KAI Tambah 11 Gardu Traksi, KRL 12 Gerbong Siap Meluncur ke Rangkasbitung

Wait 5 sec.

Rapat Dengar Pendapat PT KAI dengan Komisi VI DPR di Gedung Parlemen, Senayan Jakarta, Rabu (3/6/2026). Foto: Muhammad Fhandra/kumparanPT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI berencana menambah kapasitas listrik agar jalur Tanah Abang-Rangkasbitung atau Green Line bisa dilewati rangkaian KRL 12 gerbong (SF12). Saat ini, jalur mereka hanya bisa dilewati rangkaian kereta 8 gerbong (SF8) dan 10 gerbong (SF10).Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan penambahan gardu listrik dilakukan karena saat ini tingkat kepadatan penumpang KRL Jabodetabek, khususnya jalur Rangkasbitung atau green line sudah sangat tinggi.“Jadi kalau kita lihat kapasitas optimalisasi dari kapasitas sarana-prasarana yang di Jabodetabek ini, pada kondisi saat ini okupansi rate itu 128 sampai dengan 161 persen,” ujar Bobby, saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR RI, di Kompleks Parlemen Jakarta, Rabu (3/6).Menurut dia, jalur Rangkasbitung menjadi yang paling padat saat jam sibuk dengan tingkat keterisian mencapai 161 persen.“Jadi kalau kita lihat yang jalur rangkasbitung itu sudah peak-nya itu sudah 161 persen pada jam sibuk. Jadi 161 persen itu kalau kita gambarkan 1 meter persegi itu, itu isinya 8 orang,” katanya.Selain Rangkasbitung, tingkat okupansi KRL di jalur Bekasi mencapai sekitar 140 persen dan Bogor sekitar 130 persen. Untuk mengatasi kepadatan, KAI bakal menambah rangkaian kereta baru yang lebih panjang di jalur Rangkasbitung. Sejumlah penumpang antre menuju peron kereta rel listrik (KRL) rute green line di Stasiun Tanah Abang, Jakarta, Senin (4/5/2026). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTONamun, saat ini operasional KRL 12 rangkaian belum bisa diterapkan di jalur green line karena keterbatasan daya listrik.“Nah kereta-kereta baru yang lebih panjang, jadi ke Rangkas ini biasanya itu kereta itu ada SF8 dan SF10. SF12 itu enggak bisa karena kenapa? Listriknya nggak cukup,” katanya.Menurut Bobby ini disebabkan karena kapasitas listrik di jalur Rangkasbitung hanya sekitar 3.000 volt, lebih rendah dibanding jalur Bogor dan Bekasi yang punya 4.000 volt. KAI mulai melakukan pekerjaan peningkatan kapasitas listrik di jalur Green Line dalam waktu dekat.“Insyaallah dalam 2 minggu ini kami akan melakukan, mulai melakukan pekerjaannya. Yang pertama itu adalah peningkatan daya untuk LAA (Listrik Aliran Atas)-nya,” kata Bobby.Untuk mendukung peningkatan daya tersebut, KAI juga akan membangun tambahan 11 gardu traksi. Dengan tambahan gardu itu, KAI berharap KRL 12 rangkaian bisa segera dioperasikan di jalur Rangkasbitung.Nah dengan demikian dayanya cukup SF12 itu bisa masuk ke Tanah Abang ke Rangkasbitung,” kata Bobby.Selain peningkatan listrik, KAI juga akan melakukan modernisasi persinyalan di jalur Rangkasbitung yang saat ini dinilai sudah tua.“Dan kita juga melakukan upgrade dari pensinyalannya di situ. Jadi persinyalan yang di ke Rangkasbitung ini sudah cukup tua dan kuno, yang kita sebut itu adalah blok tertutup,” ujarnya.Dengan sistem baru, jarak antar kereta (headway) diharapkan bisa dipangkas dari 10 menit menjadi lebih rapat seperti jalur Bekasi dan Bogor yang saat ini berkisar 3-4 menit.Sejumlah penumpang menunggu keberangkatan kereta rel listrik (KRL) di Stasiun Tanah Abang, Jakarta, Senin (4/5/2026). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTOSejumlah penumpang menunggu keberangkatan kereta rel listrik (KRL) di Stasiun Tanah Abang, Jakarta, Senin (4/5/2026). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTOSelain itu, KAI juga berencana memperpanjang layanan Commuter Line dari Cikarang hingga Cikampek dengan kebutuhan anggaran Rp 1,2 triliun, serta mengembangkan jalur Bogor-Sukabumi menjadi layanan KRL dengan kebutuhan Rp 1,28 triliun.“Nah kemudian juga kita akan mengembangkan itu Bogor-Sukabumi, itu akan menjadi KRL juga,” katanya.Untuk mendukung penambahan trainset, KAI juga bakal memperluas depo kereta di Rangkasbitung, Cikarang, dan Bogor dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp 900 miliar.Stasiun Karet-BNI City Bakal Terintegrasi Pakai Trotoar BerjalanDi sisi lain, KAI juga berencana melakukan integrasi Stasiun Karet dengan Stasiun BNI City untuk meningkatkan kenyamanan dan keselamatan penumpang.“Item-item kecil yang kami lakukan di Jabodetabek ini, itu adalah melakukan integrasi dari stasiun Karet, itu dengan stasiun BNI City. Jadi stasiun Karet dengan stasiun BNI City itu jaraknya cuma 150 meter. Jadi kereta jalan abis itu ngerem lagi,” kata Bobby.Menurut dia, keberadaan Stasiun Karet saat ini juga memiliki risiko kecelakaan lalu lintas yang cukup tinggi.“Dan risiko terjadinya kecelakaan lalu lintas di stasiun Karet ini cukup tinggi,” ujarnya.Karena itu, KAI berencana mengintegrasikan akses penumpang melalui Stasiun BNI City dengan pembangunan selasar penghubung dan trotoar berjalan (travelator).“Nanti kita demi kenyamanan penumpang juga nanti kita akan bikinkan travelator. Jadi semua nanti gate in dan gate out-nya itu ada di stasiun BNI City,” imbuh Bobby.