Suasana antusiasme warga di sekitar panggung saat dalam menyambut perayaan Hari Waisak di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Jumat (29/5/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparanPerayaan menyambut Hari Raya Waisak 2570 tahun Buddha di Bundaran HI, Jakarta Pusat, bukan sekadar seremonial, Jumat (29/5).Dalam acara bertajuk Illumination of Jakarta: Glow of Peace, Bhante Dhammasubho Mahathera menyampaikan filosofi "merenung" yang begitu mendalam.Sebuah refleksi tentang melihat kebaikan dan keburukan diri dengan utuh.Renungan Bhante Dhammasubho ini disimak dengan khidmat oleh warga yang hadir di Bundaran HI.Bhante Dhammasubho menjelaskan makna merenung dalam bahasa Jawa yang ternyata luas."Merenung ini dalam bahasa Jawa nulisnya: heneng, hening, henung, henang," kata Bhante Dhammasubho."Heneng itu meneng, diam. Hening, orang yang diam itu jadi bening jiwanya," jelasnya.Bhante Dhammasubho mengatakan orang yang bening jiwanya akan mencapai "henung" yaitu mendapatkan pemahaman secara utuh tanpa bergejolak.Setelahnya, ia akan memperoleh "henang" atau kemenangan, namun tanpa mengalahkan siapa pun."Orang yang jiwanya bening, hening, jadi henung. Henung artinya paham, mudeng, ngerti, selesai, tidak bergejolak. Henang artinya menang. Menang tidak ada pihak yang dikalahkan. Itulah buah dari hening, henung, heneng, henang. Menang, tetapi tidak ada pihak yang dikalahkan," ujarnya.Laku Siddharta GautamaSuasana antusiasme warga di sekitar panggung saat dalam menyambut perayaan Hari Waisak di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Jumat (29/5/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparanMenurutnya, filosofi ini terlihat dari laku Siddharta Gautama atau Sang Buddha. Ia menerangkan bahwa Siddharta merenung untuk melihat dirinya sendiri dalam soal kebaikan maupun keburukan."Merenung akan mau dan mampu mengingat semua bentuk perbuatan baik atau perbuatan buruk masa lalunya. Yang baik-baik dikembangkan. Yang buruk-buruk dicatat, tidak untuk dibicarakan, tetapi dijadikan pelajaran agar tidak diulang-ulang lagi," katanya.Menurutnya, laku merenung Siddharta selalu relevan dalam setiap generasi. Hal itulah yang membuat ajaran Siddharta tak terlupakan hingga kini."Merenung ajakan Buddha tetap cocok di segala zaman. Sejak zaman kuno hingga zaman paling kini, abad sibuk, era ruwet, zaman reformasi. Merenung masih berguna bagi generasi kolonial hingga kini generasi milenial," ungkapnya"Siddharta Gautama menjadi orang besar, kebesarannya bertahan hingga saat ini, hingga melewati batas-batas zaman dari kuatnya merenung selama enam tahun di Hutan Uruvela sebelum berkarya dharma," katanya.Bukan MengkhayalSuasana antusiasme warga di sekitar panggung saat dalam menyambut perayaan Hari Waisak di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Jumat (29/5/2026). Foto: Ryan Iqbal/kumparanBhante Dhammasubho menggarisbawahi merenung bukanlah mengkhayal. Katanya, mengkhayal adalah membayangkan sesuatu yang tidak melekat pada dirinya."Merenung berbeda dengan mengkhayal. Mengkhayal adalah membayangkan sesuatu yang belum pernah terjadi pada dirinya," katanya.Mengkhayal justru berdampak buruk, membuat seseorang tidak mengenali dirinya sendiri."Menjadikan diri merasa bisa tapi tidak bisa merasa. Orang-orang yang hanya mengkhayal, daya pikirnya dangkal, daya ciptanya tumpul, batin mudah goyah, sulit mengenal dirinya sendiri," katanya."Orang-orang yang tidak kenal dengan dirinya sendiri sangat sulit mengenal diri orang lain hanyalah menjadikan diri sendiri orang yang merasa bisa, menjadi sombong, egois, kultus, kementus," pungkasnya.