Sebuah rumah di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, alami 51 kebakaran misterius selama seminggu terakhir. Api membakar sembarang benda yang terbuat dari kain, gabus, plastik, hingga kayu, Jumat (29/5/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan @kumparan Misteri kebakaran yang terjadi 51 kali dalam sepekan di sebuah rumah di Seyegan, Sleman, diduga berkaitan dengan keberadaan gas metana di bawah permukaan tanah. Tim dari UPN Veteran Yogyakarta menemukan indikasi sumber gas sekitar 300 meter dari lokasi rumah. Dekan FTME UPN Veteran Yogyakarta, Prof. Basuki Rahmad, mengatakan tim menemukan singkapan batuan berwarna gelap di dekat Sungai Ndepen yang memiliki genangan air dan gelembung-gelembung gas. Setelah dilakukan pengecekan, gelembung tersebut terindikasi kuat merupakan gas metana (CH4). Menurut Basuki, wilayah tersebut diduga merupakan bekas rawa sehingga gas tersimpan di dalam batuan dan bermigrasi melalui retakan tanah hingga mencapai area permukiman. Meski demikian, tekanan gas yang ditemukan tergolong rendah dan saat ini kondisi di rumah warga sudah tidak lagi memunculkan api. Tim UPN bersama ESDM akan terus memantau perkembangan selama beberapa minggu ke depan. Sementara itu, warga pemilik rumah disarankan sementara tinggal di lantai dua hingga kondisi benar-benar dinyatakan aman. Di sisi lain, tim Departemen Teknik Geologi UGM juga akan memeriksa jalur pipa air dan sumur di sekitar lokasi. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan ada atau tidaknya kontaminasi gas metana yang diduga ikut memicu rangkaian kebakaran misterius tersebut. 📸: Dok. Mutviana. Baca selengkapnya dengan klik link di bio. Cari tahu berita update lainnya dengan download aplikasi kumparan di App Store atau Google Play. 📝: focus | rumahsleman | news | videonews | R158 | E025 | V157 #bicarafaktalewatberita #kumparan ♬ original sound - kumparan - kumparan @kumparan Kasus kebakaran misterius yang terjadi 51 kali di sebuah rumah di Seyegan, Sleman, diduga berkaitan dengan akumulasi gas metana. Ahli geologi dari UGM menjelaskan gas tersebut dapat terperangkap pada benda-benda berpori seperti pakaian, kain, dan sofa. Dosen Departemen Teknik Geologi UGM, Dr. Sarju Winardi, mengatakan hasil pengukuran menggunakan kamera termal menunjukkan titik-titik munculnya api berada di area yang memiliki suhu lebih tinggi. Menurutnya, gas metana memiliki karakteristik mirip LPG, namun dengan tekanan dan nilai kalor yang lebih rendah. Karena itu, gas metana membutuhkan waktu untuk terkumpul dalam jumlah tertentu sebelum bisa terbakar. Gas dapat tersimpan pada material berpori, lalu menyala ketika konsentrasinya cukup tinggi dan bereaksi dengan oksigen. Untuk mengurangi risiko, Sarju menyarankan perbaikan sirkulasi udara di dalam rumah, misalnya dengan membuka ventilasi serta memasang kipas angin atau blower. Langkah tersebut dapat membantu mengurangi penumpukan gas metana di dalam ruangan. Menurutnya, ketika berada di ruang terbuka, gas metana akan lebih mudah menyebar dan kadarnya menurun sehingga potensi terjadinya kebakaran juga menjadi lebih kecil. 📸: Dok. kumparan/Panji. Baca selengkapnya dengan klik link di bio. Cari tahu berita update lainnya dengan download aplikasi kumparan di App Store atau Google Play. 📝: focus | rumahsleman | news | videonews | R158 | E073 | V157 #bicarafaktalewatberita #kumparan ♬ original sound - kumparan - kumparan @kumparan Rumah milik Mutvia di Sleman, Yogyakarta, mengalami 51 kali kebakaran misterius dalam sepekan. Api muncul secara acak di berbagai titik rumah dan membakar sejumlah benda seperti kain, tikar, sofa, hingga pintu. Kebakaran pertama terjadi pada 23 Mei 2026 dini hari. Polisi sempat menduga kebocoran gas metana dari septic tank menjadi penyebab dan menyarankan pembongkaran serta pengurasan septic tank. Namun, kebakaran kembali terjadi tak lama setelah proses tersebut dilakukan. Akibat kejadian itu, Mutvia dan keluarganya terpaksa mengungsi ke rumah tetangga dan bergantian berjaga untuk mengantisipasi kemunculan api. Tim UGM dan Pemda DIY kini melakukan observasi guna mencari penyebab pasti kebakaran. Meski banyak spekulasi beredar, keluarga menolak mengaitkan peristiwa tersebut dengan hal mistis dan meyakini penyebabnya dapat dijelaskan secara ilmiah. 📸: Dok. Mutvia, kumparan/Panji Purnandaru. Baca selengkapnya dengan klik link di bio. Cari tahu berita update lainnya dengan download aplikasi kumparan di App Store atau Google Play. 📝: focus | rumahsleman | news | svl | R120 | E051 | V175 | V183 #bicarafaktalewatberita #kumparan ♬ original sound - kumparan - kumparan