● Dibandingkan Idulfitri, perayaan Iduladha jauh kalah meriah.● Jika dilihat dari maknanya, Iduladha bahkan bisa dinilai lebih mendalam.● Yang penting bukan masalah meriahnya, tapi bagaimana kita bisa menerapkan nilai luhur dalam Iduladha.Euforia masyarakat, baik secara langsung maupun di media sosial, gegap gempita setiap menjelang hari perayaan Idul Fitri. Pusat perbelanjaan dan para brand pun menawarkan ragam promo yang menggugah nafsu belanja masyarakat.Namun menjelang Iduladha, kita tidak merasakan kemeriahan yang sama. Meski sama-sama hari besar umat Islam yang bahkan tak kalah sakral, gaung Iduladha di ruang publik sering kali tidak sebesar Idulfitri. Dulu, penyembelihan hewan kurban menjadi pengalaman sosial yang sangat terasa di lingkungan sekitar. Warga berkumpul, bekerja bersama, memasak bersama, lalu membagikan daging kepada tetangga dan masyarakat yang membutuhkan. Iduladha ibarat hanya menjadi pestanya para peternak hewan kurban saja. Kini banyak masyarakat urban memilih layanan kurban digital atau menyerahkan seluruh proses kepada lembaga tertentu. Perlahan, Iduladha kehilangan sebagian nuansa komunal yang dulu membuatnya terasa hangat dan dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.Tak banyak promo khusus “lebaran haji” dan traffic percakapannya di media sosial pun cenderung lebih singkat. Kita hanya bisa tahu waktu lebaran haji sudah dekat jika sudah banyak pedagang hewan kurban dadakan di pinggir jalan.Padahal, secara spiritual, Iduladha memiliki makna yang sangat mendalam: tentang pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian sosial. Lalu mengapa Idulfitri justru terasa lebih ramai?Makna berkurban IduladhaIduladha berkisah tentang pengorbanan Nabi Ibrahim yang mengorbankan anaknya Nabi Ismail karena perintah Allah yang membawa pesan tentang pengorbanan hakiki umatnya terhadap tuhannya.Iduladha mengandung pesan sosial yang kuat. Daging hewan yang disembelih bukan untuk dinikmati sendiri sepenuhnya, tetapi untuk dibagikan kepada mereka yang berhak: keluarga, kerabat, tetangga, dan terutama fakir miskin. Idul Adha mengajarkan tentang melepaskan, berbagi, dan mendistribusikan rezeki kepada sesama. Meski tak semeriah dan merasa ‘wajib’ untuk mudik, bukan berarti tak ada tradisi Iduladha di masyarakat Indonesia. Toron adalah contoh tradisi mudik orang Madura di momen Iduladha. Inti dari Idul Adha adalah pengorbanan (kurban) dan ibadah haji yang fokusnya bukan bersenang-senang, melainkan berbagi daging kurban ke sesama. Suasananya lebih khidmat, tenang, dan berpusat di area masjid/tempat penyembelihan, bukan di pusat perbelanjaan atau tempat wisata.Sedangkan Idulfitri bermakna kelulusan kita setelah beribadah puasa di bulan Ramadan. Karena itu ketika hari lebaran tiba, kita merasa berhak merayakannya karena sudah “lulus” memurnikan diri. Baca juga: Melihat kembali film “Mudik” dan gambaran beban sosial saat pulang kampung Idulfitri lebih mudah dikomodifikasiKarena dianggap sebagai self reward atas menahan nafsu selama sebulan itulah, Idulfitri bisa menjelma menjadi peristiwa sosial dan ekonomi berskala besar dengan aktivitas mudik, membeli pakaian baru, menyiapkan hidangan khas sebagai wujud atas kemenangan yang telah dicapai. Masyarakat jadi lebih konsumtif sebagai bentuk euforia.Ditambah lagi, secara aturan negara, Idulfitri juga diberkahi dengan adanya tunjangan hari raya dan libur panjang. Dua hal ini tak ada di Iduladha.Berbagai variabel yang terdapat pada momen Idulfitri tersebut menunjukkan konsumsi saat Lebaran tidak lagi sekadar soal kebutuhan praktis, tetapi juga menyangkut identitas sosial dan emosional. Dalam perspektif perilaku konsumen, praktik seperti membeli pakaian baru atau menyiapkan perayaan besar sering kali menjadi bentuk symbolic consumption yaitu konsumsi untuk membangun makna dan citra sosial. Baca juga: Melawan taktik baru ‘pre-order’ produk Ramadan-Idulfitri dengan adab belanja khas Islam Karena sudah menjadi kebiasaan berskala nasional, praktik keagamaan seperti Idulfitri kini semakin beririsan dengan gaya hidup dan pasar. Sementara itu, nilai dan makna dalam Iduladha cenderung pada momen refleksi diri, meningkatkan rasa kesederhanaan, dan menerapkan rasa toleransi antar sesama.Inti perayaannya bukan pada kemeriahan visual, melainkan pada pengorbanan dan distribusi sosial melalui kurban. Nilai-nilai seperti keikhlasan dan berbagi memang penting, tetapi tidak selalu mudah diterjemahkan menjadi konten yang menarik perhatian media sosial.Alhasil, nilai-nilai yang terkandung Iduladha tak seluwes Idulfitri untuk dikomodifikasi. Industri lebih mudah membuat kampanye tentang belanja Ramadan yang bisa dikaitkan dengan konsumerisme dibanding membicarakan pengendalian diri atau solidaritas sosial.Tidak ada yang salah meski tidak semeriah IdulfitriIduladha membawa pesan yang lebih tenang ketimbang Idulfitri. Kepedulian sosial yang melekat dari Iduladha membuat kita untuk menahan dari keinginan pribadi.Jangan salah, perputaran ekonomi pada hari Iduladha juga tidak bisa dikatakan kecil. Ada jutaan transaksi jual-beli hewan kurban dengan lebih dari 608 ton bungkus plastik untuk dibagikan yang terjadi di momen ini. Untuk meningkatkan nilai pengorbanan dalam Iduladha, ada baiknya jika kita mawas diri terhadap persoalan lain yang jarang dibahas seperti food waste atau makanan terbuang. Sebab tak sedikit ada orang yang menerima daging terlalu banyak sampai akhirnya disimpan terlalu lama atau bahkan dibuang. Baca juga: Pentingnya mengendalikan konsumsi dan berbagi secara berkelanjutan saat Iduladha Perilaku konsumsi berlebihan dan sistem distribusi yang tidak efisien dapat meningkatkan jumlah limbah makanan. Akan lebih baik jika kita bisa sukarela memberikan daging kepada yang membutuhkan sekalipun daging tersebut merupakan jatah warga ataupun sebagai penyumbang hewan kurban.Tidak ada yang salah jika Iduladha tak bisa semeriah Idulfitri. Yang terpenting adalah teladan dalam Iduladha yang mencakup nilai religius, kesadaran terhadap perilaku berlebih, dan memantik rasa tanggung jawab sosial yang bisa membuat kita jadi individu yang lebih baik dan cinta terhadap saudara-saudara kita yang kurang mampu. Lusiana Ulfa Hardinawati tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.