Perang Kata-Kata Mendahului Perang Nyata

Wait 5 sec.

Ilustrasi Konstruksi Post-Truth AS serang Iran. Foto: Generated by NotebookLM AIKonstruksi Post-Truth AS: Upaya Legitimasi Serangan terhadap IranKetika bom pertama dijatuhkan atas langit Teheran pada awal 2026, Amerika Serikat (AS) tidak hanya melancarkan serangan militer, ia terlebih dahulu melancarkan serangan narasi. Jauh sebelum rudal pertama meluncur, ruang informasi publik global telah dibanjiri klaim, tuduhan, dan justifikasi—yang bila diperiksa secara teliti—berdiri di atas fondasi yang rapuh. Inilah wajah post-truth dalam wujudnya yang paling konsekuensial: bukan sekadar hoaks di media sosial, melainkan juga kebohongan terstruktur yang digunakan untuk melegitimasi perang.Walter Lippmann, hampir seabad lalu, sudah memperingatkan bahwa apa yang kita sebut realitas dalam politik sesungguhnya adalah pseudo-environment—gambaran dunia yang dikonstruksi, bukan dunia itu sendiri. Dalam konflik AS–Iran 2026, gambaran itulah yang menjadi medan perang sesungguhnya.Para akademisi komunikasi mengenal apa yang Peter Berger dan Thomas Luckmann sebut sebagai konstruksi sosial realitas: bahwa “kenyataan” bukanlah sesuatu yang objektif dan given, melainkan dibentuk melalui narasi yang diulang-ulang hingga menjadi kebenaran yang diterima. Pemerintahan Trump tidak sekadar berbohong tentang Iran—ia secara sistematis membangun realitas alternatif, di mana Iran adalah ancaman eksistensial yang harus segera ditindak. Narasi itu direpetisi dalam pidato, pernyataan pejabat, dan framing media pro-pemerintah hingga publik Amerika menerimanya sebagai fakta.Yang memperkuat proses ini adalah mekanisme yang oleh Maxwell McCombs katakan sebagai agenda-setting: media tidak memberitahu kita apa yang harus dipikirkan, tetapi tentang apa kita harus berpikir. Saat Trump berulang kali mengangkat “ancaman nuklir Iran” dalam setiap forum publik, ia memastikan isu itu menempati posisi paling menonjol dalam benak publik—menggeser isu lain, mempersempit ruang perdebatan, dan mempersiapkan legitimasi bagi keputusan yang sudah ia buat.Narasi Justifikasi Legitimasi Agresi Militer AS terhadap IranIlustrasi AS-Israel vs Iran. Foto: Dok. ChatGPTDengan kacamata teori framing Robert Entman—bahwa setiap isu didefinisikan, didiagnosis, dievaluasi, dan diusulkan solusinya melalui narasi—kita bisa membedah lima konstruksi narasi yang digunakan AS untuk melegitimasi perangnya.Pertama, narasi “Iran hampir punya senjata nuklir.” Trump berulang kali menyatakannya sebagai dalih utama. Namun, Annual Threat Assessment (ATA) 2025 yang diterbitkan oleh Office of the Director of National Intelligence (ODNI)—yakni badan yang mengkoordinasikan 17 lembaga intelijen AS termasuk CIA dan DIA—secara eksplisit menyatakan bahwa Iran belum membuat keputusan untuk mengembangkan senjata nuklir, dan Pemimpin Tertinggi Khamenei belum mengotorisasi kembali program senjata nuklir yang ditangguhkan sejak 2003.Lalu, muncul satu momen yang lebih mengungkap lagi. Pada 18 Maret 2026, tiga minggu setelah serangan dimulai, Director of National Intelligence, Tulsi Gabbard, bersaksi di hadapan Komite Intelijen Senat AS. Dalam kesaksiannya, Gabbard sendiri menyatakan bahwa akibat serangan AS pada Juni 2025, program pengayaan nuklir Iran telah hancur, dan "tidak ada upaya sejak itu untuk membangun kembali kemampuan pengayaan mereka.Artinya, narasi yang dibangun Pemerintah AS terbantahkan oleh badan intelijennya sendiri. Dalam bahasa Entman, ini adalah framing yang membangun urgensi melalui sebuah premis yang tidak pernah ada.Kedua, narasi “diplomasi sudah gagal”—mungkin kebohongan paling telanjang dalam konflik ini. Pada 26 Februari 2026, Menteri Luar Negeri Oman—mediator perundingan—menyatakan AS dan Iran mencapai kemajuan substansial dan sepakat untuk bertemu kembali. Namun keesokan harinya, Trump menyatakan tidak puas dan serangan pun diluncurkan. Oman kemudian menyatakan dirinya “terkejut dan kecewa” karena negosiasi aktif masih berlangsung saat bom dijatuhkan. Berger dan Luckmann menyebut ini legitimasi retrospektif: realitas dikonstruksi bukan berdasarkan fakta, melainkan untuk membenarkan keputusan yang sudah dibuat sebelumnya.Ketiga, inkonsistensi justifikasi. Pejabat Trump menawarkan berbagai alasan yang saling bertentangan: ancaman nuklir, pembalasan terhadap aset AS, penghancuran kapasitas rudal, pengamanan sumber daya alam, pergantian rezim, hingga kebebasan Selat Hormuz. Yang paling mencolok: pada 2 April 2026, Trump menyatakan tidak lagi “peduli” dengan stok uranium Iran—padahal itu dalih perangnya. Narasi bukan lagi penjelasan; ia menjadi alat retorika yang dibuang sesuai kebutuhan. Dalam narrative paradigm Walter Fisher, narasi yang baik harus memiliki narrative fidelity—konsistensi dengan pengalaman nyata. Justifikasi perang AS jelas gagal uji