Suasana booth Daihatsu pada pegelaran GIIAS (Gaikindo Indonesia International Auto Show) 2025 di ICE BSD, Tangerang, Kamis (24/7/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparanGabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) meminta pelaku industri otomotif tidak terburu-buru menaikkan harga kendaraan meski nilai tukar rupiah mengalami tekanan. Kondisi pasar yang masih sensitif dinilai perlu direspons dengan perhitungan matang.Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara mengatakan, penyesuaian harga di industri otomotif tidak bisa dilakukan secara instan. Menurutnya, karakter industri kendaraan berbeda dengan sektor barang konsumsi cepat.“Kita lihat perkembangannya, kita masih di bulan Juli ya. Dan biasanya pelaku industri otomotif itu nggak segampang itu untuk kemudian, oh ini naik harganya, hari ini kita lanjut,” ujar Kukuh saat ditemui di Senayan, Selasa (26/5/2026).Konferensi Pers perdana Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di Jakarta, Selasa (26/5/2026). Foto: Syahrul Ghiffari/kumparanIa menjelaskan, setiap keputusan penyesuaian harga harus mempertimbangkan dampaknya terhadap daya beli konsumen. Kukuh bilang, saat kenaikan dilakukan terlalu cepat, hal tersebut justru punya dampak negatif.“Kan kita bukan kayak fast moving things gitu ya. Jadi perlu perhitungan. Terus kalau kemudian itu terlalu gegabah, itu yang terjadi malah sebaliknya. Orang nahan beli kendaraan,” katanya.Lebih lanjut, Kukuh menyinggung kondisi stok di industri otomotif yang cukup besar, baik kendaraan jadi maupun komponen. Selain itu, produsen juga memiliki komitmen pembelian bahan baku yang sudah direncanakan sebelumnya.Suasana booth Toyota di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025 di ICE BSD, Tangerang, Kamis (24/7/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan“Ketika nahan beli, ini kan stoknya kan banyak. Stok barang yang jadi, stok yang belum jadi, komponen, dan sebagainya. Komitmen untuk beli raw material, banyak jadi kita jaga optimisnya lah,” jelasnya.Ia menambahkan, setiap pabrikanpastinyapunya cara dalam menghadapi dinamika pasar. Produsen dinilai lebih memahami kondisi pasar dan cara menjaga keseimbangan antara harga dan permintaan.“Masing-masing anggota itu punya strateginya sendiri dan mereka punya cara membaca pasar tersendiri. Mereka juga lebih tahu dari kita ya. Yang kita hanya duduk bareng ngapain bisa lebih baik dilakukan bersama,” tutup Kukuh.