Kenapa Rasanya Semua Teman Sudah Lebih Dulu Sukses?

Wait 5 sec.

Gambar 1. Ilustrasi mahasiswa yang merasa tertekan saat belajar dan menghadapi tuntutan akademik. Sumber gambar: Pexels, foto oleh Berna. Gambar digunakan sebagai ilustrasi umum, bukan representasi diagnosis psikologis tertentu.Pernah merasa hidup orang lain terlihat lebih rapi daripada hidup sendiri? Teman sudah mulai magang, ikut organisasi, menang lomba, punya bisnis kecil, atau terlihat punya banyak relasi. Sementara itu, diri sendiri masih merasa jalan di tempat, bingung mau mulai dari mana, dan diam-diam bertanya, “Kok aku belum jadi apa-apa, ya?”Perasaan seperti ini cukup sering muncul pada mahasiswa. Masa kuliah memang bukan hanya soal kelas, tugas, dan ujian. Di fase ini, seseorang mulai melihat banyak versi kehidupan orang lain. Ada yang terlihat cepat berkembang, ada yang terlihat sudah punya arah jelas, dan ada juga yang tampak selalu produktif. Dari luar, semua tampak meyakinkan.Masalahnya, ketika terlalu sering melihat pencapaian orang lain, seseorang bisa lupa melihat prosesnya sendiri. Hidup teman terlihat seperti garis lurus yang rapi, sedangkan hidup sendiri terasa penuh jeda, belokan, dan kebingungan. Padahal, yang terlihat dari luar tidak selalu menunjukkan keseluruhan cerita.Saat Hidup Orang Lain Terlihat Lebih RapiMedia sosial membuat perasaan tertinggal semakin mudah muncul. Di layar ponsel, orang biasanya menampilkan bagian hidup yang paling siap dilihat: sertifikat, acara organisasi, foto magang, liburan, atau momen bahagia. Jarang ada yang menunjukkan proses panjang, rasa gagal, atau hari-hari ketika mereka juga merasa bingung.Akhirnya, kita sering membandingkan bagian paling berantakan dari hidup sendiri dengan bagian paling rapi dari hidup orang lain. Dari situ, pikiran mulai membuat kesimpulan yang belum tentu benar. “Aku kalah jauh.” “Aku kurang usaha.” “Aku tidak seberkembang teman-teman.” Padahal, kesimpulan seperti itu sering muncul dari potongan informasi yang sangat terbatas.Dalam Psikologi, Ini Disebut Perbandingan SosialDalam psikologi, kecenderungan menilai diri dengan melihat orang lain dikenal sebagai perbandingan sosial. Sederhananya, manusia memang sering memakai orang lain sebagai patokan untuk memahami posisi dirinya. Hal ini wajar, karena manusia hidup di lingkungan sosial dan tidak bisa benar-benar lepas dari penilaian sekitar.Perbandingan sosial tidak selalu buruk. Kadang, melihat pencapaian orang lain bisa membuat seseorang termotivasi. Misalnya, melihat teman mulai magang lalu ikut terdorong untuk memperbaiki CV. Namun, perbandingan ini bisa menjadi melelahkan ketika berubah menjadi kebiasaan merendahkan diri sendiri. Bukan lagi “aku bisa belajar dari dia”, tetapi berubah menjadi “aku tidak ada apa-apanya dibanding dia”.Gambar 2. Ilustrasi anak muda yang melihat layar ponsel bersama dan dapat berkaitan dengan kebiasaan membandingkan diri melalui media sosial. Sumber gambar: Pexels, foto oleh Yan Krukau. Gambar digunakan sebagai ilustrasi umum.Kenapa Mahasiswa Mudah Merasa Tertinggal?Mahasiswa sering berada di fase yang serba belum pasti. Ada yang masih mencari minat, ada yang belum menemukan lingkungan yang cocok, ada yang sedang mencoba banyak hal tetapi belum terlihat hasilnya. Di saat yang sama, tuntutan untuk cepat berhasil terasa datang dari berbagai arah: keluarga, teman sebaya, media sosial, bahkan dari diri sendiri.Perasaan tertinggal juga bisa muncul karena seseorang terlalu fokus pada hasil akhir. Padahal, proses setiap orang tidak dimulai dari titik yang sama. Ada yang punya dukungan keluarga kuat, ada yang harus berjuang lebih sendiri. Ada yang sejak awal sudah tahu ingin ke mana, ada juga yang perlu waktu lebih lama untuk mengenali dirinya. Perbedaan ini sering tidak terlihat ketika seseorang hanya melihat pencapaian dari permukaan.Karena itu, merasa tertinggal tidak selalu berarti seseorang benar-benar gagal. Bisa jadi, ia sedang berada di tahap mencari arah. Bisa jadi, prosesnya belum terlihat. Bisa juga, ia sedang terlalu keras menilai dirinya sendiri.Psikodiagnostik Tidak Bekerja dengan Tebakan CepatKalau dilihat dari sudut psikodiagnostik, perasaan “aku tertinggal” tidak langsung berarti seseorang memiliki masalah psikologis tertentu. Psikolog tidak menyimpulkan kondisi seseorang hanya dari satu perasaan, satu unggahan media sosial, atau satu cerita singkat. Dalam