Gambaran pola-pola patahan yang ada di bawah dasar laut Selat Makassar. Patahan-patahan ini bisa menjadi jalur alami untuk kebocoran gas. Visualisasi interpretasi seismik oleh Harya Dwi Nugraha, CC BY● Indonesia mendorong pengembangan proyek penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS/CCUS) sebagai peluang dekarbonisasi sekaligus ekonomi.● Penyimpanan karbon di bawah permukaan Bumi tidak sepenuhnya aman karena kondisi area tersebut bersifat dinamis.● Keamanan CCS sangat bergantung pada pemilihan lokasi dan pemantauan yang ketat.Pemerintah tengah mengembangkan 16 proyek penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS/CCUS), yang sebagian besar ditargetkan mulai beroperasi sebelum 2030.Teknologi ini umumnya diperuntukkan bagi sektor-sektor yang emisinya sulit dikurangi, seperti industri semen dan baja.Selain untuk kebutuhan domestik, teknologi ini juga bisa “dijual” sebagai jasa penyimpanan karbon (carbon storage) bagi negara-negara yang tidak punya cukup lahan untuk menyimpan emisi mereka sendiri, seperti Singapura, Jepang, atau Korea Selatan.Peluang ekonomi inilah yang tampaknya sedang dijajal pemerintah untuk mendapat cuan. Sebagai negara yang punya lahan luas untuk menyimpan karbon, Indonesia berambisi menjadi hub atau penghubung industri CCS di kawasan Asia-Pasifik.Indonesia memiliki kapasitas ruang bawah permukaan tanah (penyimpanan geologi) yang cukup besar untuk menyimpan karbon. Tempatnya di lapisan batuan air tanah asin, maupun di reservoir atau kantong-kantong minyak dan gas yang sudah kosong. Potensinya masing-masing kapasitas 680,57 gigaton dan 10,14 gigaton.Masalahnya, penyimpanan karbon di bawah permukaan Bumi tidak sepenuhnya aman karena kondisi bawah permukaan bersifat dinamis. Area bawah permukaan bumi tak selalu amanRiset kami di Selat Makassar menunjukkan contoh bahwa lapisan batuan yang dianggap kedap (penutup) pun ternyata masih bisa dilalui gas. Artinya, lokasi yang kelihatannya aman bisa saja berpotensi bocor jika kita lalai melakukan deteksi dini. Keamanan penyimpanan karbon sangat bergantung pada pemilihan lokasi dan pemantauan yang ketat.Salah satu alasan penyimpanan karbon di bawah tanah dianggap aman adalah karena adanya batuan penutup yang relatif kedap. Ibarat sebuah botol, lapisan penyimpanan (reservoir) adalah botolnya, sedangkan batuan penutup adalah tutupnya. Batuan penutup ini berfungsi seperti segel alami yang menahan fluida alias gas cair agar tidak naik dan bocor ke atas. Proses CCS. Karbon disimpan di dalam batuan reservoir, dan disegel oleh batuan penutup (impermeable caprock) agar tak lepas. (Alberta Energy Regulator) Gas seperti karbon cenderung bergerak naik karena massa jenisnya lebih rendah daripada massa air di sekitarnya. Analogi sederhananya seperti balon udara yang melambung ke atas karena lebih ringan daripada massa udara sekitarnya.Menurut hasil asesmen global, di tempat penyimpanan geologi yang baik, karbon bisa diperangkap selama lebih dari 10 ribu tahun dengan tingkat kebocoran hanya 0,0008% per tahun. Tetapi, sistem bawah permukaan tidak selalu sesederhana itu. Ilustrasi pergerakan CO2 (berwarna kuning) di bawah permukaan Bumi yang disimpan dalam batuan reservoir dan ditahan oleh batuan penutup. (FluidFlower, University of Bergen). Penelitian kami di Selat Makassar menunjukkan bahwa lapisan batuan sedimen yang selama ini dianggap sebagai batuan penutup yang baik tidak selalu benar-benar rapat.Gas bisa tetap lolos lewat dua