Agus Yani (61 tahun), pemilik rumah yang terbakar misterius puluhan kali di Seyegan Sleman. Update terkini kebakaran terjadi 81 kali termasuk di ruko yang berada di sisi utara rumah, Selasa (2/6/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparanSebanyak 81 kebakaran terjadi di sebuah rumah di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman selama 11 hari terakhir.Tim peneliti dari UGM dan UPN telah terjun ke lokasi untuk menginvestigasi kebakaran misterius ini. Dugaan sementara, kebakaran dipicu gas metana hingga temuan tingginya gas hidrogen.BPBD Sleman pun meminta masyarakat waspada terhadap kemungkinan titik api merembet ke bangunan di sekitarnya."Pertama semua waspada ya, kita enggak tahu ini apa. Kita enggak tahu ini gas apa, sumbernya dari mana juga belum belum bisa dipastikan ya. Makanya menunggu ahlinya, baik dari tim Geologi UPN maupun tim dari UGM ya. Termasuk juga dari BPPTKG, Gegana Brimob Polda juga kemarin," kata Kepala Pelaksana BPBD Sleman Bambang Kuntoro ditemui di lokasi, Selasa (2/6).Sebuah rumah di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, alami 51 kebakaran misterius selama seminggu terakhir. Api membakar sembarang benda yang terbuat dari kain, gabus, plastik, hingga kayu, Jumat (29/5/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparanTerkait merembetnya titik api ke ruko sebelah rumah, Bambang mengatakan Damkar telah menitipkan lima tabung APAR untuk kedaruratan."Kedua, teman-teman warga sekitar sudah kamling, jaga warganya kamling (keamanan keliling), Linmas-nya kamling, Redkar-nya (relawan damkar) kamling, relawannya kamling, TRC kami juga ikut semua terlibat," katanya."Kasihan mereka, beliau-beliau ini sudah belasan hari tidurnya enggak nyenyak to," katanya.Kepala Pelaksana BPBD Sleman Bambang Kuntoro saat di lokasi rumah yang puluhan lali kebakaran misterius di Seyegan, Kabupaten Sleman, Selasa (2/6/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparanBambang mengatakan armada kebakaran milik Damkar Sleman juga disiagakan. Apabila ada situasi yang berbahaya dapat segera meluncur."Damkar standby. On call siap. Kita sudah sampaikan ke Pak Kasatpol PP dan dari petugas Damkar-nya untuk bisa kolaborasi lah. Namanya juga musibah enggak ada yang menginginkan, apalagi seperti ini yang kelanjutannya belum pasti esok seperti apa. Apa sumbernya atau penyebabnya," pungkasnya.Temuan Peneliti UPNDekan Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) UPN "Veteran" Yogyakarta, RM. Basuki Rahmad, di lokasi rumah puluhan kali kebakaran misterius di Seyegan, Kabupaten Sleman, Selasa (2/6/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparanDekan Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) UPN "Veteran" Yogyakarta, RM. Basuki Rahmad, bersama timnya kembali terjun ke lokasi rumah itu, Selasa (2/6)."Rupanya kebakaran itu meluas ke tetangga sebelah. Jadi, melebar ke sebelah. Yang sisi utara (bangunan ruko)," kata Basuki."Nah, yang unik, bakarnya itu nggak di dalam rumah. Yang kebakaran itu adalah bahan triplek di luar rumah," bebernya.Peristiwa ini, menurut Basuki semakin menguatkan di bawah permukaan tanah terdapat gas metana."Jadi semakin menguatkan ini memang di bawah permukaan ini ada gas metana. Nah, terus keluar ke udara. Nah, gas metana itu CH4 ya. Molekul CH4 tuh dia memang suka nempel pada molekul H2O," katanya."Seperti kelembapan, lembap. Daerah yang lembap-lembap gitu. Itu senang di situ," katanya.Ia melanjutkan, Tim Geofisika UPN Veteran akan memetakan lapisan batuan di bawah yang diduga kuat membawa gas metana.Beberapa hari lalu, tim UPN menemukan singkapan batuan yang ada genangan air dan ada indikasi gelembung-gelembung gas pada jarak 300 meter dari rumah warga itu.Sebuah rumah di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, alami 51 kebakaran misterius selama seminggu terakhir. Api membakar sembarang benda yang terbuat dari kain, gabus, plastik, hingga kayu, Jumat (29/5/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan"Batuan itu ada bendungan. Ada batuan di tebing batuan. Cirinya apa itu ada gas? Batuan itu adalah batuan yang butirnya halus. Kami menyebutnya sebagai batu lanau, lanauan, warnanya gelap," katanya."Nah, gelap itu artinya akibat diduga kuat memang akibat dari karbon organik C. Nah, karbon organik itulah sebagai sumbernya gas metana, terbentuk dalam batuan itu," bebernya.Maka dari itu perlu rekaman geofisika untuk mengetahui menyebar ke mana saja gas metana itu."Itulah besok validasi akan kita gunakan rekaman geofisika," pungkasnya.Basuki mengatakan, di dekat singkapan batuan itu, menurut informasi penduduk, ada kebakaran secara alami sekitar satu setengah tahun yang lalu."Kebakaran itu secara alami, membakar bambu dia," katanya."Di parit juga ada yang kebakaran sendiri (alami)," katanya.Selain itu, tukang yang menggali sumur sempat mencium bau gas sehingga pekerjaan diberhentikan."Jadi itulah data-data yang sangat penting bagi kami untuk melokalisir besok rekaman geofisika akan dibuat line-line lah. Kita, kita coba sebaran batuan pembawa gas tuh berapa luas, sebarannya arah ke mana," pungkasnya.