Jejak Penghuni Kos Sebelumnya: Harta Karun atau Sampah?

Wait 5 sec.

Ilustrasi Anak Kos Pindahan (sumber: cottonbro studio/pexels.com)Kos bukan hanya sekadar tempat untuk berteduh, tetapi menjadi rumah kedua untuk beristirahat setelah menjalani aktivitas sehari-hari. Bagi semua mahasiswa terutama perantau, mencari kos nyaman menjadi tantangan tersendiri. Kita dituntun untuk menjadi mandiri, disiplin, dan mencari cara agar mudah beradaptasi dengan lingkungan baru setelah jauh dari kampung halaman.Kos dengan lokasi yang strategis dekat kampus pun menjadi incaran kami untuk bisa menghemat biaya transportasi atau umpamanya jalan kaki sebagai olahraga sehat menuju kampus di pagi hari. Selain memperhitungkan lokasi, kebersihan dan kenyamanan menjadi poin penting yang dipertimbangkan untuk memilih kos baru. Namun, terkadang tidak semua kamar kos dalam kondisi benar-benar siap dihuni.Barang Peninggalan Penghuni Lama Masih Tersisa?Meski saya belum pernah pindah kos dari awal semester hingga akhir semester di Yogyakarta, saya sering mendengar cerita teman-teman yang beberapa kali berpindah-pindah kos demi menyesuaikan isi dompet atau 'gengsi' mencari kos dengan fasilitas tinggi dan harga lumayan. Beberapa teman saya cukup sering menemukan barang-barang dari penghuni sebelumnya.Mulai dari gantungan baju, kardus, rice cooker, jajanan hingga tali rafia pun masih kerap ditemukan berada di sudut kamar dengan keadaan sudah berdebu karena tidak pernah dibersihkan. Berbeda dengan peraturan kos saya, barang penghuni di sini akan langsung di buang jika sudah lebih dari satu minggu tidak diambil. Menurut pemilik kos, hal tersebut dilakukan agar penghuni baru lebih nyaman untuk tinggal tanpa perlu kerepotan membersihkan kamar terlebih dahulu.Beberapa penghuni menganggap barang tersebut menjadi "berkah" karena bisa dimanfaatkan kembali. Namun, ada juga yang merasa bahwa barang itu justru membuat kamar kelihatan kurang bersih dan tidak nyaman untuk ditempati.Salah satu teman saya di Semarang mengaku pernah menemukan tali rafia yang kemudian dia manfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari di kos. "Bisa jadi sampah atau harta karun. Kemarin aku dapatnya tali rafia yang masih bisa dipakai untuk jemuran. Tapi kalau kebanyakan, sisanya cuma jadi sampah," ujarnya.Pendapat serupa juga disampaikan oleh teman perantauan saya di Yogyakarta yang cukup sering berpindah kos. Menurutnya, tidak semua barang dari penghuni sebelumnya itu layak dipakai kembali oleh penghuni baru."Tergantung barangnya. Kalau barangnya masih dalam kondisi layak digunakan, itu harta karun. Tapi kalau barang sekali pakai atau barang yang sensitif untuk dipakai orang lain, ya jadi sampah," katanya.Dampak dari kebiasaan Kecil bagi Penghuni BaruFenomena barang tertinggal di kamar kos sebenarnya bukan rahasia umum lagi karena sudah cukup sering terjadi, terutama pada kos yang dekat dengan lokasi kampus yang memiliki pergantian penghuni dalam waktu singkat.Beberapa penghuni terkadang lupa untuk membawa barang saat pindahan, tetapi juga ada yang sengaja meninggalkan karena merasa barang tersebut sudah tidak layak digunakan atau sulit dibawa pulang.Kebiasaan kecil inilah memberikan kesan kurang nyaman bagi penghuni selanjutnya karena perlu mengeluarkan tenaga tambahan untuk membersihkan ulang kamar sebelum benar-benar ditempati. Mulai dari menyapu, memilah barang bekas, hingga merapikan sudut kamar yang masih dipenuhi barang peninggalan penghuni sebelumnya.Bagi saya pribadi yang cukup memperhatikan soal kebersihan, hal ini sebenarnya bisa kita hindari jika setiap penghuni memiliki rasa tanggung jawab sebelum benar-benar pergi meninggalkan kamar kos. Meski hal ini terlihat sepele, anggapan seperti "nanti biar penghuni baru aja yang bersihkan" justru malah mengganggu kenyamanan penghuni berikutnya.