Kisah Para Ibu Tangguh Bangkit dari Luka Kejar Kemandirian

Wait 5 sec.

Melalui program ATENSI, Kemensos bantu Grasiana dan Maria di NTT bangkit dari trauma KDRT lewat usaha mandiri, Selasa (2/6/2026). Foto: Dok. KemensosDi balik rumah berdinding bambu yang rapuh dan beratapkan seng, Grasiana Kune tinggal dengan empat anaknya di Kelurahan Kelimutu, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT). Rumahnya berdiri di atas tanah milik orang lain, minim ventilasi dan sanitasi yang jauh dari kata layak.Namun, hal paling menyakitkan bukanlah kemiskinan itu sendiri. Luka terdalam justru datang dari orang yang seharusnya menjadi tempatnya berlindung.Grasiana sempat mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang meninggalkan bekas luka tak mudah hilang. Sebagai seorang ibu, ia memilih tetap berdiri dengan tegar demi menghidupi empat anaknya yang masih kecil.Melalui program ATENSI, Kemensos bantu Grasiana dan Maria di NTT bangkit dari trauma KDRT lewat usaha mandiri, Selasa (2/6/2026). Foto: Dok. KemensosGrasiana sebelumnya pernah membuka warung. Namun, usaha itu habis modal dan keuntungannya ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga.Ditengah perjuangannya itu, secercah harapan nyata datang untuk Grasiana dan keluarganya. Melalui Program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI), Kementerian Sosial (Kemensos) hadir memberikan bantuan kewirausahaan bagi Grasiana berupa bantuan modal usaha warung.Kini, di sudut rumah tanpa jendela itu, Grasiana menjual makanan ringan, minuman, dan kebutuhan sehari-hari. Dari setiap barang yang terjual bukan hanya mendatangkan uang, tetapi menjadi bukti bahwa ia mampu melangkah dan bangkit dari luka yang pernah dirasakannya.Melalui program ATENSI, Kemensos bantu Grasiana dan Maria di NTT bangkit dari trauma KDRT lewat usaha mandiri, Selasa (2/6/2026). Foto: Dok. Kemensos“Saya ucapkan terima kasih kepada Kementerian Sosial yang telah memberikan bantuan usaha. Saya berharap warung ini lancar untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari,” harapnya.Kisah pilu serupa juga dirasakan oleh Maria Fonsalia Mete, ibu dari enam anak. Ia pernah mengalami KDRT yang meninggalkan luka fisik sekaligus luka batin tak kasat mata.Di rumah sederhana milik orangtuanya, Maria membesarkan enam anak seorang diri. Di sela kerepotannya mengurus keluarga, ia menenun.Benang demi benang yang Maria rajut, bukan hanya menjadi kain, tetapi menjadi harapan. Harapan agar anak-anaknya tetap bisa makan, bersekolah, dan masa depan mereka tidak mewarisi luka yang pernah ia rasakan. Setiap helai kain yang lahir dari alat tenunnya juga menjadi cerita ketabahan seorang ibu yang menolak menyerah.Melalui program ATENSI, Kemensos bantu Grasiana dan Maria di NTT bangkit dari trauma KDRT lewat usaha mandiri, Selasa (2/6/2026). Foto: Dok. Kemensos“Kain biasa (pengerjaannya) dua hari, jika motifnya rumit bisa sebulan baru selesai (ditenun), terutama kain bagi wanita," jelas Maria.Berbeda dengan Grasiana, Maria menerima bantuan perlengkapan usaha tenun berupa benang dan peralatan yang dapat menunjang usahanya dari Kemensos. Ia pun berharap agar usaha tenunnya bisa semakin berkembang setelah mendapatkan bantuan ini.Melalui program ATENSI, Kemensos bantu Grasiana dan Maria di NTT bangkit dari trauma KDRT lewat usaha mandiri, Selasa (2/6/2026). Foto: Dok. Kemensos"Terima kasih bantuan modal dari Kemensos telah kami terima, harapannya terus jalan dan berkembang,” ucapnya.