Ilustrasi Anak Sedang Emosi (sumber: pexels/meryl cusinato)Seorang anak yang mudah menangis, cepat marah, atau kesulitan menenangkan diri sering kali dianggap sebagai anak yang manja atau kurang disiplin. Padahal, kemampuan mengontrol emosi merupakan keterampilan yang perlu dipelajari dan berkembang seiring waktu.Menurut penelitian Lanjekar dkk. (2022), pola asuh dan kualitas hubungan antara orang tua dan anak memiliki peran penting dalam membantu anak memahami, mengekspresikan, dan mengontrol emosinya. Artinya, ketika anak kesulitan mengontrol emosi, penyebabnya tidak selalu berasal dari diri anak semata.Karena itu, ketika anak terlihat mudah marah atau kesulitan mengontrol emosinya, penting untuk melihat faktor-faktor yang mungkin berperan di baliknya.Anak Belajar Mengelola Emosi dari Orang TuanyaSejak usia dini, anak belajar melalui pengamatan. Mereka memperhatikan bagaimana orang tua merespons masalah, menghadapi stres, dan mengekspresikan perasaan.Ketika orang tua mampu menunjukkan cara mengontrol emosi dengan baik, anak akan memiliki contoh yang positif untuk ditiru. Sebaliknya, jika anak sering melihat kemarahan, bentakan, atau konflik yang tidak terselesaikan, mereka dapat meniru pola tersebut saat menghadapi situasi yang membuat frustrasi.Anak Membutuhkan Rasa Aman untuk Belajar Mengendalikan DiriAnak yang merasa didengar, dipahami, dan diterima biasanya lebih mudah mengembangkan kemampuan mengontrol emosi.Sebaliknya, jika anak sering merasa takut, dihakimi, atau tidak diperbolehkan mengungkapkan perasaannya, mereka mungkin kesulitan memahami apa yang sebenarnya sedang dirasakan. Akibatnya, emosi yang menumpuk dapat muncul dalam bentuk tantrum, ledakan kemarahan, atau perilaku agresif.Pola Asuh yang Terlalu Keras Dapat Menghambat Regulasi EmosiSebagian orang tua percaya bahwa disiplin yang keras akan membuat anak lebih patuh. Namun, penelitian menunjukkan bahwa pola asuh yang kasar, agresif, atau terlalu mengontrol justru berkaitan dengan meningkatnya masalah emosi pada anak.Anak dapat menjadi lebih mudah cemas, sedih, kesepian, atau kesulitan mengendalikan impulsnya. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi hubungan sosial dan kesejahteraan psikologis mereka.Kemampuan Mengontrol Emosi Perlu Dilatih, Bukan DipaksaMengontrol emosi merupakan keterampilan yang berkembang secara bertahap. Anak tidak langsung mampu menenangkan diri ketika marah atau kecewa.Orang tua berperan penting dalam membantu anak mengenali perasaan mereka, memberi nama pada emosi yang dirasakan, dan mengajarkan cara yang sehat untuk mengekspresikannya. Ketika anak mendapat pendampingan yang tepat, kemampuan regulasi emosinya akan berkembang seiring waktu.Kehangatan Orang Tua Membantu Anak Menjadi Lebih TangguhAnak yang merasa dicintai dan didukung oleh orang tuanya cenderung lebih percaya diri saat menghadapi masalah. Mereka juga lebih mudah bangkit ketika mengalami kegagalan atau kekecewaan dibandingkan anak yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh tekanan.Kemampuan anak dalam mengontrol emosi bukan hanya dipengaruhi oleh kepribadian mereka, tetapi juga oleh lingkungan tempat mereka tumbuh. Oleh karena itu, ketika anak terlihat sulit mengontrol emosi, penting bagi kita untuk tidak langsung menyalahkan mereka. Terkadang, anak yang terlihat mudah marah bukanlah anak yang nakal. Mereka mungkin hanya belum mengetahui cara yang tepat untuk memahami dan mengungkapkan apa yang sedang dirasakan. Di sinilah peran orang tua menjadi penting, bukan hanya sebagai pengasuh, tetapi juga sebagai tempat pertama bagi anak untuk belajar mengenali emosi mereka.