Pernah Merasa Relate dengan Konten Gangguan Mental di TikTok? Ini Penjelasannya

Wait 5 sec.

Ilustrasi Melihat Handphone (sumber: pexels/helena lopes)"Pantas saja aku sering lupa, jangan-jangan aku ADHD.""Aku juga pernah mengalami hal itu, berarti aku punya trauma.""Sepertinya aku mengalami anxiety."Kalimat seperti ini semakin sering muncul setelah seseorang menonton konten kesehatan mental di media sosial. Hanya dari beberapa video singkat yang terasa relatable, tidak sedikit orang mulai merasa memiliki kondisi psikologis tertentu.Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental tentu merupakan hal yang positif. Namun, muncul pertanyaan lain: mengapa kita begitu mudah merasa cocok dengan berbagai penjelasan psikologis yang muncul di media sosial?Dalam buku Psikodiagnostik: Suatu Pengantar, Mulyono (2020) menjelaskan bahwa manusia tidak selalu menilai sesuatu secara objektif. Saat memahami diri sendiri maupun orang lain, kita sering dipengaruhi oleh berbagai bias, asumsi, dan pengalaman pribadi yang dapat memengaruhi cara berpikir kita.Lalu, mengapa hal tersebut bisa terjadi?1. Kita Cenderung Mencari Penjelasan atas Apa yang Sedang Dirasakan Ketika sedang mengalami stres, kesedihan, atau masalah tertentu, manusia secara alami berusaha mencari jawaban atas apa yang sedang terjadi pada dirinya. Karena itu, saat menemukan konten yang menggambarkan pengalaman yang mirip dengan kondisi yang dialami, kita akan lebih mudah merasa terhubung dan menganggap penjelasan tersebut sesuai dengan diri kita.2. Konten yang Relatable Membuat Kita Merasa "Itu Gue Banget"Banyak konten kesehatan mental menggunakan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Akibatnya, penonton merasa seolah-olah konten tersebut menggambarkan dirinya secara tepat. Padahal, beberapa ciri yang dijelaskan sering kali merupakan pengalaman umum yang dapat dialami banyak orang. Misalnya merasa gugup saat berbicara di depan umum, sedih setelah mengalami kegagalan, atau sulit fokus ketika sedang lelah.3. Kita Sering Menarik Kesimpulan dari Informasi yang TerbatasMenurut Mulyono, penilaian terhadap seseorang dapat dipengaruhi oleh berbagai bias, termasuk kecenderungan untuk mengambil kesimpulan berdasarkan informasi yang tidak lengkap. Hal yang sama dapat terjadi ketika kita menilai diri sendiri. Setelah menonton satu atau dua video, seseorang mungkin langsung mengaitkan dirinya dengan suatu kondisi psikologis tanpa mempertimbangkan faktor lain yang lebih kompleks.4. Merasa Relate Tidak Sama dengan Memiliki Gangguan MentalMedia sosial dapat menjadi sumber informasi awal yang bermanfaat untuk mengenal kesehatan mental. Namun, merasa cocok dengan sebuah konten tidak selalu berarti seseorang memiliki gangguan psikologis tertentu.Dalam praktik psikologi, memahami kondisi seseorang membutuhkan proses yang lebih mendalam melalui wawancara, observasi, dan berbagai metode asesmen yang dilakukan secara sistematis. Karena itu, informasi yang ditemukan di internet sebaiknya digunakan sebagai sarana belajar, bukan sebagai dasar untuk langsung menyimpulkan kondisi diri sendiri.Media sosial memang dapat membantu kita lebih memahami berbagai isu kesehatan mental. Selain itu, merasa terhubung dengan sebuah konten juga merupakan hal yang wajar. Namun, semakin banyak informasi yang kita konsumsi, semakin penting pula untuk tidak terburu-buru memberi label pada diri sendiri hanya berdasarkan beberapa konten yang terasa relatable. Sebab, memahami kondisi psikologis seseorang, termasuk diri sendiri, membutuhkan gambaran yang jauh lebih utuh daripada sekadar potongan informasi yang muncul di media sosial.