Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf (kiri) berdialog dengan jemaah calon haji Indonesia yang berkursi roda di kompleks Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, Rabu (20/5/2026) waktu setempat. Foto: Citro Atmoko/ANTARA FOTOPuncak ibadah haji tinggal dua hari lagi. Pada 26 Mei 2026 atau 9 Zulhijah, jemaah haji dari seluruh dunia akan berkumpul untuk wukuf di Padang Arafah.Sejumlah persiapan terus digenjot Kementerian Haji bersama PPIH Arab Saudi. Salah satunya layanan kesehatan.Menteri Haji dan Umrah RI Moch Irfan Yusuf bersama Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar meninjau kesiapan pelayanan kesehatan di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), Sabtu (23/5).Dalam kunjungan tersebut, Gus Irfan mengatakan rombongan Amirul Hajj sengaja datang langsung ke KKHI untuk memastikan kesiapan tenaga kesehatan dan pelayanan yang telah berjalan selama musim haji.“Hari ini kami memang sengaja datang ke KKHI untuk memastikan kesiapan teman-teman kesehatan haji Indonesia, bagaimana pelayanannya selama musim haji yang sudah berlangsung hampir satu bulan ini, dan terutama persiapan untuk Armuzna nanti,” ujarnya.Menhaj Gus Irfan bersama Amirul Hajj di Bandara Jeddah. Foto: Dok. MCH 2026Ia mengakui terdapat sejumlah tantangan terkait regulasi kesehatan di Arab Saudi yang cukup ketat dan terus mengalami perubahan. Meski demikian, tenaga kesehatan Indonesia dinilai mampu menyesuaikan diri tanpa mengurangi kualitas pelayanan kepada jemaah.“Memang ada beberapa kendala terkait regulasi yang berlaku di sini, tetapi teman-teman berusaha menyesuaikan diri, bagaimana tetap mematuhi regulasi namun tetap bisa memberikan pelayanan terbaik kepada jemaah kita,” katanya.Terkait pelayanan kesehatan selama fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), Gus Irfan menjelaskan pemerintah telah menyiapkan klinik-klinik darurat di titik-titik tertentu. Selain itu, kerja sama dengan rumah sakit Arab Saudi juga terus diperkuat untuk penanganan pasien yang membutuhkan rujukan lebih lanjut.“Kami ada klinik-klinik di sana untuk pelayanan darurat, tetapi tetap bekerja sama dengan rumah sakit pemerintah Saudi. Pada kondisi tertentu, jemaah harus segera dirujuk ke rumah sakit di Saudi,” jelasnya.Ia menambahkan, total tenaga kesehatan yang disiapkan mencapai lebih dari 1.200 orang. Setiap kelompok terbang (kloter) didampingi satu dokter dan satu perawat, ditambah ratusan petugas kesehatan lainnya yang bersiaga di berbagai titik pelayanan.“Kami memiliki sekitar 1.200 tenaga kesehatan. Tiap kloter ada satu dokter dan satu perawat, kemudian di PPIH juga ada ratusan tenaga kesehatan. InsyaAllah ini akan bisa melayani jemaah kita selama Armuzna,” ungkapnya.Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf (kanan) berdialog dengan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, Rabu (20/5/2026) waktu setempat. Foto: Citro Atmoko/ANTARA FOTODalam kesempatan yang sama, Gus Irfan juga menyampaikan jumlah jemaah yang dirawat maupun wafat pada musim haji tahun ini mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Menurutnya, hal tersebut dipengaruhi pemeriksaan kesehatan istitha’ah yang lebih ketat sejak di tanah air.“Salah satu alasannya karena pemeriksaan istitha’ah kesehatan di tanah air relatif lebih ketat dibanding tahun sebelumnya. Sehingga hari ini yang dirawat turun drastis, yang meninggal juga turun drastis,” ujarnya.Sementara itu, terkait skema safari wukuf bagi jemaah lansia dan risiko tinggi, pemerintah masih terus melakukan koordinasi dengan otoritas Arab Saudi agar tetap sesuai aturan yang berlaku.“Safari wukuf secara resmi memang tidak diperbolehkan oleh otoritas Saudi, tetapi kita akan mencoba mencari kemungkinan-kemungkinan yang tidak melanggar regulasi dan terus berkoordinasi dengan Pemerintah Saudi,” katanya.Menko PM Abdul Muhaimin Iskandar turut mengapresiasi dedikasi tenaga kesehatan Indonesia yang dinilai tangguh menghadapi dinamika aturan di Arab Saudi.“Terima kasih kepada para tenaga kesehatan yang sangat tangguh menghadapi regulasi Pemerintah Saudi yang super ketat dan terus berubah. Teman-teman dokter mampu mengantisipasi dengan kecerdasan dan langkah-langkah yang tepat,” ujar Muhaimin.Ia menambahkan, pemerintah akan terus mengevaluasi pola pelayanan kesehatan haji agar semakin adaptif terhadap regulasi di Arab Saudi, namun tetap mengedepankan pelayanan maksimal bagi jemaah.“Ke depan, Kementerian Haji akan terus mendapatkan masukan dari para dokter dan tenaga kesehatan di lapangan agar pola pelayanan semakin efektif, efisien, dan memberi manfaat yang lebih besar bagi jemaah,” tandasnya.