Mendiktisaintek Temukan Ada Pencatutan Nama Kampus di Skandal Riset Palsu

Wait 5 sec.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto menyampaikan paparan pada rapat kerja dengan Komisi X DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (3/2/2026). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTOMenteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengungkap adanya pencatutan nama perguruan tinggi dalam kasus dugaan pemalsuan riset oleh sejumlah WNI di konferensi ilmiah internasional di Kopenhagen, Denmark.Brian mengatakan temuan tersebut menjadi salah satu fokus dalam proses pendalaman yang saat ini dilakukan.“Jadi kami melihat salah satunya yang kami temukan adalah penggunaan afiliasi tanpa izin dari kampus tertentu di Indonesia. Nah dengan begitu artinya kan mereka menggunakan, mencatut nama perguruan tinggi tanpa izin dan juga berarti melakukan penipuan, begitu,” kata Brian saat rapat kerja dengan Komisi X DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (2/6).Ia menegaskan penggunaan nama perguruan tinggi tanpa izin tersebut tidak hanya berpotensi melanggar aturan, tetapi juga dapat berdampak pada reputasi akademik Indonesia di tingkat internasional.Brian menyebut pihaknya akan terus berkoordinasi untuk menindaklanjuti temuan tersebut. Menurut dia, kasus ini juga perlu dilihat dari perspektif etika dan dampaknya terhadap citra peneliti Indonesia di mata dunia.“Ini yang kami akan terus berkoordinasi, karena memang banyak masukan kepada kami. Meski pun secara pelanggaran ini di luar perguruan tinggi, tetapi secara status pelaku di luar perguruan tinggi, tetapi secara etika dan juga secara pandangan dunia internasional ini akan sangat bisa membuat citra yang negatif untuk peneliti-peneliti di Indonesia,” ungkapnya.Brian juga menyoroti kualitas substansi riset yang diduga dipalsukan tersebut. Menurutnya, temuan awal menunjukkan bahwa materi yang dipresentasikan tidak memenuhi standar karya ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.“Karena misalnya dari sisi substansi yang disampaikan itu memang kualitasnya sangat tidak memadai untuk sebuah karya ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan,” kata dia.Ia menegaskan akan terus memproses kasus ini untuk memastikan ada efek jera serta mencegah terulangnya kasus serupa di masa mendatang.“Jadi ini yang kami akan coba proses terus sehingga diharapkan memberikan efek jera dan juga diharapkan juga tidak membuat banyak ada lagi oknum-oknum yang melakukan tindakan serupa,” pungkas dia.Sebelumnya, geger dugaan pemalsuan riset yang dilakukan sekelompok WNI untuk mengikuti konferensi ilmiah yang diselenggarakan di Kopenhagen, Denmark.Dugaan skandal pemalsuan riset ini diungkap oleh Wa Ode Dwi Daningrat di akun Instagramnya, Senin (25/5) lalu, dan viral di media sosial.Wa Ode Dwi Daningrat atau Dwi merupakan peneliti Indonesia yang berkiprah di bidang clinical medicine di University of Oxford. Dwi menemukan kejanggalan terhadap abstrak ilmiah yang disodorkan sekelompok periset tersebut dalam ISPPD 2026 yang berlangsung pada 17-21 Mei 2026.ISPPD atau International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases merupakan forum ilmiah global utama di bidang pneumonia dan penyakit pneumokokal. Forum ini mempertemukan ribuan ilmuwan, dokter, epidemiolog, dan peneliti kesehatan dari berbagai negara.Menurut Dwi, sekelompok periset itu menyodorkan 19 abstrak yang dipamerkan dalam acara tersebut. Menurutnya, jumlah abstrak sebanyak itu tidak masuk akal dibuat dalam waktu singkat. Terlebih, kata dia, abstrak tersebut tidak akurat dan mengandung fabrikasi data termasuk penggunaan artificial intelligence (AI).