“Cinta Saja Tidak Cukup”: Ini yang Membuat Hubungan Benar-Benar Membahagiakan

Wait 5 sec.

Ilustrasi Cinta. Foto: FreepikPada era sekarang, menjalani sebuah hubungan cinta yang melibatkan unsur romantis sangat sulit untuk dijalankan. Banyak sekali orang yang ingin berada pada sebuah hubungan cinta romantik yang serius, tetapi di waktu yang bersamaan muncul perasaan takut akan berkomitmen. Tidak sedikit yang merasa berada dalam sebuah hubungan yang baik secara emosional, tetapi tetap merasa hubungan tersebut tidak memuaskan. Banyak rasa bingung yang dialami, takut berkomitmen yang lebih lanjut, overthinking yang berlebihan, bahkan terkadang terbesit sebuah pertanyaan, “dia benar-benar serius nggak sih sama aku? “. Fenomena seperti ini banyak dialami pada individu yang berada pada fase emerging adulthood atau dewasa awal, berkisar pada usia 18-29 tahun. Fase ini ditandai dengan perubahan dan eksplorasi yang lebih meneliti tentang peluang hidup, lalu secara bertahap pilihan-pilihan tersebut akan menjadi permanen, menyangkut tentang cinta, karir, dan juga pasangan hidup (Arnett, 2014).Santrock (2022), menjelaskan dalam tugas perkembangan melalui teori Erik Erikson, individu pada dewasa awal masuk pada tahap intimacy vs isolation, artinya bahwa dewasa awal harus mampu membangun hubungan yang lebih intim, dekat, jujur, dan penuh kasih sayang dengan orang lain. Dalam teori ini juga ditekankan bahwa hubungan yang dekat dan komitmen yang kuat sangat penting dan dibutuhkan untuk kesejahteraan emosional individu dewasa. Oleh karena itu, individu yang sudah memasuki fase dewasa awal, umumnya memiliki hubungan yang terkesan lebih serius dan stabil dibandingkan hubungan sebelumnya. Romansa yang dirasakan pada fase ini bukan hanya sekedar untuk bersenang-senang atau mencoba pengalaman baru, tetapi mulai membangun kedekatan emosional yang mendalam dengan pasangan. Selain itu, komitmen hubungan juga mulai meningkat, ditandai dengan adanya keinginan untuk mempertahankan hubungan dalam jangka yang panjang serta membangun masa depan dengan pasangan (Bouchey & Furman, 2006).Namun, saat ini hubungan romantis terasa semakin kompleks. Perkembangan teknologi membuat seseorang semakin mudah untuk bertemu dan berkenalan dengan orang melalui media sosial maupun aplikasi online dating. Tetapi, hal tersebut yang membuat hubungan menjadi tidak sederhana dan mengakibatkan semakin sulit untuk menemukan hubungan yang benar-benar nyaman dan pasti. Sehingga situasi ini menunjukkan bahwa hubungan romantis bukan hanya sekedar memiliki pasangan semata, tetapi tentang bagaimana hubungan tersebut memberikan kenyamanan dan rasa aman. Oleh karena itu penelitian yang dilakukan oleh Dewanto et al. (2025) yang berjudul Hubungan Tringular of Love dan Relationship Satisfaction pada Pasangan Emenrging Adulthood yang Sedang Menjalani Hubungan Romantis dari Universitas Tarumanagara akan mencoba memahami faktor apa saja yang membuat seseorang merasa puas dalam sebuah hubungan romantis. Penelitian yang dilakukan berdasarkan teori Tringular of Love yang di populerkan oleh Robert Stenberg.1. Hubungan yang Sehat Bukan Hanya Tentang “Saling Sayang”Saktiana (2022) dalam jurnal yang dituliskan Dewanto dkk, menjelaskan bahwa dalam model Tringular of love yang di populerkan oleh Robert Stenberg terdapat tiga komponen utama, yaitu keintiman (Intimacy) merujuk pada sebuah perasaan dekat, terhubung, dan terdapat hubungan emosional dalam hubungan cinta tersebut, biasanya perasaan yang muncul menciptakan dorongan untuk mendekatkan diri pada orang yang dicintai. Gairah (passion) biasanya berkaitan dengan perasaan tertarik, romantisme dan keinginan untuk terus berada di dekat pasangan. Gairah biasnya membuat hubungan menjadi lebih hidup dan tidak terkesan monoton. Sedangkan komitmen (commitment) merupakan keputusan yang diambil untuk mempertahankan hubungan