asesmen psikologi, kondisi seseorang perlu dipahami dari berbagai sisi, seperti riwayat kehidupan, kondisi emosi, pola pikir, perilaku sehari-hari, dan dampaknya terhadap aktivitas.Hal ini penting karena banyak orang mudah memberi label pada dirinya sendiri. Merasa sedih sedikit langsung menganggap diri depresi. Cemas menghadapi masa depan langsung merasa punya gangguan kecemasan. Merasa tertinggal dari teman langsung menganggap dirinya gagal total. Padahal, pengalaman emosional manusia jauh lebih kompleks daripada satu label yang diambil dari internet.Mengenali diri sendiri berbeda dengan mendiagnosis diri sendiri. Mengenali diri berarti sadar bahwa ada perasaan tidak nyaman yang perlu diperhatikan. Sementara itu, mendiagnosis diri berarti langsung memberi nama pada kondisi psikologis tanpa pemeriksaan yang tepat. Informasi psikologi boleh menjadi pintu awal untuk memahami diri, tetapi bukan pengganti bantuan profesional.Jangan Mengukur Hidup dari Kecepatan Orang LainYang sering dilupakan, hidup tidak selalu bergerak dengan kecepatan yang sama. Ada orang yang terlihat cepat berhasil, tetapi bukan berarti semua orang harus punya ritme yang sama. Sebagian orang butuh waktu lebih lama untuk membangun keberanian, mengenali kemampuan, atau menemukan lingkungan yang cocok.Langkah kecil juga tetap termasuk perkembangan. Mulai berani bertanya di kelas, menyusun CV, mencoba daftar kepanitiaan, belajar mengatur waktu, atau berani meminta bantuan ketika kewalahan, semuanya tetap bagian dari proses. Mungkin tidak selalu terlihat besar di mata orang lain, tetapi tetap berarti untuk diri sendiri.Gambar 3. Ilustrasi mahasiswa yang merasa lelah saat belajar di perpustakaan. Sumber gambar: Pexels, foto oleh Tima Miroshnichenko. Gambar digunakan sebagai ilustrasi umum, bukan representasi kondisi psikologis tertentu.Apa yang Bisa Dilakukan Saat Merasa Tertinggal?Ketika perasaan tertinggal mulai muncul, langkah pertama yang bisa dilakukan adalah memberi jarak dari pikiran sendiri. Tidak semua pikiran harus langsung dipercaya. Pikiran seperti “aku gagal” atau “aku tidak sebaik teman-teman” mungkin terasa kuat, tetapi belum tentu benar. Kadang, pikiran itu muncul karena tubuh sedang lelah, tekanan sedang tinggi, atau media sosial terlalu banyak memberi perbandingan.Menulis isi pikiran bisa membantu melihat masalah dengan lebih jelas. Misalnya, menuliskan hal apa yang membuat merasa tertinggal, apa yang sebenarnya sedang dibutuhkan, dan langkah kecil apa yang masih mungkin dilakukan. Cara ini tidak membuat semuanya langsung selesai, tetapi bisa membantu pikiran tidak terlalu penuh.Berbicara dengan orang yang dipercaya juga bisa menjadi langkah yang sehat. Tidak semua hal harus dipendam sendiri. Jika rasa rendah diri, cemas, atau tidak berharga mulai mengganggu tidur, kuliah, hubungan sosial, atau aktivitas harian, berkonsultasi dengan psikolog atau konselor bisa menjadi pilihan yang lebih aman.Pelan-Pelan, Hidup Tidak Harus Sama CepatnyaPada akhirnya, merasa tertinggal dari teman sendiri adalah pengalaman yang manusiawi, terutama saat berada di fase mencari arah hidup. Namun, perasaan itu tidak harus selalu dipercaya sebagai kebenaran penuh. Kadang, yang perlu diperbaiki bukan hidupnya, tetapi cara seseorang menilai dirinya sendiri.Pencapaian orang lain tidak otomatis mengurangi nilai diri sendiri. Hidup bukan perlombaan yang semua orang mulai dari garis yang sama. Setiap orang punya waktu, beban, dukungan, dan proses yang berbeda. Jadi, tidak apa-apa kalau hari ini belum sejauh orang lain. Yang penting, tetap bergerak, meski pelan, dan tetap memberi ruang untuk memahami diri sendiri tanpa terus-menerus merasa kalah.ReferensiAmerican Psychological Association. (2013). Understanding psychological testing and assessment. https://www.apa.org/topics/testing-assessment-measurement/understandingAmerican Psychological Association. (2020). Guidelines for psychological assessment and evaluation. https://www.apa.org/about/policy/guidelines-psychological-assessment-evaluation.pdfFestinger, L. (1954). A theory of social comparison processes. Human Relations, 7(2), 117-140. https://doi.org/10.1177/001872675400700202Nguyen, J. (2023). Social media and self-diagnosis. Johns Hopkins Medicine. https://www.hopkinsmedicine.org/news/articles/2023/08/social-media-and-self-diagnosisOleh Dharwina Baliah, Dr. Rachmat Mulyono M.si, Psikolog.