CEO OpenAI, Sam Altman, berpidato di acara AI Impact Summit, di New Delhi, India, Kamis (19/2/2026). Foto: Bhawika Chhabra/REUTERSDi tengah banjirnya gambar-gambar buatan AI di berbagai platform media sosial, OpenAI mengambil langkah serius untuk menjawab pertanyaan yang kian sering muncul: Apakah foto ini nyata atau hasil rekayasa AI?Perusahaan di balik ChatGPT itu meluncurkan alat verifikasi publik bernama "Verify", yang dapat diakses di openai.com/verify. Dengan alat ini, siapa pun bisa mengunggah sebuah gambar dan mengetahui apakah gambar tersebut dibuat menggunakan produk-produk OpenAI seperti ChatGPT, Codex, maupun API mereka.Yang membuat langkah ini cukup signifikan adalah OpenAI tidak hanya mengandalkan satu teknologi, melainkan menggabungkan dua standar industri secara bersamaan.Pertama, metadata C2PA. Standar C2PA dibuat oleh Coalition for Content Provenance and Authenticity. Ini merupakan metadata yang dilampirkan pada sebuah file dan dapat menunjukkan secara jelas bagaimana gambar tersebut dibuat serta perubahan apa saja yang telah dilakukan padanya, melalui verifikasi kriptografis.Singkatnya, C2PA bekerja seperti "sertifikat kelahiran" digital bagi sebuah gambar. Standar ini juga telah diadopsi oleh berbagai produk Google, meskipun penerapannya di industri secara keseluruhan masih belum merata.Kedua, watermark SynthID. SynthID adalah teknologi watermarking tak kasat mata buatan Google yang menanamkan sinyal langsung ke dalam gambar AI.Berbeda dari C2PA, tanda ini bukan sekadar metadata yang bisa dihapus begitu saja — ia menyatu dengan piksel gambar itu sendiri. Sinyal SynthID dirancang untuk tetap bertahan meski gambar sudah di-screenshot, dipangkas, diberi filter, atau mengalami kompresi.Dua Sistem, Dua Kelemahan yang Saling MenutupiOpenAI sendiri mengakui bahwa tidak ada satu pun sistem yang sempurna. C2PA, seperti jenis metadata pada umumnya, bisa dimanipulasi dan/atau dihapus. Sistem ini lebih dirancang untuk para pembuat konten terpercaya agar mudah menunjukkan asal-usul karya mereka.Sementara itu, SynthID dirancang untuk lebih tahan banting —sinyalnya bisa tetap tertanam dalam gambar bahkan setelah gambar tersebut di-screenshot atau dimanipulasi.Inilah mengapa keduanya justru saling melengkapi. C2PA membawa informasi konteks yang detail di mana pun ia bertahan; SynthID menjadi cadangan yang lebih tahan lama meski dengan informasi yang lebih terbatas. Atau seperti yang dirangkum OpenAI sendiri: "Watermarking bisa lebih tahan terhadap berbagai transformasi seperti screenshot, sementara metadata bisa memberikan lebih banyak informasi dibanding watermark saja."Langkah OpenAI ini tidak datang dari ruang hampa. Belakangan ini kasus gambar AI yang menyusup ke ranah publik terus bermunculan. Baru-baru ini, pemenang sebuah kompetisi foto didiskualifikasi setelah ditemukan bahwa gambar yang ia kirimkan mengandung watermark SynthID tak kasat mata di dalamnya.Di sisi lain, skala permasalahan ini sudah sangat besar. Google DeepMind melaporkan bahwa hingga saat ini lebih dari 100 miliar gambar, video, dan file audio telah diberi watermark SynthID. OpenAI kini bergabung bersama Kakao, ElevenLabs, dan Nvidia sebagai adopter baru teknologi ini.Cara Menggunakan VerifyPengguna cukup mengunggah satu gambar, lalu meninjau hasilnya untuk melihat apakah alat tersebut mendeteksi metadata C2PA, watermark SynthID, atau tidak menemukan sinyal sama sekali. Untuk hasil terbaik, OpenAI menyarankan agar pengguna memotong screenshot serapat mungkin di sekitar gambar dan tidak mengunggah file yang berisi lebih dari satu gambar sekaligus.Perlu dicatat, saat ini Verify hanya dapat mendeteksi gambar yang dibuat menggunakan ChatGPT, OpenAI API, atau Codex. Dengan kata lain, gambar AI yang dihasilkan dari platform lain belum tercakup —setidaknya untuk saat ini.