cara: melalui retakan-retakan kecil di batuan, atau lewat jalur besar seperti pipa vertikal yang terbentuk akibat tekanan gas terlalu kuat.Dengan kata lain, keamanan penyimpanan gas tergantung pada keseimbangan antara tekanan gas di dalam batuan dan kekuatan batuan penutup yang menahannya. Tekanan ini bisa berubah-ubah, bertambah atau berkurang, seiring waktu dan proses alami bumi. Kebocoran batuan penutup dapat memberikan dua jalur perpindahan gas: terfokus dan tersebar. Pada jalur terfokus, gas bisa keluar ke dasar laut dan membentuk lubang. Pada jalur tersebar, gas bisa terperangkap menjadi gas hidrat. Dimodifikasi dari Nugraha dkk. (2026), CC BY Temuan saya dan tim menambah bukti area bawah permukaan Bumi bukan ruang penyimpanan yang sepenuhnya statis, melainkan sistem dinamis yang terus berubah seiring waktu dan perubahan kondisi geologi. Saat keseimbangan ini gagal dijaga, maka gas bisa bocor sampai ke dasar laut. Ini bukan berarti penyimpanan karbon di bawah tanah pasti berbahaya. Hanya saja kita tidak boleh langsung menganggap semuanya pasti aman. Baca juga: ‘Carbon capture & storage’: Inovasi hijau atau sebatas tong sampah karbon? Pentingnya pemantauanUntuk mencegah kebocoran gas, deteksi dini di dasar laut perlu dilakukan. Misalnya melalui survei geohazard untuk memastikan keamanan kondisi geologi sebelum karbon injeksi ke dalam Bumi. Lokasinya harus memenuhi sejumlah syarat, terutama tidak boleh berada di wilayah rawan gempa. Setelah karbon diinjeksikan ke bawah permukaan, pergerakannya pun harus terus dipantau. Pemantauan ini penting, karena kebocoran gas karbon dioksida (CO₂) bisa menimbulkan dampak berantai pada lingkungan sekitar. Jika lepas ke atmosfer, karbon yang seharusnya disimpan justru kembali menambah emisi. Sementara, kebocoran CO₂ yang larut ke dalam laut bisa meningkatkan keasaman air, sehingga mengganggu kehidupan organisme seperti karang dan moluska. Adapun kebocoran CO₂ di darat, bisa meningkatkan keasaman air tanah yang memicu pelepasan logam berat, sehingga berbahaya bila sampai diminum manusia. Ilustrasi pergerakan CO2 di bawah permukaan dari waktu ke waktu di Proyek Sleipner, Norwergia (Warchol dkk. 2025) CC BY Salah satu contoh proyek penyimpanan karbon yang paling terkenal di dunia adalah proyek Sleipner di Laut Utara, Norwegia—yang telah dimulai sejak 1996.Sleipner sering disebut sebagai bukti bahwa penyimpanan karbon bisa dilakukan dengan aman. Namun, pelajaran terpenting dari proyek ini bukan hanya bahwa karbon berhasil disimpan, melainkan bahwa keamanan penyimpanan harus terus diuji dan dipantau.Di Sleipner, CO₂ yang disuntikkan dipantau secara berkala menggunakan survei seismik untuk melihat bagaimana gas tersebut menyebar di dalam lapisan batuan. Hasilnya menunjukkan karbon tetap terperangkap, tetapi juga bergerak mengikuti struktur geologi yang ada.Artinya, asumsi bahwa batuan penutup sudah “cukup baik” saja tak cukup. Keamanan harus dibangun melalui kombinasi pemilihan lokasi yang tepat, karakterisasi geologi yang rinci, serta pemantauan jangka panjang.Penyimpanan karbon di dalam Bumi mungkin bisa menjadi bagian penting dari upaya mengurangi emisi. Namun, ia hanya layak disebut solusi jika keamanannya bertumpu pada data dan bukti, bukan sekadar asumsi apalagi harapan agar semuanya baik-baik saja.Penelitian ini didanai oleh Universitas Pertamina (UPER) dan Universiti Teknologi PETRONAS (UTP) Collaborative Research Fund. Publikasi didanai oleh University of Bergen.