Refleksi Hari Sepeda Sedunia: Perjalanan Mengayuh Ekonomi Nasional

Wait 5 sec.

Ilustrasi menjaga ekonomi seperti bersepeda: (Foto generated by AI)Setiap pagi seorang pedagang sayur menyalakan sepeda motornya. Di kanan-kiri joknya tergantung keranjang berisi buah dan sayuran. Ia tidak mengerti kata inflasi, nilai tukar, suku bunga, atau tekanan global. Namun, semua istilah itu hadir dalam bentuk harga kulakan yang naik, bensin yang harus diisi, naiknya bunga cicilan, dan pembeli yang makin keras menawar.Di tempat lain seorang pekerja menghitung ulang biaya transportasi. Naik ojek lebih cepat tetapi makin mahal. Membawa kendaraan sendiri lebih fleksibel tetapi ada biaya bensin, parkir, dan tol. Naik sepeda mungkin sehat dan murah, tetapi jalannya belum selalu aman. Pilihan mobilitas bukan hanya soal jarak dan kenyamanan tapi juga tentang biaya.Ekonomi ibarat sepeda, tidak jatuh selama masih bergerak dan akan jatuh ketika berhenti atau kehilangan keseimbangan. Di atas kertas ekonomi Indonesia masih bergerak. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia triwulan I-2026 tumbuh 5,61% (yoy). Angka itu menunjukkan perkembangan yang kuat di tengah tekanan global. Di saat yang sama BI-Rate dinaikkan 50 basis poin menjadi 5,25% sebagai langkah menjaga stabilitas rupiah dan inflasi dari dampak gejolak global. Dengan kata lain, ekonomi kita masih mengayuh tetapi tanjakannya mulai terasa.Setiap 3 Juni, dunia memperingati Hari Sepeda Sedunia. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menempatkan sepeda sebagai alat transportasi yang sederhana, terjangkau, bersih, dan berkelanjutan. Namun demikian sepeda tidak hanya menjadi simbol gaya hidup hijau. Ia bisa menjadi metafora cara ekonomi bekerja: dapat bergerak maju karena kayuhan yang konsisten, rantai yang tidak putus, rem yang berfungsi, dan jalan yang mulus.Data BPS menunjukkan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia pada akhir 2025 mencapai 172,94 juta unit, meningkat dibanding tahun sebelumnya yang berjumlah 166,47 juta. Angka ini menunjukkan kendaraan bermotor adalah alat kerja, alat dagang, alat mengantar anak, alat mencari nafkah, sekaligus bukti bahwa ekonomi masih bergantung pada mobilitas berbasis energi.Sayangnya ekonomi kita lebih sering percaya pada mesin tetapi kurang memperhatikan gesekan. Kita mengejar pertumbuhan tetapi mengabaikan biaya logistik yang mahal. Kita mendorong konsumsi tetapi daya beli rumah tangga masih mudah tertekan oleh harga pangan, energi, dan cicilan. Kita mengagumi digitalisasi tetapi sebagian masyarakat masih berjuang dengan literasi, sinyal, dan akses pembiayaan. Kita berbicara tentang investasi tetapi produktivitas belum secepat ambisi.Dalam bersepeda, gesekan membuat kayuhan menjadi lebih berat. Rantai yang kering, ban yang kurang angin, rem yang seret, atau jalan yang berlubang akan menghabiskan lebih banyak tenaga. Demikian pula dengan ekonomi, biaya seperti ongkos kirim, parkir, bahan bakar, bunga pinjaman, pungutan tak resmi, dan waktu di jalan akan mempengaruhi tingkat pertumbuhan. Ketika harga energi global bergejolak, nilai rupiah melemah, atau biaya hidup naik, seluruh masyarakat akan ikut merasakan efeknya dalam bentuk biaya harian yang makin berat.Tentu menggunakan sepeda bukan jawaban untuk semua