Kontras pembangunan modern dengan kehidupan masyarakat kecil (sumber: https://unsplash.com/id)Indonesia memang terus bergerak maju. Jalan tol dibangun di banyak daerah, layanan publik mulai serba digital, dan teknologi semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pemerintah juga terus menyampaikan pertumbuhan ekonomi sebagai tanda bahwa Indonesia sedang berkembang menuju negara maju. Di berbagai kota, pembangunan terlihat semakin cepat. Pusat perbelanjaan bertambah, transportasi semakin modern, dan layanan digital mulai memudahkan masyarakat dalam banyak hal.Namun di tengah berbagai kemajuan itu, muncul satu pertanyaan yang semakin sering terdengar di masyarakat: apakah keadilan benar-benar ikut berkembang bersama pembangunan?Belakangan ini, publik ramai membicarakan berbagai kasus besar yang melibatkan pejabat atau tokoh penting. Proses hukumnya berjalan lama, penuh perdebatan, dan sering kali membuat masyarakat bertanya-tanya. Di sisi lain, rakyat kecil justru sering terlihat lebih cepat diproses hukum dan menerima hukuman berat, bahkan untuk persoalan yang nilainya jauh lebih kecil.Perbedaan inilah yang perlahan membuat banyak masyarakat merasa bahwa hukum belum sepenuhnya berpihak pada keadilan. Masyarakat mulai melihat adanya jarak antara hukum dan rasa keadilan yang mereka harapkan. Hukum memang tetap berjalan, tetapi tidak semua orang merasa diperlakukan sama di hadapannya.Ketika Rakyat Mulai Kehilangan KepercayaanHari ini, rasa kecewa masyarakat terhadap hukum semakin mudah terlihat, terutama di media sosial. Banyak orang mulai berani menyampaikan kritik karena merasa ada perbedaan perlakuan antara rakyat biasa dan mereka yang memiliki kekuasaan atau jabatan. Bahkan tidak sedikit masyarakat yang mulai pesimis terhadap proses hukum karena merasa keputusan akhirnya sering tidak sesuai dengan rasa keadilan publik.Masyarakat tentu memahami bahwa setiap kasus memiliki proses yang berbeda. Namun persoalannya bukan hanya soal benar atau salah. Yang menjadi perhatian publik adalah bagaimana hukum terlihat lebih cepat menyentuh rakyat kecil dibanding mereka yang memiliki pengaruh besar.Kondisi seperti ini perlahan membentuk pandangan bahwa hukum masih tajam ke bawah, tetapi tumpul ke atas. Ungkapan tersebut memang bukan hal baru, tetapi sampai hari ini masih sering muncul dalam berbagai perbincangan masyarakat. Hal itu menunjukkan bahwa persoalan keadilan belum benar-benar selesai.Akibatnya, kepercayaan masyarakat terhadap hukum perlahan mulai menurun. Survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) tahun 2025 bahkan menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan publik terhadap lembaga penegak hukum seperti pengadilan dan kepolisian masih berada di kisaran 65–66 persen. Angka itu menunjukkan bahwa masih ada banyak masyarakat yang belum sepenuhnya percaya terhadap penegakan hukum di Indonesia.Jika kondisi seperti ini terus terjadi, dampaknya bukan hanya soal hukum. Hubungan antara negara dan masyarakat juga bisa semakin renggang. Sebab masyarakat tidak hanya ingin melihat pembangunan fisik, tetapi juga ingin merasa diperlakukan setara di hadapan hukum.Di sisi lain, rasa kecewa masyarakat sebenarnya bukan muncul tanpa alasan. Banyak masyarakat kecil yang merasa sulit mendapatkan akses hukum yang layak. Ada yang tidak memahami proses hukum, ada pula yang tidak memiliki biaya untuk mendapatkan pendampingan hukum yang baik. Akibatnya, mereka sering berada di posisi yang lemah ketika berhadapan dengan hukum.Pembangunan Bukan Sekadar Soal EkonomiSelama ini pembangunan sering diukur lewat pertumbuhan ekonomi, investasi, atau banyaknya pembangunan infrastruktur. Padahal pembangunan seharusnya punya makna yang lebih luas dari itu. Kemajuan sebuah negara tidak cukup