● UMY memisahkan jalur karier dosen berdasarkan kompetensi dominan untuk meredam beban kerja mereka.● Skema ini bertujuan mengejar kualitas melalui prioritas kerja yang fleksibel tanpa menghilangkan esensi Tri Dharma.● Kebijakan ini berisiko melahirkan spesialisasi kaku, ketimpangan distribusi dosen, dan hierarki simbolis.Belum lama ini, ramai kabar soal Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang menerapkan pemisahan jalur karier dosen berdasarkan talenta: dosen pengajar, dosen peneliti, atau dosen pengabdian masyarakat. Mereka mendorong skema satu dosen, satu fokus dalam pelaksanaan Tri Dharma perguruan tinggi.Sekilas secara harfiah dosen bertugas mengajar di tingkat perguruan tinggi. Tapi nyatanya, keseharian seorang dosen dihabiskan mulai dari berpindah-pindah dari ruang kelas ke naskah publikasi, dari tumpukan administrasi ke ruang bimbingan mahasiswa, dalam ritme yang nyaris tanpa jeda. Di sela itu masih ada proposal hibah, rapat, akreditasi, pengabdian masyarakat, hingga target kinerja institusi.Gambaran ini bukan sekadar kesan personal, melainkan cerminan beratnya beban pekerjaan dosen yang melampaui aktivitas mengajar, meneliti dan melakukan pengabdian masyarakat.Namun, haruskah seorang dosen unggul di semua tugas tersebut? Baca juga: Ribetnya karier dosen di Indonesia: monopoli pemerintah dan logika birokrasi perguruan tinggi yang mengakar sejak era penjajahan Tri Dharma tak harus ‘palu gada’Semua dosen memang wajib menjalankan Tri Dharma. Namun dalam praktiknya, perkembangan kapasitas akademis dosen sangatlah beragam.Ada dosen yang memiliki kemampuan pedagogis tinggi. Mereka menghidupkan ruang kelas, membimbing mahasiswa secara mendalam, dan menghasilkan pengalaman belajar yang transformatif.Sebagian lain lebih unggul dalam penelitian, produktif menghasilkan publikasi, membangun jejaring akademis, serta memperkuat reputasi institusi.Tidak sedikit pula yang pandai dalam pengabdian masyarakat melalui advokasi, pemberdayaan masyarakat, atau penyusunan rekomendasi kebijakan.Persoalan muncul ketika seluruh dosen dituntut untuk memenuhi semua tugas tersebut secara maksimal dan dalam rentang waktu yang seragam. Jika semua dosen generalis, di mana nilai tambah kepakarannya?Jika ini berlangsung terus-menerus, pemenuhan indikator kinerja akan didahulukan ketimbang kualitas akademis. Akibatnya, aktivitas pengajaran berisiko jadi formalitas, penelitian lebih berfokus pada jumlah publikasi daripada dampak kualitas, dan pengabdian masyarakat jeblok. Baca juga: Apa dampaknya ketika dosen hanya lakukan pengabdian masyarakat ala kadarnya demi penuhi tri dharma perguruan tinggi? Mengapa pembedaan peran perlu dipertimbangkanGagasan satu dosen satu fokus dikembangkan UMY sebagai respons terhadap dampak negatif kompleksitas kerja akademis. Tujuan dasarnya bukan membebaskan dosen dari Tri Dharma, melainkan menata prioritas melalui diferensiasi kontribusi berbasis kompetensi dominan. Karena itu, setiap dosen diarahkan pada jalur karier yang dianggap dominan, misalnya sebagai peneliti atau pengajar.Pekerjaan akademis membutuhkan waktu, energi, dan investasi intelektual yang besar. Mengajar intensif, menghasilkan penelitian berkualitas, sekaligus menjalankan pengabdian yang berdampak tidak selalu mudah dilakukan secara optimal pada waktu yang yang bersamaan.Sejumlah perguruan tinggi internasional telah menerapkan jalur akademis lebih fleksibel. Seorang dosen bisa berfokus pada pengajaran, dengan penilaian kinerja yang menekankan mutu mengajar. Mereka juga bisa memilih menjadi dosen yang berfokus pada penelitian, dengan produktivitas