCP8.5 bikin heboh?RCP8.5 dan SSP5-8.5 adalah nama untuk skenario perubahan iklim yang paling buruk.Angka “8.5” menunjukkan proyeksi seberapa banyak (sebesar 8,5 watt per meter persegi) tambahan panas yang terjebak di bumi akibat gas rumah kaca pada 2100.Dalam skenario terburuk ini, dunia secara drastis meningkatkan penggunaan bahan bakar fosil. Akibatnya, pemanasan global bisa sangat tinggi. Para ilmuwan sebetulnya juga sudah lama memperdebatkan apakah skenario ini realistis sejak awal, tapi sebagian ilmuwan beranggapan semua itu bisa saja terjadi. Tapi kini, tidak satu pun dari skenario iklim yang baru dirilis sepesimistis RCP8.5/SSP5-8.5. Skenario terburuk sekarang memperkirakan emisi paling tinggi akan menyebabkan pemanasan sekitar 3,5°C pada tahun 2100. Meski itu tetap akan sangat buruk. Baca juga: ‘Jatah’ emisi karbon kita tinggal 3 tahun lagi, studi baru peringatkan dunia kehabisan waktu mengatasi dampak terburuk krisis iklim Para skeptikal bermain narasiPara peragu perubahan iklim langsung menggunakan penghapusan RCP8.5 sebagai pembelaan klaim mereka bahwa proyeksi iklim para ilmuwan selama ini salah. Serangan-serangan ini sengaja dibuat untuk menimbulkan keraguan terhadap ilmu iklim.Padahal jelas-jelas bahwa RCP8.5 dihapus karena penilaian objektif bahwa aksi iklim mulai menunjukkan hasil nyata mengurangi emisi. Kendati hasil terburuk berhasil dihindari, kita juga telah kehilangan peluang untuk mencapai hasil iklim terbaik.Ini terlihat dari skenario iklim terbaru yang tidak lagi memiliki jalur seoptimistis dulu. Skenario emisi terendah dari putaran proyeksi iklim besar sebelumnya adalah SSP1-1.9—satu-satunya skenario yang memenuhi tujuan Perjanjian Paris untuk menjaga pemanasan global sekitar 1,5°C.Karena emisi global belum juga menurun, skenario baru yang paling optimistis pun memprediksi pemanasan global akan tetap memuncak sekitar 1,9°C.Walaupun suhu Bumi hampir pasti akan naik melampaui 1,5°C dibanding zaman sebelum industri, harapannya kenaikan itu hanya sementara selagi manusia berupaya menurunkan kadar karbon dioksida di atmosfer agar suhu dapat kembali ke 1,5°C.Lintasan emisi kita saat ini berada di tengah-tengah. Dunia tidak menuju skenario terburuk, tetapi juga belum cukup baik untuk mencapai skenario paling optimistis. Kalau negara-negara tetap menjalankan kebijakan seperti sekarang, para ilmuwan memperkirakan suhu bumi akan naik sekitar 2.6°C pada 2100.Kamu mungkin masih bertanya-tanya, mengapa kita perlu terus memperbarui skenario iklim ini?Salah satu alasannya: fakta di lapangan terus berubah. Energi surya berkembang jauh lebih cepat dari perkiraan, tetapi teknologi fracking atau pengeboran yang semakin canggih juga membuka cadangan bahan bakar fosil baru dalam jumlah besar. Pergeseran arah politik pun membuat aksi iklim menjadi lebih mungkin atau justru lebih sulit dilakukan.Alasan lainnya adalah karena model iklim kita terus membaik. Semakin baik modelnya, semakin akurat dan rinci pula proyeksi kenaikan permukaan laut dan dampak iklim lainnya. Bagaimana kondisi iklim kita di masa depan bergantung pada seberapa cepat kita bertindak untuk mengurangi emisi. Dmitrii Marchenko/Getty Baca juga: Serangan ke Iran semakin menegaskan betapa mendesak kita beralih dari bahan bakar minyak bumi Ya, ini adalah kemajuanMenghapus RCP8.5 dari daftar kemungkinan adalah sebuah tanda kemajuan—kita menghindari skenario terburuk. Tetapi di sisi lain, proyeksi terbaru juga menunjukkan kita telah kehilangan peluang untuk mencapai masa depan terbaik.Lima tahun ke depan bisa berjalan dalam banyak cara berbeda, membawa kita ke masa depan iklim yang lebih baik atau lebih buruk. Kita harus memahami dan mempersiapkan diri menghadapi situasi apa yang akan datang—dan menggandakan upaya kita untuk menciptakan masa depan terbaik yang masih mungkin dicapai.Andrew King menerima dana dari Australian Research Council and the National Environmental Science Program.