Yang Salah Tidak Lagi Terasa Salah

Wait 5 sec.

Ilustrasi Garuda Pancasila. Foto: Shutterstock“Barangkali ancaman terbesar bagi sebuah bangsa bukan ketika banyak orang berbuat salah, melainkan ketika kesalahan itu perlahan tidak lagi terasa salah.”Belakangan ini, saya sering merasa bahwa bangsa kita sedang menghadapi sesuatu yang sebenarnya berbahaya, tetapi justru makin jarang disadari: kita mulai terlalu akrab dengan ketidakjujuran.Bukan ketidakjujuran besar yang setiap hari muncul di berita televisi. Bukan pula kasus-kasus besar yang nilainya miliaran rupiah. Yang saya maksud justru hal-hal kecil yang perlahan dianggap biasa dalam kehidupan sehari-hari.Titip absen.Manipulasi laporan sedikit.“Uang terima kasih.”Mencari jalur belakang.Atau praktik cashback yang sering dianggap sekadar bagian dari budaya kerja.Kalimat pembenarannya juga terasa semakin familiar.“Semua orang juga begitu.”“Cuma sekali.”“Yang penting sama-sama untung.”“Aturan itu fleksibel.”Mungkin terdengar sederhana. Namun justru dari situlah persoalannya dimulai.Saya kadang bertanya-tanya: Sejak kapan kita mulai terlalu mudah memaklumi hal-hal seperti itu?Sebab yang mengkhawatirkan sebenarnya bukan hanya perilakunya, melainkan juga perubahan cara berpikir kita terhadap perilaku tersebut. Banyak orang hari ini tampaknya tidak lagi terlalu sibuk memikirkan benar atau salah. Yang lebih dipikirkan justru aman atau tidak.Selama tidak ketahuan, selama tidak viral, selama tidak menimbulkan masalah besar, semuanya terasa masih bisa dimaklumi.Dan pelan-pelan, batas antara benar dan biasa mulai kabur.Ilustrasi korupsi. Foto: Freedomz/ShutterstockIronisnya, di saat yang sama kita masih senang berbicara tentang pentingnya moral, integritas, bahkan nasionalisme. Kita marah pada korupsi besar, kecewa pada pejabat yang tidak amanah, dan kesal melihat ketidakadilan.Namun dalam kehidupan sehari-hari, kadang kita sendiri tanpa sadar sedang memelihara akar kecil dari masalah yang sama.Kejujuran dipuji dalam pidato, tetapi sering dianggap terlalu ideal dalam praktik kehidupan nyata.Anak-anak diajarkan pentingnya integritas di sekolah. Namun di luar kelas, mereka tumbuh di lingkungan yang sering memperlihatkan bahwa mencari celah dianggap lebih realistis daripada berlaku lurus.Di media sosial situasinya tidak jauh berbeda. Banyak orang berlomba terlihat sukses, terlihat mapan, terlihat bahagia. Kadang citra terasa jauh lebih penting daripada keaslian.Yang penting terlihat berhasil.Soal proses, belakangan.Kita hidup di masa ketika penampilan sering lebih menentukan daripada karakter.Dan mungkin karena terlalu sering melihat itu, kita menjadi terbiasa.Padahal, sejarah menunjukkan bahwa kerusakan besar hampir selalu lahir dari pembiaran terhadap hal-hal kecil. Korupsi besar tidak muncul tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan dari kompromi kecil yang terus diulang dan akhirnya dianggap wajar.Dari rasa malu yang makin menipis.Dari kebiasaan menoleransi pelanggaran kecil karena merasa semua orang juga melakukannya.Yang lebih mengkhawatirkan, ketika ketidakjujuran terlalu lama dianggap biasa, masyarakat perlahan kehilangan kepercayaan satu sama lain. Orang mulai curiga terhadap sistem, terhadap institusi, bahkan terhadap sesama.Ilustrasi perundungan terhadap orang jujur. Foto: ShutterstockDalam situasi seperti itu, orang jujur justru kadang dianggap aneh. Terlalu lurus. Terlalu idealis. Sementara mereka yang pandai mencari celah sering dipandang lebih “cerdas” dan lebih mampu bertahan hidup.Dan di situlah sesungguhnya alarm bagi sebuah bangsa mulai berbunyi.Sebab bangsa yang kuat tidak hanya dibangun oleh pertumbuhan ekonomi, gedung tinggi, atau kemajuan teknologi. Bangsa yang kuat berdiri di atas kepercayaan, integritas, dan rasa tanggung jawab sosial.Ketika nilai-nilai itu mulai melemah, yang terancam bukan hanya kualitas moral masyarakat, melainkan juga keberlanjutan bangsa itu sendiri.Sebuah negara mungkin masih mampu bertahan menghadapi krisis ekonomi atau tekanan politik. Namun, bangsa akan jauh lebih sulit bertahan jika ketidakjujuran telah berubah menjadi budaya sosial yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.Karena keberlanjutan sebuah bangsa pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh sumber daya alam atau pembangunan fisik, tetapi juga oleh kemampuan masyarakatnya menjaga kepercayaan dan integritas dalam kehidupan bersama.Dalam konteks itu, saya kira peringatan Hari Lahir Pancasila seharusnya tidak berhenti sebagai acara seremonial tahunan. Momentum ini mestinya menjadi kesempatan untuk melihat diri kita sendiri secara lebih jujur.Sebab persoalan terbesar bangsa ini mungkin bukan semata-mata soal ekonomi atau politik. Tantangan yang lebih sunyi justru muncul ketika masyarakat mulai kehilangan sensitivitas moral terhadap ketidakjujuran.Ilustrasi Garuda Pancasila. Foto: ShutterstockPancasila pada akhirnya bukan hanya soal hafalan lima sila atau upacara setiap tahun. Nilainya hidup dalam tindakan sehari-hari. Dalam cara kita bekerja. Dalam cara kita menggunakan amanah. Dalam keberanian berkata tidak terhadap sesuatu yang sebenarnya kita tahu keliru.Sayangnya, kita sering ingin Indonesia yang bersih tanpa mau terlalu repot memulai dari diri sendiri.Kita ingin pemimpin yang jujur, tetapi masih bangga jika punya “orang dalam”. Kita marah pada praktik korupsi besar, tetapi sering diam terhadap manipulasi kecil yang terjadi di sekitar kita.Mungkin karena dampaknya tidak langsung terasa.Atau mungkin karena kita sudah terlalu lama menganggapnya biasa.Padahal, sebuah bangsa tidak runtuh dalam satu malam. Ia melemah sedikit demi sedikit ketika masyarakatnya mulai kehilangan rasa malu terhadap ketidakjujuran.Dan sejarah banyak bangsa menunjukkan, keruntuhan moral hampir selalu datang lebih dulu sebelum keruntuhan sosial yang lebih besar.Karena itu, menurut saya, pertanyaan terpenting di Hari Lahir Pancasila tahun ini sebenarnya sederhana saja:Apakah kita masih merasa bersalah ketika tidak jujur?Sebab ketika rasa bersalah itu mulai hilang, yang sedang terancam bukan hanya moral individu,melainkan juga keberlanjutan bangsa itu sendiri.