riset, publikasi, dan kontribusi ilmiah menjadi indikator kinerja.Dalam indikator yang luwes, seorang dosen tetap menjalankan mandat akademis secara menyeluruh, tetapi proporsinya berbeda. Dosen yang lebih kuat pada penelitian tetap mengajar dan melakukan pengabdian, tapi ia tidak dibebani ekspektasi yang sama dengan rekan sejawatnya.Sebaliknya, dosen yang unggul dalam pendidikan tetap terlibat dalam penelitian dan pengabdian tanpa dipaksa mengejar ukuran keberhasilan yang sama. Pendekatan seperti ini membuka peluang bagi universitas untuk mengejar kualitas, bukan sekadar kuantitas aktivitas akademis.Efisien tapi bukan tanpa risikoWacana satu dosen satu fokus bukan berarti bebas dari risiko. Risiko pertama adalah lahirnya spesialisasi yang terlalu kaku. Ini dapat menjebak dosen dalam identitas akademis yang sempit: pengajar, peneliti, atau pelaksana pengabdian.Padahal, pengajaran yang baik sering lahir dari riset yang kuat. Sementara penelitian maupun pengabdian memperoleh relevansi dari pengalaman belajar dan interaksi dengan mahasiswa. Pemisahan fungsi yang terlalu tegas justru berpotensi menciptakan jarak antarperan akademis yang selama ini saling menopang.Tantangan lain juga muncul berkaitan dengan tata kelola sumber daya manusia. Pemisahan fokus berpotensi menciptakan ketimpangan kebutuhan tenaga, terutama pada aspek pengajaran di kampus yang memiliki terlalu banyak mahasiswa. Selain itu, tidak semua perguruan tinggi memiliki kapasitas kelembagaan yang sama untuk melaksanakan model ini. Universitas dengan jumlah dosen memadai, kultur akademis mapan, dan tata kelola yang kuat mungkin lebih siap menerapkan fokus tugas dosen yang lebih luwes.Masalahnya, kampus dengan keterbatasan sumber daya manusia atau rasio dosen–mahasiswa yang buruk amat membutuhkan dosen menjalankan berbagai fungsi Tri Dharma secara simultan agar kegiatan akademis tetap berjalan. Risiko lain adalah munculnya hierarki simbolis di lingkungan akademis. Jumlah riset yang terbit sering kali dipandang lebih prestisius dibanding pengajaran atau pengabdian masyarakat. Akibatnya, kontribusi dosen yang fokusnya mengajar berpotensi tidak dianggap sama bahkan menjadi nomor dua. Baca juga: ‘Calo publikasi’: banyak dosen Indonesia mencari jalan pintas seiring gencarnya tuntutan terbit di jurnal internasional bereputasi Universitas sebagai ekosistemPerguruan tinggi pada dasarnya bekerja sebagai ekosistem kolaboratif. Spesialisasi yang terlalu ketat juga dapat membatasi fleksibilitas karier. Padahal, orientasi akademis dosen dapat berubah sepanjang perjalanan profesionalismenya.Dalam satu fakultas mungkin terdapat dosen yang unggul menghasilkan artikel bereputasi, dosen yang luar biasa membimbing mahasiswa, dan dosen yang kuat membangun dampak sosial melalui pengabdian masyarakat. Ketika keragaman kapasitas tersebut dipandang saling melengkapi, Tri Dharma dapat berjalan lebih efektif dan bermakna.Pada akhirnya, pertanyaannya mungkin bukan lagi apakah semua dosen harus unggul dalam semua tugas Tri Dharma. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana universitas membangun sistem kerja akademis yang memungkinkan kualitas tumbuh secara realistis, dan berkelanjutan.Dalam kerangka itu, keputusan UMY seharusnya tidak dipandang sebagai akhir perdebatan atau solusi jangka panjang, melainkan awal percakapan penting tentang masa depan profesi dosen dan tata kelola Tri Dharma yang lebih adil dan bermakna. Baca juga: Dosen susah dapat promosi: mengurai lika-liku proses kenaikan jabatan akademisi di Indonesia Johanes De Brito Siga Nono tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.