Pekerja memangkul karung berisi beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di gudang Perum Bulog Meulaboh, Aceh Barat, Aceh, Kamis (14/5/2026). Foto: Syifa Yulinnas/ANTARA FOTOPemerintah mempercepat berbagai program intervensi pangan untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan pangan nasional. Salah satu program yang mencatat peningkatan signifikan adalah penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), yang hingga akhir Mei 2026 telah mencapai 507 ribu ton.Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Badan Pangan Nasional (Bapanas), Maino Dwi Hartono, mengatakan capaian tersebut terdiri atas 221 ribu ton penyaluran pada Januari-Februari yang merupakan perpanjangan program tahun 2025, serta 286 ribu ton realisasi periode Maret-Mei yang berasal dari alokasi SPHP 2026."Program SPHP beras menjadi salah satu instrumen penting pemerintah dalam menjaga stabilitas harga pangan di tingkat konsumen," catat Bapanas melalui keterangan tertulis dikutip Senin (1/6).Menurutnya, realisasi penyaluran beras SPHP hingga Mei 2026 meningkat sekitar 180 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sebagai perbandingan, realisasi SPHP beras hingga Mei 2025 tercatat sebesar 181 ribu ton.Peningkatan penyaluran tersebut dilakukan di tengah upaya pemerintah menjaga stabilitas harga pangan nasional. Berdasarkan pemantauan Bapanas per 29 Mei 2026 atau dua hari setelah Iduladha, rata-rata harga sejumlah komoditas pangan strategis masih berada dalam rentang Harga Eceran Tertinggi (HET) dan Harga Acuan Penjualan (HAP) tingkat konsumen.Pekerja mengangkut karung berisi beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di gudang Perum Bulog Meulaboh, Aceh Barat, Aceh, Kamis (14/5/2026). Foto: Syifa Yulinnas/ANTARA FOTOMaino mengatakan kondisi neraca pangan nasional saat ini masih cukup kuat meskipun dunia menghadapi berbagai ketidakpastian akibat gejolak geopolitik. Ia juga mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan inflasi pada April 2026 mengalami penurunan, menandakan harga pangan secara umum masih terkendali.Selain menjaga harga di tingkat konsumen, pemerintah juga berupaya melindungi produsen pangan agar tetap memperoleh harga yang menguntungkan. Karena itu, intervensi dilakukan dari hulu hingga hilir, mulai dari penyerapan hasil panen hingga penyaluran pangan kepada masyarakat.Di sisi lain, pemerintah juga menyalurkan bantuan pangan beras dan minyak goreng. Hingga akhir Mei 2026, Perum Bulog telah menyalurkan bantuan kepada sekitar 15,4 juta keluarga penerima manfaat.Sumber beras untuk berbagai program intervensi tersebut berasal dari produksi dalam negeri. Hingga menjelang akhir Mei 2026, realisasi pengadaan setara beras dalam negeri oleh Bulog mendekati 3 juta ton, melampaui capaian periode Januari-Mei 2025 yang sekitar 2,5 juta ton.Program stabilisasi lainnya melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) juga terus diperluas. Hingga penghujung Mei 2026, pelaksanaan GPM telah mencapai 5.037 kali di 417 kabupaten dan kota, lebih tinggi dibandingkan realisasi pada periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 3.482 kali.Pemerintah berharap berbagai program tersebut dapat menjaga keseimbangan harga pangan, baik bagi konsumen maupun produsen, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah tantangan global.