hanya dilihat dari banyaknya jalan tol, gedung tinggi, atau teknologi yang semakin canggih.Pembangunan juga harus menghadirkan rasa aman, keadilan, dan kesejahteraan yang benar-benar dirasakan masyarakat.Dalam konsep pembangunan manusia (human development), keberhasilan sebuah negara tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kualitas hidup, rasa aman, dan keadilan sosial yang dirasakan masyarakat. Ekonom peraih Nobel, Amartya Sen, juga menjelaskan bahwa pembangunan bukan sekadar meningkatkan pendapatan negara, tetapi bagaimana negara mampu membuat masyarakat hidup lebih sejahtera dan merasa memiliki kebebasan yang adil.Karena itu, pembangunan akan kehilangan makna jika masyarakat masih merasa diperlakukan berbeda di hadapan hukum.Fenomena yang terjadi hari ini menunjukkan bahwa modernisasi belum tentu berjalan seiring dengan keadilan sosial. Negara mungkin berhasil menghadirkan teknologi yang semakin canggih dan pembangunan yang semakin luas, tetapi belum tentu berhasil membangun rasa percaya masyarakat terhadap sistem hukum.Akibatnya, kemajuan yang terlihat di permukaan justru menyimpan rasa kecewa di tengah masyarakat. Indonesia mungkin terlihat semakin modern, tetapi sebagian masyarakat masih merasa belum benar-benar mendapatkan perlakuan yang adil.Hal inilah yang sering kali luput dalam pembahasan pembangunan. Pemerintah sering berbicara soal angka pertumbuhan ekonomi, investasi, dan pembangunan infrastruktur. Namun di saat yang sama, masyarakat juga ingin mendengar bagaimana negara menghadirkan keadilan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.Ketika Pembangunan Terasa Jauh dari RakyatMasyarakat sebenarnya tidak menolak pembangunan. Mereka mendukung kemajuan teknologi, pendidikan, dan berbagai perubahan menuju Indonesia yang lebih maju. Namun masyarakat juga ingin melihat bahwa kemajuan tersebut dibarengi dengan hukum yang adil dan tidak membedakan status sosial.Sebab sebesar apa pun pembangunan dilakukan, rasa kecewa akan tetap muncul ketika masyarakat masih merasa kecil di hadapan hukum.Pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan jalan tol, gedung tinggi, atau teknologi canggih. Masyarakat juga membutuhkan rasa aman dan keyakinan bahwa hukum benar-benar berlaku sama bagi semua orang.Tanpa keadilan, pembangunan hanya akan terasa sebagai kemajuan yang megah di luar, tetapi rapuh di dalam. Negara mungkin terlihat maju secara fisik, tetapi belum tentu kuat secara sosial. Sebab kemajuan yang tidak dibarengi rasa keadilan hanya akan melahirkan ketidakpercayaan di tengah masyarakat.Membangun Keadilan yang Benar-Benar DirasakanKarena itu, pemerintah tidak cukup hanya fokus pada pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi. Negara juga perlu memperkuat transparansi dalam proses hukum agar masyarakat dapat melihat bahwa hukum benar-benar dijalankan secara terbuka dan adil.Pengawasan publik terhadap penegakan hukum juga perlu diperkuat agar penyalahgunaan kekuasaan bisa dicegah. Selain itu, akses bantuan hukum bagi masyarakat kecil juga harus diperluas supaya keadilan tidak hanya mudah didapat oleh mereka yang memiliki uang atau kekuasaan.Di saat yang sama, integritas lembaga hukum juga harus terus diperbaiki. Sebab kepercayaan masyarakat tidak akan tumbuh hanya melalui pidato atau janji semata. Kepercayaan lahir ketika masyarakat benar-benar melihat bahwa hukum berlaku setara bagi siapa pun.Pada akhirnya, kemajuan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari seberapa modern kotanya atau seberapa canggih teknologinya. Kemajuan sejati lahir ketika masyarakat merasa diperlakukan setara, didengar suaranya, dan mendapatkan keadilan tanpa memandang siapa mereka.Sebab tanpa keadilan, modernisasi hanya akan menjadi kemajuan yang kehilangan makna.