Kala Goresan Berbicara: Kontribusi Journaling dalam Merefleksikan Kepribadian

Wait 5 sec.

sumber: https://www.pexels.com/photo/close-up-shot-of-a-pen-on-a-notebook-11154571/Pernah nggak sih kita bertanya mengapa seseorang melakukan aktivitas journaling? Dan apa yang direfleksikan dari kepribadian penulis dalam tulisannya? Mari kita bahas.Journaling adalah aktivitas di mana seseorang mencurahkan segala bentuk pengalaman, perasaan, emosi dan pikiran dalam bentuk tulisan. Para penggiat journaling biasanya menggunakan media tulis seperti buku tulis, notebook, binder, buku saku, dan lain sebagainya. Journaling hampir memiliki persamaan dengan menulis diary (buku harian), namun lebih reflektif dalam menangkap perasaan dan pemikiran penulis. Journaling juga dianggap mampu menyajikan sebuah cermin yang merefleksikan hati dan pemikiran, serta memperoleh akses terhadap kebermaknaan internal dari sang penulis (Hubbs & Brand, 2005). Dengan demikian, aktivitas journaling dapat dikatakan memiliki kemampuan dalam menangkap gambaran dari pemikiran, perasaan dan pengalaman yang merupakan penyusun kepribadian sang penulis. Apa Jenis Journaling yang Ideal dalam Menangkap Kepribadian Penulis?Di saat kita menyatakan journaling merupakan wadah ekspresi mendalam dari kepribadian penulis. Kita perlu mengetahui jenis aktivitas journaling seperti apa dulu yang dianggap ideal dan dapat merefleksikan kepribadian penulis. Goldsmith (1996) dalam Hubbs dan Brand (2005) mendeskripsikan aktivitas journaling dalam 3 jenis, yaitu:The dialogue journal, di mana individu melakukan semacam dialog privat menggunakan media journaling dengan didampingi profesional atau ahli. Sehingga setelah individu menuliskan perasaannya, pendamping profesional akan memberikan komen yang nanti akan direspons kembali oleh penulis. The class interactive (team) journal, hampir sama dengan dialogue journal, namun ide atau perasaan yang ditulis oleh penulis disampaikan kepada forum individu (kelompok). Hal ini bertujuan untuk dapat menyampaikan ide yang secara bersamaan meningkatkan interaksi dengan kelompok sosial. The personal journal, merupakan pesan naratif yang mendeskripsikan "inner processes" dari individu. Sehingga tidak melibatkan "sounding board effect" seperti jenis aktivitas journal sebelumnya. Dengan demikian, penulis boleh jadi lebih baik dalam memproses ulang suatu konsep yang sama secara berulang dengan melibatkan keyakinan diri akan ide yang diterima. Berdasarkan ketiga jenis aktivitas journaling di atas dapat dikatakan bahwa dialogue dan class interactive journal cukup ideal dalam membantu individu dalam memproses baik secara internal maupun sosial dari kepribadiannya. Namun terdapat keterbatasan yang cukup krusial yakni "tidak adanya keintiman dalam berpesan" akibat dari individu yang boleh jadi berusaha terlihat baik atau terlihat buruk (guna memperoleh simpati orang lain), seperti dalam kasus Hawthrone effect (Kusdiyati & Fahmi, 2020). Sehingga dapat menimbulkan penulis tidak dapat mengekspresikan apa yang sebenarnya dirasakan oleh dirinya. Dengan demikian, personal journal cukup dapat menangkap kepribadian dan perubahan suasana hati dari penulis dikarenakan sifatnya yang langsung di bawah pengaruh dari pengalaman orang yang menulisnya (Allport, 1951). Apa yang Direfleksikan dari Tulisan terhadap Kepribadian Penulis?sumber: https://images.pexels.com/photos/895465/pexels-photo-895465.jpegSaat kita memilih aktivitas journaling sebagai media untuk mencurahkan perasaan dan pemikiran dari pengalaman yang didapat sebelumnya. Terdapat unsur kepribadian yang ditampakkan dari setiap goresan pena kita. Seperti cermin kaca yang merefleksikan penampilan visual, tulisan pada kertas merefleksikan dunia batin dan penciptaan makna yang dicurahkan individu (Hubbs & Brand, 2005). Individu yang memiliki kecenderungan terhadap kepribadian cemas (neuroticism) boleh jadi lebih sering menulis kalimat reflektif yang penuh emosional guna menguraikan konflik batin yang dialaminya. Sebaliknya, mereka yang cenderung terbuka terhadap pengalamannya (openness) lebih sering menggunakan diksi yang kaya akan metafora-imajinatif dan luas dalam memandang suatu masalah. Melalui tulisan, individu tanpa sadar sedang menyusun potongan puzzle dari kepribadiannya yang berserakan menjadi kesatuan yang utuh, sehingga memperlihatkannya apa yang direfleksikan dari pengalaman yang telah dilaluinya. Dengan demikian, aktivitas journaling merupakan cerminan dari kepribadian sang penulis, serta dapat menangkap progres dan perkembangan dari suasana hati sang penulis (Allport, 1951; Hubbs & Brand, 2005)Manfaat dari Journaling Selain Merefleksikan Kepribadian KitaSelain sebagai sumber informasi yang sangat berharga dalam keperluan untuk menggali kepribadian seseorang (Mulyono, 2020), banyak sekali manfaat lain yang dapat kita peroleh dari aktivitas journaling. Seperti yang dilansir dari verywellhealth.com bahwa aktivitas journaling dapat meningkatkan kesadaran diri (self-awareness), kecerdasan emosional (emotional intelligence), kepercayaan diri (self-confidence), dan kemampuan dalam mengukur jarak kemampuan diri (self-distance). Menurut Bergström (2026) journaling dapat mereduksi (mengurangi) gejala depresif dan meningkatkan kesejahteraan psikologis (psychological wellbeing). Sehingga melalui aktivitas journaling seorang penulis dapat memperoleh kebermanfaatan yang berkaitan kepribadian dan kesehatan mental. Serta aktivitas journaling dapat membantu individu dalam capaian akademik. Seperti penelitian Tulaktondok dkk. (2025) yang menyatakan bahwa aktivitas journaling dapat membantu siswa dalam memahami hubungan antara pengalaman pribadi dengan pembelajaran akademik, serta merupakan prediktor yang signifikan terhadap motivasi siswa untuk belajar. Oleh karena itu, manfaat dari aktivitas journaling sangat erat kaitannya dengan abilitas (kemampuan) individu dalam mengkoneksikan antara proses internal dan eksternal realitas penulis (Hubbs & Brand, 2005).