Aksi Saling Serang AS dan Iran di Tengah Negosiasi Damai

Wait 5 sec.

Burung-burung terbang saat asap mengepul setelah ledakan, menyusul serangan Israel dan AS terhadap Iran, di Teheran, Iran, 2 Maret 2026. Foto: West Asia News Agency via REUTERSSerangan kembali dilancarkan Amerika Serikat (AS) ke Iran selatan pada Kamis (28/5), di tengah upaya negosiasi damai antara Washington dan Tehran yang tampak rapuh.Media Iran melaporkan tiga ledakan keras terdengar di kota pelabuhan Bandar Abbas pada dini hari. Wilayah yang sama sebelumnya diserang AS beberapa hari lalu.Seorang pejabat AS menyebut militer AS menembak jatuh empat drone serang Iran di sekitar Selat Hormuz."Hari ini, pasukan Komando Pusat AS menembak jatuh empat drone serang satu arah Iran yang menimbulkan ancaman di sekitar Selat Hormuz," kata pejabat AS yang enggan disebut namanya kepada AFP."Pasukan AS juga menyerang stasiun kendali darat Iran di Bandar Abbas yang hendak meluncurkan drone kelima," lanjutnya.Presiden AS Donald Trump berbicara di samping Menteri Pertahanan Pete Hegseth saat menghadiri rapat kabinet di Ruang Kabinet, Gedung Putih, Washington, DC, AS, Rabu (27/5/2026). Foto: Evan Vucci/REUTERSSerangan terbaru ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump kembali mengancam Iran agar segera menyetujui kesepakatan damai."Iran benar-benar ingin membuat kesepakatan. Sejauh ini mereka belum sampai ke sana. Kami belum puas dengan itu, tapi kami akan sampai ke sana," kata Trump dalam rapat kabinet di Gedung Putih.Trump juga menolak kemungkinan Iran dan Oman ikut mengontrol selat tersebut."Tidak, selat itu akan terbuka untuk semua orang," ujar Trump."Itu adalah perairan internasional dan Oman akan bertindak seperti semua pihak lain, atau kami harus meledakkan mereka. Mereka mengerti itu, mereka akan baik-baik saja," sambungnya.Pernyataan itu langsung memicu perhatian karena Oman selama ini menjadi mediator utama dalam pembicaraan Iran-AS.Sementara itu, pejabat Garda Revolusi Iran Mohammad Akbarzadeh mengatakan kemungkinan perang kembali pecah memang rendah, tetapi militer Iran tetap siaga penuh."Kemungkinan perang rendah karena kelemahan musuh, tetapi militer kami tetap menunggu dengan persediaan peluru penuh," kata Akbarzadeh, dikutip Tasnim.Iran Serang Pangkalan Militer ASRudal ditembakkan dalam latihan militer Garda Revolusi Iran di Selat Hormuz, Iran. Foto: Sepahnews/ via APSementara itu, Iran mengklaim telah membalas dengan menyerang pangkalan militer Amerika Serikat (AS).Mengutip televisi pemerintah IRIB yang dilansir AFP, Garda Revolusi Iran (IRGC) mengatakan pangkalan udara AS itu menjadi sumber serangan yang sebelumnya menghantam area sekitar Bandara Bandar Abbas."Setelah agresi militer AS pagi ini terhadap lokasi di pinggiran Bandara Bandar Abbas menggunakan proyektil udara, pangkalan udara Amerika yang menjadi sumber serangan itu ditargetkan pada pukul 04.50 pagi," bunyi pernyataan IRGC di Telegram.Iran tidak mengungkap lokasi pangkalan AS yang dimaksud. Namun pada hari yang sama, Kuwait mengatakan pihaknya sedang merespons serangan rudal dan drone pada Kamis pagi, sebagaimana dilaporkan AlJazeera.Dampak ke Indonesia dan ThailandIndonesia dan Thailand semakin mengandalkan instrumen utang jangka pendek untuk menghadapi tekanan akibat perang Amerika Serikat dan Iran yang mengguncang pasar keuangan global.Bank Indonesia meningkatkan penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menarik aliran modal asing demi menopang rupiah, yang menyentuh level terendah sepanjang sejarah dan menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di Asia sepanjang kuartal ini.Di Thailand, pemerintah mulai lebih banyak menggunakan surat utang jangka pendek untuk membiayai program pinjaman darurat.Preferensi terhadap surat utang tenor pendek terjadi di tengah kekhawatiran inflasi akibat lonjakan harga energi yang memicu aksi jual obligasi pemerintah tenor panjang di berbagai negara.Meski langkah ini memberi fleksibilitas pendanaan lebih besar, analis menilai risiko pembiayaan ulang dapat meningkat dalam jangka panjang."Ketika investor membeli instrumen utang jangka pendek ini, permintaan terhadap obligasi tenor panjang menjadi berkurang sampai batas tertentu," kata ahli strategi suku bunga dan valuta asing BNP Paribas di Singapura, Chandresh Jain, dikutip dari Bloomberg, Kamis (28/5).Total SRBI yang beredar meningkat 126,7 triliun rupiah pada bulan lalu, terbesar dalam hampir dua tahun terakhir. Rupiah melemah sekitar 2 persen terhadap dolar AS pada April, kinerja terburuk sejak Oktober 2024. SRBI sendiri memiliki tenor hingga 12 bulan.Imbal hasil SRBI tenor 12 bulan naik menjadi 6,76 persen pada lelang terakhir 22 Mei, tertinggi sejak Januari 2025 dan berada di atas yield obligasi pemerintah Indonesia tenor dua tahun yang berada di kisaran 6,53 persen."Kami menilai pasar kini lebih memilih membeli SRBI dibanding obligasi pemerintah Indonesia. SRBI menawarkan imbal hasil serupa dengan obligasi pemerintah tanpa membuat investor menghadapi risiko durasi yang signifikan," terangnya.Sementara itu, di Thailand, pemerintah baru berupaya menahan dampak konflik Timur Tengah yang mengganggu perdagangan dan sektor pariwisata, dua mesin utama ekonomi negara tersebut.Pemerintahan Perdana Menteri Anutin Charnvirakul bulan ini menyetujui paket bantuan yang mencakup bantuan tunai dan subsidi sebagai bagian dari rencana pinjaman darurat senilai 400 miliar baht atau sekitar US$12 miliar.