Astronaut NASA di ISS Rekam Momen Benda Antariksa Terbakar di Atmosfer Bumi

Wait 5 sec.

Ilustrasi Meteor. Foto: Vadim Sadovski/shutterstockAstronaut NASA yang sedang berada di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) berhasil mengabadikan pemandangan langka sebuah sampah antariksa diduga roket Rusia melesat menembus atmosfer Bumi, hancur dalam kobaran cahaya, lalu pecah menjadi kilauan api terang di langit malam.Pemandangan luar biasa itu direkam astronaut NASA, Chris Williams, yang menyaksikannya langsung dari International Space Station. Saat ISS melintas di atas wilayah Afrika Barat pada 27 April 2026, Williams melihat sebuah objek bercahaya meninggalkan jejak api di atmosfer bagian atas dari jendela kubah observasi stasiun luar angkasa tersebut.“Saya melihat ekornya memanjang lalu pecah menjadi hujan serpihan kecil,” tulis Williams di media sosial Instagram. “Pemandangannya benar-benar spektakuler.”Dalam unggahan blognya, NASA menjelaskan bahwa astronaut kemungkinan besar menyaksikan roket yang digunakan untuk meluncurkan kapal kargo Rusia Progress 95 atau Progress MS-34, yang sebelumnya telah berhasil merapat ke ISS pada hari yang sama.Namun, NASA belum bisa memastikannya. Objek tersebut juga bisa saja merupakan satelit, fragmen roket lain, sampah antariksa, atau bahkan material meteor alami.Orbit Bumi saat ini sebenarnya jauh lebih padat daripada yang dibayangkan banyak orang. Diperkirakan ada sekitar 25 ribu serpihan antariksa berukuran lebih dari 10 sentimeter yang dapat dilacak, ditambah jutaan pecahan kecil lain yang tidak terdeteksi. Secara total, sekitar 9 ribu ton logam dan material sisa buatan manusia kini mengorbit Bumi.Ketinggian orbit menjadi faktor penting dalam menentukan berapa lama sampah antariksa bertahan di luar angkasa. Objek yang berada di bawah 600 kilometer biasanya akan jatuh kembali ke Bumi dalam hitungan tahun. Sementara itu, benda di atas 800 kilometer dapat bertahan selama ratusan tahun.Bahkan, sampah antariksa di atas 1.000 kilometer bisa terus mengorbit selama lebih dari seribu tahun. Untungnya, kemungkinan serpihan itu benar-benar mencapai permukaan Bumi masih tergolong kecil, kendati tidak mustahil.Saat peluncuran roket, sejumlah komponen seperti modul pendorong sekali pakai biasanya dilepaskan untuk mengurangi beban pesawat. Bagian-bagian ini memang dirancang untuk terbakar habis saat kembali memasuki atmosfer.Namun, para ilmuwan mengingatkan bahwa umur sampah antariksa kini semakin panjang karena material yang digunakan makin kuat dan tahan panas. Di satu sisi, perkembangan itu membuat perjalanan luar angkasa lebih aman dan efisien. Di sisi lain, risiko sampah antariksa mencapai daratan juga ikut meningkat.NASA memperkirakan rata-rata satu serpihan sampah antariksa jatuh kembali ke Bumi setiap hari selama 50 tahun terakhir. Hingga kini belum ada manusia yang mengalami cedera serius akibat tertimpa sampah antariksa buatan. Secara resmi, baru satu orang yang pernah terkena serpihan benda luar angkasa yang jatuh dari orbit.Namun, seiring aktivitas manusia di luar angkasa yang semakin intensif, peluang itu perlahan meningkat.Sebuah studi pada 2022 menyebut ada kemungkinan 10 persen sampah antariksa tak terkendali akan jatuh ke Bumi dan menyebabkan korban manusia dalam 10 tahun ke depan.Lokasi jatuhnya memang belum bisa diprediksi. Namun risikonya disebut lebih besar bagi negara-negara di Global South. Tubuh roket diperkirakan tiga kali lebih mungkin jatuh di wilayah lintang seperti Jakarta, Dhaka, atau Lagos dibandingkan New York City, Beijing, atau Moscow.