IHSG Amblas Hampir 5 Persen Imbas Rupiah Tertekan dan Dana Asing Kabur

Wait 5 sec.

Karyawan melintas di dekat layar pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (11/3). Foto: ANTARA FOTO/Galih PradiptaIndeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun dalam pada perdagangan Rabu (3/6). Berdasarkan data RTI hingga pukul 11.52 WIB, IHSG merosot 304,89 poin atau 4,92 persen ke level 5.890.Pelemahan tajam pasar saham domestik terjadi di tengah tekanan berlapis. Mulai dari melemahnya nilai tukar rupiah, menyusutnya surplus neraca perdagangan, hingga meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah. Ini memicu arus keluar modal dari pasar negara berkembang.Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan pelemahan rupiah yang telah menyentuh level Rp 17.922 per dolar AS menjadi salah satu sentimen yang membebani pergerakan IHSG.Pengunjung melintas di depan refleksi layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (4/3/2026). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTOSelain itu pasar juga mencermati penurunan tajam surplus neraca perdagangan Indonesia. Surplus perdagangan pada April 2026 tercatat hanya USD 89,1 juta atau yang terendah dalam 6 tahun terakhir.“Menunjukkan adanya perlambatan dari kontribusi sektor eksternal dan menjadi penahan laju penguatan IHSG,” ujar Nafan kepada kumparan, Rabu (3/6).Menurut Nafan, investor juga mulai mengantisipasi potensi volatilitas akibat proses rebalancing indeks FTSE Russell yang berlaku efektif pada 22 Juni. Perubahan komposisi indeks global tersebut kerap memicu penyesuaian portofolio oleh investor institusi dan dana asing.Dari sisi eksternal, sentimen pasar juga dibayangi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Hubungan Amerika Serikat dan Iran kembali memanas dalam beberapa pekan terakhir. Di saat yang sama, operasi militer Israel di Lebanon juga meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas kawasan.Pasar global pun tengah menunggu data ketenagakerjaan Amerika Serikat atau US Nonfarm Payrolls periode Mei yang dirilis akhir pekan ini. Data tersebut dinilai penting karena dapat memengaruhi ekspektasi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed.Pekerja melintas di depan layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (4/3/2026). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTODana Asing Keluar dari Pasar SahamSementara itu Ekonom Bank Tabungan Negara (BTN), Myrdal Gunarto, menilai anjloknya IHSG lebih banyak dipengaruhi perpindahan dana investor dari negara berkembang menuju pasar negara maju.Menurut dia, kondisi global yang masih dipenuhi ketidakpastian membuat investor memilih aset yang dianggap lebih aman.“Terutama setelah melihat kondisi global masih kurang kondusif, di mana perkembangan dari perang ini belum kelihatan ujungnya,” kata Myrdal.Myrdal menambahkan, konflik di Timur Tengah maupun perang Rusia-Ukraina yang kembali memanas telah mendorong investor mengalihkan dana ke pasar saham negara maju. Kondisi tersebut tecermin dari penguatan indeks-indeks utama di AS yang masih bertahan di level tinggi.“Kalau kita lihat dari 21 Mei sampai 2 Juni ada outflow (dana asing keluar -red) sebesar USD 820 juta,” ujarnya.Keluarnya dana asing tersebut, kata Myrdal, dipengaruhi kombinasi sejumlah faktor, termasuk tindak lanjut penyesuaian portofolio investor global serta aksi jual pada saham-saham konglomerasi yang selama ini menjadi penopang kapitalisasi pasar.Meski demikian, Myrdal menilai sejumlah isu domestik seperti peringkat kredit Indonesia masih sebatas sentimen pasar dan belum menjadi faktor utama yang mendorong penurunan IHSG saat ini.“Kemungkinan investor mereka keluar juga karena memang dipengaruhi oleh faktor global yang kurang kondusif,” tutupnya.