Masyarakat tengger yang sedang memakai baju adat untuk melaksanakan tradisinya. Foto: Eky Rima Nurya Ganda/PexelsTradisi Unan-unan Suku Tengger merupakan ritual adat yang digelar setiap lima tahun sekali oleh masyarakat Tengger di kawasan Gunung BromoDi tengah hiruk-pikuk modernisasi, Suku Tengger yang mendiami kawasan sekitar Gunung Bromo masih setia menjaga warisan leluhurnya. Salah satu tradisi yang paling menarik dan masih kental hingga kini adalah Unan-Unan.Ritual yang digelar setiap 5 tahun sekali ini menyimpan lapisan makna yang dalam. Bukan sekadar pesta rakyat atau upacara adat biasa. Unan-Unan adalah cerminan bagaimana masyarakat Tengger memandang alam, waktu, kehidupan, bahkan toleransi beragama.Lalu, apa sebenarnya makna di balik nama "Unan-Unan"? Kapan tradisi ini lahir? Dan mengapa tetap lestari hingga saat ini? Mari kita bedah satu per satu.Arti Kata Unan-UnanSebelum membahas sejarahnya, kita perlu mengenal dulu arti kata Unan-Unan itu sendiri. Menurut warga Suku Tengger di Probolinggo, nama ini berasal dari bahasa Tengger kuno yang berbunyi:"Ngunan Wulan Ngelungguhne Taun"Artinya: menetapkan bulan dan tahun.Namun jika ditelusuri lebih jauh, ada dua makna yang berasal dari bahasa Jawa Kuno. Pertama, kata "Una" yang berarti kurang. Kedua, "Unan-Unan" yang berarti memperpanjang.Sekilas, dua makna ini tampak bertentangan. Tapi sebenarnya keduanya adalah satu proses yang utuh.Analoginya begini:Dalam satu bulan di kalender Tengger, tidak selalu ada 30 hari. Ada bulan yang hanya 29 hari. Akibatnya, dalam satu tahun pasti terjadi kekurangan hitungan.Kekurangan itu tidak dihilangkan, tetapi dikumpulkan. Setelah 5 tahun, terkumpul sekitar 25–30 hari. Hari-hari inilah yang kemudian ditambahkan sebagai bulan ekstra.Maka logikanya sederhana seperti Anda sadar ada yang kurang (Una) Maka Anda bertindak untuk menambah/memperpanjang (Unan-Unan) Hasilnya: menjadi sempurnaDua makna yang tadinya terlihat bertentangan, justru menjadi satu kesatuan yang indah.Kapan Tradisi Ini Lahir?Menurut sumber yang ada, tidak diketahui secara pasti kapan pertama kali tradisi Unan-Unan muncul. Pengetahuan tentang ritual ini diwariskan secara turun-temurun secara lisan dari generasi ke generasi.Namun, para peneliti memperkirakan bahwa akar tradisi ini sudah ada sejak zaman Megalitikum atau ribuan tahun sebelum Masehi.Seorang arkeolog dari Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono, menyatakan bahwa praktik persembahan kepala kerbau dalam Unan-Unan adalah praktik yang berasal dari era Megalitikum. Buktinya, tradisi serupa juga ditemukan pada masyarakat adat Dayak, Minangkabau, dan Batak.Ini menunjukkan bahwa ritual kurban kerbau adalah warisan bersama budaya Austronesia (nenek moyang bangsa Indonesia) sejak ribuan tahun lalu, bukan hasil saling meniru antardaerah.Apakah Unan-Unan untuk "Menjinakkan" Gunung?Jika ada yang beranggapan bahwa Unan-Unan dibuat karena gunung aktif di sekitar Tengger agar gunung tidak meletus atau letusannya tertunda maka anggapan itu KURANG TEPAT.Masyarakat Tengger justru memandang Gunung Bromo secara kosmologis, bukan sebagai "ancaman" yang perlu dijinakkan. Gunung adalah tempat bersemayamnya dewa, sumber kesuburan, dan gerbang alam lain.Tradisi persembahan lahir dari legenda Roro Anteng dan Joko Seger yaitu janji menyerahkan anak bungsu ke kawah Bromo bukan dari rasa takut akan letusan.Jadi, jangan keliru. Unan-Unan bukan "sesaji untuk gunung agar diam". Ia adalah ritual kalender dan pembersihan spiritual.Tetua adat yang sedang berkontribusi besar dalam jalannya acara adat. Foto :Andar Motret/PexelsKenapa Unan-Unan Dilakukan 5 Tahun SekaliUnan-Unan diadakan setiap 5 tahun sekali. Jarak ini tidak dipilih sembarangan.Dalam bahasa Sanskerta, Panca berarti lima, dan Warsa berarti tahun. Pancawarsa adalah siklus 5 tahunan yang dimaknai sebagai siklus pembersihan.Masyarakat Tengger meyakini bahwa dalam kurun waktu 5 tahun, telah terjadi akumulasi: Ketidakselarasan antara hitungan manusia dengan alam, "Kotoran" spiritual (dosa, pengaruh buruk, malapetaka)Maka, tahun kelima yang disebut Tahun Landhung (tahun panjang) adalah waktu yang tepat untuk melakukan ritual pembersihan total.Filosofinya: seperti kita membersihkan rumah setahun sekali, atau mengganti oli mobil setiap 5.000 km. Unan-Unan adalah cara Suku Tengger "menyetel ulang" keseimbangan alam dan spiritual mereka.Misteri Bulan ke-13 dalam Kalender Tengger (Bulan Dhesta)Salah satu keunikan Unan-Unan adalah pelaksanaannya pada bulan ke-13 yang disebut Bulan Dhesta. Bulan ini tidak ada setiap tahun. Bulan ini hanya muncul pada tahun-tahun tertentu ketika diperlukan "penambalan".Ada tiga lapis filosofi di balik pemilihan bulan ke-13 ini:1. Memperbaiki yang KurangPenciptaan bulan ke-13 adalah pengakuan bahwa sistem perhitungan manusia tidak pernah sempurna. Akan selalu ada "kurang"-nya jika dibandingkan dengan siklus alam yang sebenarnya.Bulan Dhesta hadir untuk menambal kekurangan tersebut.Pesan moralnya: dalam hidup, ketika kita sadar ada yang kurang atau tidak selaras, kita wajib berani melakukan koreksi (mawas diri) untuk kembali ke jalan yang benar.2. Waktu Sakral yang Penuh BahayaDalam banyak budaya di dunia, hari atau bulan tambahan (seperti kabisat) dianggap sebagai waktu yang keramat dan tidak stabil.Masyarakat Tengger meyakini Bulan Dhesta sebagai bulan yang penuh dengan bahaya, malapetaka, dan gangguan makhluk halus (bhutakala). Ini adalah waktu di mana keseimbangan alam semesta sedang paling rapuh.Justru karena dianggap berbahaya, bulan ke-13 dipilih sebagai momen yang paling tepat untuk melakukan pembersihan spiritual massal dalam istilah Jawa disebut ruwatan desa.Dengan menggelar Unan-Unan, masyarakat berusaha menetralisir energi negatif yang menumpuk selama 5 tahun dan mengembalikan stabilitas jagat raya.3. Membayar Utang kepada LeluhurFilosofi ini memang umum ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Banyak masyarakat agraris yang mengadakan ritual persembahan sebagai wujud syukur sekaligus membayar janji kepada leluhur yang telah memberi kesuburan.