dalam jangka waktu panjang. Komitmen digunakan untuk menjaga hubungan agar terus berlanjut dan stabil. Ketiga komponen ini dianggap sebagai fondasi membangun hubungan yang sehat, stabil, dan bertahan lama.2. Komitmen Menjadi Faktor Paling Penting dalam Kepuasan HubunganPeneliti yang dilakukan oleh Dewanto dkk, menemukan bahwa tiga komponen Tringular of Love sama-sama memiliki hubungan positif untuk membentuk kepuasan hubungan. Namun, jika dibandingkan dengan dua faktor lainnya, faktor komitmen paling kuat dalam mempengaruhi kepuasan pada hubungan individu dewasa awal. Hasil analisis menunjukkan bahwa individu yang memiliki tingkat komitmen tinggi merasa lebih puas terhadap hubungan yang dijalani. Dengan begitu, penelitian ini menunjukkan bahwa komitmen tidak hanya berkaitan dengan status hubungan, tetapi juga kesediaan individu dalam bertahan, percaya, dan memiliki tujuan jangka panjang dalam hubungan.Temuan ini menjadi relevan terhadap keadaan modern saat ini karena di tengah budaya serba cepat dan tidak memiliki arah yang jelas, banyak individu bisa merasa lebih tenang jika hubungan yang mereka jalani memiliki tujuan dan komitmen secara jelas. Oleh karena itu, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan yang memuaskan tidak hanya dibangun dengan cinta dan sayang, tetapi juga dengan keputusan jelas untuk secara bersama-sama mempertahankan hubungan yang di jalani.3. Kepuasan Hubungan Ternyata Lebih Ditentukan oleh Diri Sendiri, Bukan oleh PasanganTemuan menarik pada penelitian ini adalah adanya actor effect atau kondisi ketika kepuasan dalam hubungan lebih dipengaruhi oleh pandangan seseorang itu sendiri dan hal yang dirasakan pada hubungannya daripada perilaku pasangannya. Dalam penelitian ini, partner effect atau pengaruh dari pasangan tidak terlalu memberikan efek yang kuat pada kepuasan hubungan. Dengan adanya temuan ini, menunjukkan bahwa kebahagiaan yang terjadi di dalam hubungan tidak selalu bergantung pada pasangan, tetapi juga di pengaruhi oleh pemahaman individu dalam membangun, dan memaknai hubungan tersebut.4. Lama Pacaran Tidak Menentukan Kepuasan HubunganBanyak orang yang akan menganggap jika hubungan sudah berlangsung sejak lama pasti akan lebih bahagia dan lebih memuaskan. Banyak anggapan jika semakin lama hubungan, maka akan semakin kuat dan matang. Namun, dalam penelitian ini lamanya durasi hubungan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan hubungan, keintiman, gairah, maupun komitmen. Sebanyak 34,6% menjalani hubungan selama lebih dari 3 tahun, 34,2% berada pada rentang 1-3 tahun, dan 31,2% baru menjalani selama 6 bulan hingga 1 tahun. Meskipun durasi hubungan dalam penelitian ini berbeda-beda, tetapi tingkat kepuasan hubungan yang dirasakan tidak memperlihatkan perbedaan yang signifikan. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa hubungan yang sudah terjalin sejak lama belum tentu memiliki kepuasan yang lebih dibandingkan dengan hubungan yang masih baru.Di tengah fenomena hubungan modern yang cepat, fleksibel, dan sering penuh dengan ketidakjelasan, banyak individu pada dewasa awal yang akhirnya merasa sulit untuk menemukan hubungan yang benar-benar memberikan rasa aman dan kepuasan secara emosional. Akhirnya tidak sedikit hubungan yang terlihat baik dari luar, tetapi di dalam penuh dengan keraguan, komunikasi yang tidak baik, hingga ketakutan akan komitmen. Oleh karena itu, penting untuk setiap individu tidak hanya berfokus pada lamanya sebuah hubungan, tetapi pada kualitas hubungan yang dibangun. Menjalin komunikasi yang terbuka, saling memahami, menghargai pasangan, dan komitmen yang jelas akan menjadi langkah yang penting untuk menciptakan sebuah hubungan yang sehat dan bertahan lama. Karena pada akhirnya, hubungan yang baik bukan tentang siapa yang paling sempurna, tetapi dua orang yang sama-sama mau belajar, bertahan, dan tumbuh bersama.