Sumber gambar: Ilustrasi dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI) melalui ChatGPT Image Generator. Belakangan ini, MBTI menjadi salah satu topik yang sangat populer di kalangan anak muda. Empat huruf seperti INFP, ENTP, atau INFJ sering muncul di media sosial, aplikasi kencan, bahkan obrolan sehari-hari. Banyak orang merasa hasil MBTI mereka terasa sangat sesuai dengan kepribadiannya. Banyak juga yang mengatakan bahwa deskripsi tersebut terasa “aku banget”.Karena itu, MBTI akhirnya tidak lagi dianggap sekadar tes kepribadian biasa. Bagi sebagian orang, MBTI terasa seperti alat untuk memahami diri sendiri, memahami pasangan, hingga mencari circle yang dianggap cocok dengan kepribadiannya.Namun, muncul satu pertanyaan menarik: mengapa hasil MBTI bisa terasa sangat akurat bagi banyak orang?Apa Itu MBTI?MBTI atau Myers-Briggs Type Indicator merupakan tes kepribadian yang membagi manusia ke dalam 16 tipe kepribadian. Tes ini dikembangkan berdasarkan teori Carl Jung dan menggunakan beberapa dimensi seperti introvert-ekstrovert, thinking-feeling, serta sensing-intuition. Dari kombinasi dimensi tersebut, muncul tipe-tipe kepribadian yang sering kita kenal hari ini.Di media sosial, MBTI sering dibahas dengan cara yang ringan dan menyenangkan. Misalnya, tipe tertentu dianggap cocok menjadi pemimpin, ada tipe yang disebut “si paling overthinking”, sampai tipe yang dianggap paling emosional atau paling sulit jatuh cinta. Karena pembahasannya terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari, banyak orang akhirnya tertarik mencoba tes tersebut.MBTI Ternyata Masih DiperdebatkanMeski sangat populer, MBTI ternyata masih menjadi perdebatan dalam dunia psikologi. Beberapa peneliti menilai bahwa kepribadian manusia sebenarnya terlalu kompleks untuk dimasukkan ke dalam kategori yang benar-benar tetap. Ada juga kritik yang menyebut bahwa hasil MBTI tidak selalu konsisten dan validitas ilmiahnya masih dipertanyakan.Menurut Randy Stein dan Alexander Swan, teori MBTI memiliki beberapa kelemahan karena dianggap kurang sesuai dengan standar ilmiah psikologi modern. Mereka menjelaskan bahwa konsep “tipe kepribadian tetap” yang digunakan MBTI masih diperdebatkan dan belum sepenuhnya didukung bukti empiris yang kuat.Meski begitu, popularitas MBTI justru terus meningkat, terutama di media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa banyak orang tetap merasa hasil MBTI relevan dengan dirinya.Barnum Effect: Alasan MBTI Terasa Sangat “Relate”Salah satu penjelasan psikologis yang paling sering digunakan untuk memahami fenomena ini adalah Barnum Effect. Fenomena ini menjelaskan kecenderungan seseorang untuk merasa bahwa deskripsi yang umum bisa terlihat sangat personal.Contohnya seperti kalimat berikut:“Kamu sebenarnya senang bersosialisasi, tetapi di saat tertentu juga membutuhkan waktu sendiri.”Kalimat seperti ini terdengar personal, padahal sebenarnya bisa cocok untuk banyak orang. Menariknya, otak manusia cenderung fokus pada bagian yang terasa sesuai dengan dirinya dibanding mempertanyakan apakah deskripsi tersebut sebenarnya cukup umum.Menurut Dickson dan Kelly, Barnum Effect membuat seseorang lebih mudah percaya pada deskripsi kepribadian yang bersifat umum, terutama jika deskripsi tersebut terdengar positif dan relevan dengan dirinya.Eksperimen Forer dan Ilusi “Ini Gue Banget”Fenomena Barnum Effect pertama kali diteliti oleh seorang psikolog bernama Bertram Forer. Dalam eksperimennya, Forer memberikan tes kepribadian kepada para mahasiswa. Setelah itu, semua mahasiswa menerima hasil deskripsi kepribadian yang sama persis. Namun, sebagian besar mahasiswa merasa deskripsi tersebut sangat akurat dan benar-benar menggambarkan diri mereka.Yang menarik, para mahasiswa tersebut ternyata tidak sadar bahwa mereka menerima deskripsi yang sama persis. Hal ini menunjukkan bahwa manusia memang memiliki kecenderungan untuk merasa “terwakili” oleh deskripsi yang sebenarnya cukup universal.Hal inilah yang membuat banyak orang merasa hasil MBTI seolah benar-benar menggambarkan dirinya. Semakin seseorang menemukan bagian yang terasa sesuai, semakin besar kemungkinan ia percaya bahwa hasil tersebut benar-benar akurat.Mengapa Banyak Orang Tetap Menyukai MBTI?Selain karena Barnum Effect, popularitas MBTI juga berkaitan dengan kebutuhan manusia untuk memahami dirinya sendiri. Banyak orang, terutama remaja dan dewasa awal, sedang berada dalam fase mencari identitas diri. Mereka ingin mengetahui siapa dirinya, bagaimana cara berpikirnya, dan mengapa dirinya berbeda dari orang lain.Menurut Hua dan Zhou, penggunaan tes kepribadian seperti MBTI dapat membantu seseorang membangun pemahaman terhadap identitas dirinya. MBTI memberi penjelasan sederhana yang membuat seseorang merasa lebih mudah mengenali dirinya sendiri.Selain itu, MBTI juga memberikan rasa dipahami. Ketika seseorang menemukan deskripsi yang terasa sesuai dengan dirinya, muncul perasaan bahwa ternyata ada orang lain yang memiliki pengalaman atau pola pikir yang mirip. Hal ini membuat seseorang merasa tidak sendirian.Di sisi lain, manusia juga memiliki kecenderungan yang disebut confirmation bias, yaitu lebih mudah memperhatikan informasi yang sesuai dengan keyakinannya. Setelah mengetahui tipe MBTI tertentu, seseorang biasanya mulai mencari bukti yang mendukung hasil tersebut. Sementara bagian yang kurang cocok sering kali diabaikan.MBTI sebagai Alat Refleksi DiriMeski memiliki banyak kritik, bukan berarti MBTI sepenuhnya buruk atau tidak berguna. Banyak orang tetap merasa terbantu karena MBTI dapat menjadi alat refleksi diri dan membuka diskusi tentang kepribadian.Namun, hasil MBTI sebaiknya tidak dijadikan label mutlak untuk menilai diri sendiri maupun orang lain. Kepribadian manusia jauh lebih kompleks dibanding sekadar empat huruf tertentu.Pada akhirnya, popularitas MBTI mungkin menunjukkan bahwa manusia memang punya kebutuhan untuk merasa dipahami dan mengenali dirinya sendiri. _______________________________________________Ditulis oleh: Elsa Eka Puspita dan Dr. Rachmat Mulyono, M.Si., Psikolog.