Bijak Mengelola Food Waste dan Food Loss untuk Ketahanan Pangan

Wait 5 sec.

Ilustrasi Food Waste dan Sumber Pangan. Foto: Generated by AIKetahanan pangan sering dipahami sebagai kemampuan negara menyediakan makanan yang cukup bagi masyarakat. Karena itu, pembicaraan tentang pangan kerap berfokus pada produksi pertanian, ketersediaan lahan, teknologi budidaya, atau distribusi hasil panen. Namun di balik upaya meningkatkan produksi pangan, terdapat persoalan lain yang sama penting tetapi kerap luput dari perhatian, yakni makanan yang hilang dan terbuang dalam jumlah sangat besar setiap tahun. Di sinilah tantangan ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan bagaimana menghasilkan lebih banyak pangan, tetapi juga bagaimana mengelola pangan yang telah tersedia secara lebih bijak.Dalam sistem pangan global dikenal dua istilah yang saling berkaitan, yaitu food loss dan food waste. Food loss merujuk pada kehilangan pangan yang terjadi pada tahap produksi, panen, pascapanen, penyimpanan, hingga distribusi sebelum sampai kepada konsumen. Kehilangan ini umumnya dipengaruhi oleh keterbatasan teknologi, lemahnya rantai logistik, kerusakan selama transportasi, maupun fasilitas penyimpanan yang kurang memadai. Sementara itu, food waste adalah makanan yang sebenarnya masih layak dikonsumsi tetapi dibuang pada tingkat rumah tangga, restoran, hotel, pasar modern, atau layanan makanan lainnya. Dengan kata lain, food loss lebih banyak dipengaruhi faktor teknis dan sistem distribusi, sedangkan food waste lebih erat berkaitan dengan perilaku konsumsi manusia.Persoalan ini bukan masalah kecil. Kajian nasional Food Loss and Waste in Indonesia yang disusun oleh Kementerian PPN/Bappenas menunjukkan bahwa sepanjang 2000–2019 Indonesia menghasilkan sekitar 23–48 juta ton food loss dan food waste per tahun, atau setara 115–184 kilogram per kapita setiap tahun. Angka tersebut menempatkan susut dan sisa pangan sebagai salah satu tantangan ekonomi, sosial, dan lingkungan terbesar di Indonesia.Angka itu sesungguhnya lebih dari sekadar statistik limbah domestik. Di balik setiap makanan yang hilang atau terbuang terdapat air yang digunakan untuk irigasi, pupuk yang diaplikasikan di lahan pertanian, energi untuk produksi dan transportasi, serta kerja keras petani, nelayan, pedagang, dan pelaku rantai pasok pangan lainnya. Ketika makanan rusak sebelum dipasarkan atau dibuang setelah disajikan, maka yang sesungguhnya hilang bukan hanya bahan pangan, tetapi juga sumber daya yang menopang keberadaannya.Kerugian akibat food loss dan food waste bahkan sangat besar. Bappenas memperkirakan pemborosan pangan di Indonesia menyebabkan kerugian ekonomi sebesar Rp213–551 triliun per tahun, atau setara sekitar 4–5 persen Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Dari sisi sosial, kandungan pangan yang hilang dan terbuang tersebut sebenarnya memiliki potensi untuk memberi makan sekitar 61–125 juta penduduk per tahun. Fakta ini menunjukkan bahwa persoalan pemborosan pangan tidak sekadar berkaitan dengan sampah, tetapi juga menyentuh aspek ketahanan pangan dan keadilan sosial.Dampaknya juga terasa pada lingkungan. Kajian pembangunan rendah karbon menunjukkan bahwa food loss dan food waste menyumbang sekitar 7,3 persen emisi gas rumah kaca Indonesia. Ketika makanan membusuk di tempat pembuangan akhir, proses dekomposisinya menghasilkan gas metana yang memiliki kemampuan memerangkap panas jauh lebih tinggi dibanding karbon dioksida. Karena itu, makanan yang terbuang tidak hanya menguras sumber daya ekonomi, tetapi juga mempercepat tekanan ekologis dan perubahan iklim.Berbagai penelitian menunjukkan bahwa akar persoalan food loss dan food waste di Indonesia bersifat multidimensional. Pada tahap produksi dan distribusi, food loss dipengaruhi oleh keterbatasan teknologi pascapanen, lemahnya fasilitas penyimpanan dingin (cold chain), dan infrastruktur logistik yang belum sepenuhnya efisien. Banyak hasil pertanian dan perikanan mengalami kerusakan sebelum mencapai pasar karena penanganan yang tidak optimal.Namun pada sisi lain, food waste justru banyak terjadi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Membeli makanan secara berlebihan, mengambil porsi terlalu banyak, atau membiarkan bahan pangan rusak karena penyimpanan yang kurang tepat merupakan praktik yang sering dianggap biasa. Dalam berbagai acara sosial dan hajatan, makanan melimpah bahkan kerap dipandang sebagai simbol penghormatan dan prestise, meskipun pada akhirnya sebagian besar berakhir di tempat sampah. Kebiasaan seperti inilah yang perlu mulai dikaji ulang.Menjadi bijak terhadap pangan sebenarnya dapat dimulai dari langkah sederhana. Mengambil makanan secukupnya, merencanakan belanja sesuai kebutuhan, memahami cara penyimpanan pangan yang benar, serta memanfaatkan sisa makanan yang masih layak konsumsi merupakan tindakan kecil yang dapat memberi dampak besar apabila dilakukan secara kolektif. Rumah tangga memiliki peran penting sebagai garis depan pengurangan food waste.Selain itu, restoran, hotel, supermarket, dan penyelenggara acara juga dapat mengambil bagian melalui sistem food rescue dan redistribusi pangan kepada kelompok yang membutuhkan. Di berbagai negara, praktik penyelamatan makanan berlebih telah berkembang menjadi gerakan sosial sekaligus strategi pengurangan limbah yang efektif. Pendekatan serupa memiliki peluang besar untuk diperkuat di Indonesia.Ketahanan pangan pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak pangan diproduksi, tetapi juga oleh seberapa bijak masyarakat mengelola pangan yang tersedia. Produksi yang tinggi tidak akan memberi manfaat optimal apabila pemborosan tetap berlangsung dalam skala besar. Karena itu, upaya mengurangi food loss dan food waste perlu dipandang sebagai bagian penting dari pembangunan pangan yang berkelanjutan.Indonesia membutuhkan sistem pangan yang kuat sekaligus budaya konsumsi yang lebih bijak. Sebab menjaga ketahanan pangan bukan hanya soal menyediakan lebih banyak makanan, melainkan juga memastikan semakin sedikit pangan yang hilang dan semakin sedikit makanan yang mubazir. Mengurangi food waste dan food loss bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau pelaku industri pangan, tetapi juga tanggung jawab moral seluruh masyarakat demi masa depan pangan yang lebih berkelanjutan.