Ilustrasi siswa yang mengikuti proses belajar. Foto: Dokumentasi pribadiAkhir-akhir ini, sering kali banyak ditemukan cara berbicara siswa, baik ketika ada dalam lingkungan sekolah atau di luar menggunakan tutur kata yang sudah tidak semestinya dikatakan. Berbicara kasar disertai dengan ejekan bahkan tidak jarang melabeli dengan nama hewan sepertinya sudah menjadi hal yang lumrah ditemui setiap hari.Meski terkadang motivasi yang mereka lakukan hanya sebatas bercanda untuk menghangatkan suasana, hal ini menjadi hal yang distruktif dalam tata bahasa kita, apalagi bagi mereka yang ada di tempat terdidik.Sebagai institusi pendidikan (sekolah) yang mengemban amanah sebagai rumah kedua setelah orang tua di rumah, hal ini sepertinya menjadi fenomena serius yang harus segera dicarikan solusinya. Harapan orang tua yang telah mengamanahkan putra-putrinya di sekolah pasti menginginkan anaknya menjadi pribadi yang beradab, bisa dibanggakan, dan dapat menjadi harapan di masa depan.Ketika harapan tidak sesuai kenyataan, pastilah rasa kecewa akan muncul dan akan muncul juga justifikasi sepihak dengan menyimpulkan bahwa institusi tempat dia menimba ilmu sudah gagal dalam memberikan amunisi ilmu pengetahuan dengan kultur kepribadian yang beradab.Ilustrasi guru. Foto: ShutterstockGuru sebagai pengganti orang tua di sekolah akan mendapatkan sanksi sosial yang selalu disalahkan oleh orang tua dan masyarakat. Mereka dianggap telah gagal dalam memberikan bimbingan, inspirasi, dan role model dalam pijakan sikap kehariannya. Maka untuk mengatasi masalah ini, kita perlu mengamati akan munculnya masalah yang ada dan mencoba memberikan solusi objektif agar tidak muncul masalah serupa yang lebih kompleks—khususnya dalam memberikan role model dalam tata bahasa mereka dalam kehidupan sehari-hari.Fenomena AntropomorfismeIstilah antropomorfisme memang belum lazim dikenal oleh masyarakat. Istilah ini berasal dari Bahasa Yunani antropos (manusia) dan morphe (bentuk), yaitu kecenderungan atau tindakan memberikan sifat, emosi, perilaku atau karakteristik fisik manusia kepada entitas non-manusia.Dilansir dari media Tempo, bahwa dalam penelitian psikologi, para ahli tertarik untuk memahami mengapa manusia cenderung melakukan anthropomorphism yang muncul dari kebutuhan manusia untuk memahami dunia di sekitarnya, dengan cara yang lebih akrab dan mudah dipahami. Dengan menempatkan sifat manusia pada objek atau makhluk lain, manusia dapat merasa lebih dekat dan terhubung dengan mereka.Dalam konteks di lapangan, anthropomorphism juga dapat memberikan rasa pengendalian dan pemahaman yang lebih baik terhadap situasi atau fenomena yang kompleks. Dengan menyematkan sifat manusia pada entitas non-manusia, manusia dapat lebih mudah memprediksi perilaku atau memberi nilai kepekaan dan empati terhadap mereka.Ilustrasi manusia. Foto: Dmitry Nikolaev/ShutterstockDi sisi lain, anthropomorphism juga dapat memiliki dampak negatif jika diterapkan dalam kondisi yang cenderung tendensius dan dianggap lelucon, yaitu dengan memberikan atribut manusia pada hewan peliharaan mereka. Hal ini dapat mengarah pada perlakuan yang tidak sehat atau tidak pantas terhadap hewan tersebut.Fenomena semacam ini lazim digunakan sebagai dalih untuk mencairkan suasana, menjalin keakraban dengan teman sejawat, atau sekadar menghilangkan rasa kaku antarteman.Sayangnya, hal ini memberikan efek domino yang tidak sehat, khususnya ketika interaksi yang dibangun dengan mereka yang berlatar sebagai guru, orang tua, bahkan orang yang sudah lebih tua dari mereka. Maka, ucapan-ucapan dengan melabeli nama hewan akan dianggap sebagai tutur kata yang tidak sopan—bahkan yang lebih parah akan disinyalir memberikan sinyal negatif.Sebagai langkah preventif, sudah sepatutnya semua pihak—khususnya yang dekat dengan mereka—harus saling mendukung dalam internalisasi keilmuan tentang pentingnya menjaga akhlak, khususnya dalam bertutur kata yang baik dan sopan.