Setiap kali datang lebaran haji atau bulan Dzulhijjah datang, pikiran di otak kita adalah aneka makanan dari olahan daging sapi ataupun daging kambing. Tentu itu semua bukan tanpa alasan, karena di setiap masjid saat lebaran haji akan mengadakan pemotongan hewan kurban berupa sapi atau kambing. Bagi sebagian besar murid yang ada di setiap sekolah pasti yang terpikirkan adalah liburan dan makan enak.Pernah tidak terpikir oleh kita sebagai orang tua atau sebagai guru merenung sejenak? Di balik riuhnya penyembelihan hewan kurban, ada sebuah laboratorium raksasa yang siap mendidik anak-anak kita. Lebaran haji atau Idul Adha bukan sekadar ritual tahunan tanpa makna. Ini adalah sebuah kurikulum kehidupan yang nyata, yang tak akan bisa tergantikan oleh canggihnya dunia digital.Di sekolah, kita sering memberikan tugas kepada murid kita untuk menghafal perkalian dan juga pembelajaran lainnya yang sifatnya pasti diulang-ulang setiap tahun. Namun, kita lupa ada satu kurikulum yang harus dikenalkan kepada murid kita yaitu kurikulum empati. Murid kita yang sudah terkena canggihnya teknologi, dan juga banyaknya media sosial, membuat mereka terbiasa dengan yang instan dan berpusat pada diri sendiri.Moment Idul Adha, atau lebaran haji ini adalah moment yang tepat bagi murid kita untuk mengerem ego mereka. Dengan adanya Idul Adha ini, murid diharapkan belajar nilai fundamental.Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bukan sekadar sebuah dongeng tidur. Itu adalah pelajaran level tertinggi tentang bagaimana melepaskan sesuatu yang paling kita cintai demi perintah yang besar. Bagi murid, kita bisa mengajarkan tentang berbagi. Murid belajar untuk berbagi uang jajan demi tercapainya rasa keikhlasan (lepas dari rasa memiliki) dari diri mereka.Saat daging kurban dibagikan, tidak ada yang peduli berapa followers media sosial mereka. Semua mengantre dengan derajat yang sama. Murid akan melihat bahwa esensi manusia adalah saling memberi dan menghargai, tanpa pandang bulu.Kita sebagai seorang guru, harus membawa “bau” kurban ke dalam kelas. Saat ini, guru tidak bisa membawa semangat ini ke dalam kelas dengan cara mendikte mereka, “kalian harus rajin berbagi ya!” cara itu sudah kuno dan membosankan. Pendidikan terbaik adalah keteladanan yang dipraktikkan, bukan sekadar teori yang diujikan.Banyak sekolah yang menggalang dana sukarela dari murid untuk membeli kambing atau sapi. Ini keren banget! Dari sini, murid belajar bergotong-royong. Mereka sadar uang jajan mereka yang barangkali hanya beberapa ribu rupiah, jika dikumpulkan, bisa membeli sesuatu yang besar dan bermanfaat bagi orang banyak.Sesekali, ajak murid-murid membagikan daging kurban hasil patungan mereka ke warga yang membutuhkan. Biarkan mereka melihat senyum manis di wajah seorang nenek tua yang jarang sekali makan daging sepanjang tahun. Pengalaman ini akan memberikan pembelajaran yang berharga bagi para murid. Mereka melihat, mendengar, dan merasakan langsung rasa syukur orang lain, dan akan menancap kuat di memori emosional mereka hingga dewasa.Ujian-ujian tulis yang dilakukan di sekolah bisa remedial, tugas sekolah bisa dicontek, tetapi karakter dan kepedulian sosial tidak bisa dipalsukan. Lebaran haji atau Idul Adha mengajarkan kita, para pendidik, bahwa tugas kita bukan hanya mencetak murid yang pintar secara akademis, melainkan mencetak mereka menjadi manusia yang “humanis”.Jangan biarkan hari kurban lewat begitu saja sebagai rutinitas membakar sate bersama keluarga. Jadikan moment ini sebagai ruang kelas terbuka untuk melatih otot-otot empati murid-murid kita. Sebab, sepintar apa pun murid kita, kepintaran itu tidak akan membawa perubahan apa-apa jika mereka tidak memiliki jiwa yang mau berkorban untuk sesama.Jadikan moment Hari Raya Kurban sebagai ruang kelas terbuka untuk melatih otot-otot empati murid-murid. (foto pribadi)