persoalan. Tidak adil meminta semua orang bersepeda ketika jalanan belum aman bagi pesepeda. Tidak realistis meminta pekerja lintas kota, ibu yang mengantar anak, penyandang disabilitas, pedagang pasar, atau pekerja logistik mengganti kendaraan bermotor dengan sepeda. Hal yang perlu ditiru dari sepeda bukan semata alatnya melainkan logikanya. Ekonomi yang baik tidak selalu yang makin cepat dan makin besar. Ekonomi yang sehat adalah ekonomi yang lebih ringan dikayuh yang diwujudkan dengan terpenuhinya kebutuhan dasar, transaksi ritel yang mudah, beban operasional yang lebih ringan, serta biaya mobilitas yang murah.Fungsi Rem dan Gir SepedaBersepeda mengajarkan fungsi rem dan gir. Dalam imajinasi kita, rem sering dianggap penghambat. Padahal tanpa rem, kecepatan berubah menjadi bahaya. Dalam ekonomi, rem berbentuk stabilitas harga, prinsip kehati-hatian, disiplin fiskal, tata kelola pembayaran, dan kepercayaan terhadap rupiah. Fungsi rem bukan menghambat melainkan membuat perjalanan aman dan bisa berlanjut. Di sisi lain sepeda juga memiliki gir. Saat jalan datar, gir tinggi bisa dipakai untuk menambah kecepatan. Sementara saat menanjak, gir harus diturunkan agar tenaga tidak habis. Hal ini dapat diimplementasikan dalam menentukan kebijakan ekonomi. Dalam kondisi normal kebijakan ekonomi dapat diarahkan untuk mendorong pertumbuhan seperti menurunkan suku bunga dan pelonggaran fiskal. Sementara saat terjadi gejolak, kebijakan yang diambil adalah menjaga stabilitas dengan menaikkan suku bunga dan pengetatan fiskalEkonomi Indonesia juga memerlukan kecerdasan menggunakan rem dan gir. Ada saatnya ekspansi didampingi efisiensi. Ada saatnya konsumsi perlu dijaga dengan tidak menambah utang konsumtif. Ada saatnya digitalisasi diperluas dengan tetap memberikan ruang bagi pengguna uang tunai dan kelompok yang belum siap go-digital. Tidak ada satu cara yang bisa memaksa semua orang bergerak dengan kecepatan yang sama. Ekonomi manusiawi adalah ekonomi yang membuat lebih banyak orang bisa ikut bergerak tanpa tersisih.Mungkin tantangan ekonomi Indonesia bukan membuat tumbuh lebih cepat, tetapi bagaimana mengurangi energi yang terbuang. Kita bangga ketika ekonomi melaju tetapi jarang bertanya berapa banyak tenaga yang dihabiskan untuk menembus macet, membayar ongkos distribusi, menanggung biaya transaksi, dan menghadapi ketidakpastian harga.Hari Sepeda Sedunia menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak selalu berarti menambah mesin. Kadang kemajuan berarti mengurangi beban. Pada akhirnya kebijakan ekonomi yang baik adalah yang terasa bagi masyarakat, di mana pedagang berangkat tanpa cemas pada ongkos bensin. Terasa di warung ketika pembayaran digital bisa dilakukan mudah dan uang tunai tetap dihargai. Terasa di rumah ketika keluarga masih bisa menabung setelah semua kebutuhan pokok terpenuhi. Terasa di jalan ketika waktu tidak habis setelah menghadapi kemacetan.Ekonomi Indonesia dapat belajar dari filsafat sepeda: keseimbangan lebih penting daripada kecepatan sesaat, rantai kecil menentukan pergerakan besar, dan perjalanan jauh dapat dilakukan bila kayuhan terasa ringan. Pertanyaannya, apakah kita mampu membangun ekonomi yang lebih produktif atau kita masih nyaman membiayai ketidakefisienan yang membuat kita mengayuh lebih keras?