Ketua Apindo Shinta Kamdani dalam acara HUT ke-73 Apindo di Permata Kuningan, Jumat (31/1). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparanAsosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) merespons pembentukan France–Indonesia High Level Business Council (Dewan Bisnis Tingkat Tinggi Prancis-Indonesia). Nantinya, lembaga tersebut dinilai bisa memberi keuntungan pada sektor manufaktur sampai penerbangan.Ketua Umum Apindo, Shinta W. Kamdani menjelaskan sektor-sektor tersebut akan diuntungkan karena memang selama ini sudah memiliki relasi dalam lingkup kerja sama kedua negara.“Kami yakin penguatan kerja sama ekonomi bilateral yang diciptakan Presiden Prabowo dan Presiden Macron akan pertama-tama menguntungkan industri yang sudah memiliki relasi kerja sama Indonesia-Prancis, khususnya di sektor manufaktur FMCG, sektor agri-food atau industri manufaktur kompleks seperti pesawat terbang dan kendaraan bermotor, termasuk jasa-jasa pendukungnya,” kata Shinta kepada kumparan, Minggu (31/5).Tak hanya sektor tersebut, Shinta menilai keberadaan lembaga itu juga melahirkan potensi penguatan kerja sama di luar sektor-sektor yang ia sebutkan. Ia menjabarkan ada beberapa sektor potensial yang memiliki potensi besar untuk masuk ke dalam kerja sama bilateral Indonesia-Prancis.“Sektor-sektor yang khususnya memiliki potensi besar pemanfaatan kerja sama bilateral ini antara lain sektor energi bersih, sektor infrastruktur dan logistik, hingga hilirisasi produk mineral kritis, termasuk kontribusi terhadap pembangunan ekosistem EV,” ujarnya.Ia juga menilai bahwa dari sisi pemerintah atau BUMN, akan ada penguatan kapasitas utamanya terkait perakitan lokal dan potensi co-production untuk industri pertahanan yang sudah dikerjasamakan antara Indonesia dengan Prancis. Dengan begitu, dampak pembentukan Dewan Bisnis Tingkat Tinggi Prancis-Indonesia dinilai sangat baik.“Jadi secara keseluruhan tidak hanya bermanfaat memperdalam dan memperkuat kerja sama supply chain yang sudah ada, tetapi juga menciptakan diversifikasi dan perluasan kerja sama ekonomi ke sektor-sektor lain yang sebelumnya belum menjadi core sector kerja sama Indonesia-Prancis,” kata Shinta.Sebelumnya, peluncuran Dewan Bisnis Tingkat Tinggi Prancis-Indonesia dilakukan di hadapan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Kamis (28/5) lalu.Dewan bisnis itu mempertemukan 30 pimpinan industri dan perusahaan terkemuka dari Indonesia dan Prancis dengan total kapitalisasi pasar gabungan mencapai USD 1,3 T (setara Rp 23,17 kuadriliun). Dewan bisnis dipimpin bersama oleh Chair France-Indonesia Business Council MEDEF International sekaligus CEO Danone, Antoine de Saint-Affrique, dan Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie.CEO Danantara Rosan Roeslani juga mengungkap momentum peluncuran dewan bisnis tersebut turut menghasilkan empat kesepakatan komersial baru senilai USD 3,5 miliar (setara Rp 62,38 T) yang difokuskan pada sektor ketahanan energi, perdagangan, dan kerja sama pertahanan.Menurut Rosan, keberadaan dewan bisnis juga akan berperan penting dalam mengawal implementasi berbagai nota kesepahaman dan komitmen investasi yang telah disepakati sebelumnya. Pada kunjungan kenegaraan Presiden Macron ke Indonesia pada Mei 2025, tercatat sebanyak 27 MoU ditandatangani dengan nilai lebih dari USD 11 miliar (setara Rp 196,06 T).Adapun Dewan Bisnis Indonesia–Prancis menargetkan peningkatan total perdagangan kedua negara hingga tiga kali lipat pada tahun 2035. Rosan optimistis dengan dukungan penuh pemerintah Indonesia dan Prancis, Kadin Indonesia dan MEDEF International akan terus memperkuat koridor ekonomi bilateral guna membuka peluang kerja sama baru di berbagai sektor strategis.