ini.Keempat, justifikasi kemanusiaan. AS menggunakan represi pemerintah Iran terhadap demonstran sebagai salah satu pembenar. Fakta represi itu ada. Namun, standar ini tidak pernah digunakan AS terhadap Arab Saudi, Mesir, atau Bahrain. Selektivitas inilah yang mengungkap bahwa justifikasi kemanusiaan berfungsi sebagai cover story, bukan motivasi sesungguhnya—sebuah frame yang diaktifkan hanya ketika menguntungkan.Kelima, dimensi religius. Pada 6 April 2026, Trump menegaskan bahwa Tuhan mendukung perang ini “karena Tuhan itu baik.” Menteri Pertahanan Pete Hegseth bahkan menyamakan operasi militer di Iran dengan kebangkitan Yesus. Dalam kajian komunikasi, penggunaan legitimasi ilahi untuk membenarkan kekerasan negara adalah bentuk extreme framing yang menutup ruang perdebatan rasional sepenuhnya. Ketika Tuhan dijadikan pembenar, tidak ada argumen kontra yang dapat diterima.Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth berbicara di KTT "Shield of the Americas" di Miami, Florida, AS, Sabtu (7/3/2026). Foto: Kevin Lamarque/REUTERSBungkam oleh Spiral KeheninganYang tak kalah penting adalah mengapa suara-suara kritis begitu sunyi. Elisabeth Noelle-Neumann dalam teorinya tentang spiral of silence menjelaskan bahwa individu yang merasa pendapatnya minoritas cenderung memilih diam—memperkuat ilusi konsensus atas narasi dominan. Dalam kasus ini, mereka yang meragukan justifikasi perang—termasuk dari komunitas intelijen sendiri—menghadapi tekanan sosial dan politik yang kuat untuk bungkam. Hasilnya: publik menerima narasi perang bukan karena ia benar, melainkan karena tidak ada suara lain yang cukup keras untuk membantahnya.Stephan Lewandowsky menyebut ini sebagai kunci keberhasilan komunikasi post-truth: repetisi, bukan kebenaran, yang menentukan kepercayaan publik. Trump memahaminya secara intuitif. Semakin sering “ancaman Iran” disebut, semakin besar kemungkinan publik mempercayainya—terlepas dari apa yang dikatakan data intelijen.Pola Lama, Skala BaruIlustrasi hulu ledak nuklir milik Amerika Serikat. Foto: ShutterstockBagi mereka yang memperhatikan sejarah, pola ini bukan asing. Narasi senjata nuklir yang digunakan untuk menyerang Iran memiliki kemiripan struktural yang mencolok dengan klaim Senjata Pemusnah Massal (WMD) yang digunakan Bush untuk menginvasi Irak pada 2003. Dalam kedua kasus, klaim utama dibantah oleh badan pemeriksa independen, urgensi buatan diciptakan untuk mencegah perdebatan publik yang bermakna, dan setelah perang dimulai, justifikasi terus berubah ketika dalih awal terbukti runtuh.Perbedaannya kali ini adalah infrastruktur penyebaran narasi yang jauh lebih canggih: AI generatif yang memungkinkan produksi konten pendukung secara massal, serta algoritma media sosial yang secara struktural memperkuat echo chamber—membuat kondisi post-truth jauh lebih sulit dilawan dibanding dua dekade lalu.Mengapa Ini Penting bagi KitaIlustrasi Garuda Pancasila. Foto: ShutterstockIndonesia, sebagai negara demokrasi dengan populasi peringkat empat terbesar di dunia—serta tradisi politik luar negeri bebas-aktif—tidak bisa berdiam diri di hadapan fenomena ini. Pertanyaannya bukan sekadar: Apakah narasi AS tentang Iran benar atau salah? Pertanyaan yang lebih pentingnya: Bagaimana kita—sebagai masyarakat, akademisi, dan jurnalis—membangun kapasitas untuk membaca dan menolak narasi yang digunakan untuk melegitimasi kekerasan?Dalam era post-truth, literasi media bukan lagi kemewahan intelektual—ia adalah kebutuhan demokratis. Setiap narasi yang mengeklaim bahwa perang adalah satu-satunya pilihan, layak dicurigai. Setiap justifikasi yang berubah-ubah seharusnya memicu pertanyaan, bukan kepercayaan. Dan setiap klaim yang menisbahkan mandat ilahi kepada kekerasan negara seharusnya ditolak—bukan karena tidak religius, melainkan karena ia melampaui batas nalar dan hukum internasional.Perang Sesungguhnya Ada di Ruang InformasiIlustrasi simulasi perang. Foto: Pathdoc/fotoliaSteve Tesich—yang pertama kali memperkenalkan istilah post-truth pada 1992—menulis dengan nada prihatin bahwa kita, sebagai masyarakat, telah memilih untuk “menjadi bebas dari fakta yang menyakitkan.” Tiga dekade kemudian, kebebasan dari fakta itu kini memiliki korban nyata: nyawa manusia, kedaulatan bangsa, dan kepercayaan publik terhadap institusi.Konflik AS–Iran 2026 mengajarkan bahwa pertarungan sesungguhnya tidak terjadi di medan perang, tetapi di ruang informasi, di mana narasi diproduksi, direpetisi, dan dikonsumsi jauh sebelum peluru pertama ditembakkan. Dan dalam pertarungan itu, pemahaman kita tentang bagaimana komunikasi bekerja—bagaimana framing membentuk persepsi, bagaimana agenda-setting mempersempit ruang berpikir, bagaimana spiral of silence membungkam suara kritis—adalah senjata paling penting yang kita miliki.Kita semua adalah pihak yang berkepentingan.