Pancasila, Mental Anak Muda, dan Hilangnya Empati

Wait 5 sec.

Ilustrasi Pancasila saat iniSetiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Lahir Pancasila. Media sosial dipenuhi ucapan tentang persatuan, toleransi, gotong royong, dan kebhinekaan. Di sekolah-sekolah, siswa mengikuti upacara. Di kantor-kantor pemerintahan, pidato tentang nilai kebangsaan kembali disampaikan dengan penuh semangat. Namun di tengah semua perayaan itu, ada satu hal yang seharusnya membuat kita berhenti sejenak untuk berpikir: Masihkah nilai-nilai Pancasila benar-benar hidup dalam kehidupan generasi muda Indonesia hari ini?Pertanyaan ini terasa penting karena Indonesia saat ini sedang menghadapi masalah besar yang sering tidak terlihat secara kasat mata, tetapi dampaknya nyata dan semakin mengkhawatirkan: krisis kesehatan mental pada generasi muda.Banyak anak muda terlihat baik-baik saja dari luar. Mereka tetap pergi ke sekolah, kuliah, membuat konten, bercanda dengan teman, aktif di media sosial, bahkan terlihat ceria. Namun di balik semua itu, tidak sedikit yang sebenarnya sedang kelelahan secara mental. Mereka cemas memikirkan masa depan. Takut gagal. Takut dianggap tidak berguna. Takut tertinggal dari orang lain. Bahkan ada yang merasa tidak memiliki tempat aman untuk sekadar bercerita.Data Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Angka tersebut setara dengan sekitar 15 juta remaja usia 10–17 tahun. Ironisnya, sebagian besar dari mereka belum mendapatkan bantuan yang memadai. Angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya ada anak-anak yang menangis diam-diam di kamar. Ada siswa yang tersenyum di sekolah tetapi setiap malam merasa hancur. Ada remaja yang terlihat aktif di media sosial tetapi sebenarnya merasa sangat kesepian. Ironisnya, semua ini terjadi di era yang katanya paling modern dan paling terkoneksi dalam sejarah manusia.Hari ini semua orang bisa saling terhubung hanya lewat layar ponsel. Tetapi anehnya, semakin banyak anak muda yang merasa sendirian.Media sosial yang awalnya diciptakan untuk mendekatkan manusia justru sering menjadi sumber tekanan terbesar. Setiap hari generasi muda melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna. Ada yang memamerkan nilai bagus, tubuh ideal, pencapaian besar, hubungan yang terlihat bahagia, hingga gaya hidup mewah. Semua terlihat sukses. Semua terlihat sempurna. Dan tanpa sadar, banyak anak muda mulai membandingkan hidupnya sendiri dengan kehidupan orang lain di internet. Mereka merasa tertinggal. Merasa kurang hebat. Merasa hidupnya tidak cukup menarik.Padahal yang mereka lihat hanyalah bagian terbaik dari kehidupan orang lain.Belum lagi budaya digital yang semakin keras dan kehilangan empati.Komentar kasar dianggap hiburan. Hinaan dianggap candaan. Orang yang berbeda pendapat langsung diserang. Kesalahan kecil seseorang bisa viral dan dihujat ribuan orang dalam waktu singkat. Kita hidup di zaman ketika orang lebih mudah mengetik komentar jahat daripada mencoba memahami perasaan orang lain. Tidak sedikit anak muda akhirnya tumbuh dengan rasa takut untuk menjadi diri sendiri. Takut salah bicara. Takut dihakimi. Takut tidak diterima lingkungan.Bahkan hari ini, banyak remaja merasa nilai dirinya ditentukan oleh jumlah likes, viewers, followers, dan validasi dari internet. Jika unggahannya sepi, mereka merasa gagal. Jika tidak dianggap keren, mereka merasa tidak berharga. Jika berbeda sedikit saja, mereka takut dikucilkan.Kondisi ini diperparah dengan budaya perundungan yang masih sangat tinggi, baik di sekolah maupun media sosial. Kasus bullying terus meningkat. Ironisnya, sebagian orang masih menganggapnya hal biasa dengan alasan “cuma bercanda” atau “biar mentalnya kuat”.Padahal dampaknya sangat serius. Banyak korban bullying mengalami kecemasan, kehilangan rasa percaya diri, depresi, trauma sosial, bahkan kehilangan semangat hidup. Yang lebih menyedihkan, banyak korban memilih diam karena takut dianggap lemah. Mereka memendam semuanya sendiri. Kita sering bertanya mengapa generasi muda sekarang mudah stres. Mengapa mereka mudah cemas. Mengapa mereka terlihat rapuh. Tetapi mungkin kita jarang bertanya: Apakah lingkungan yang kita ciptakan memang cukup aman bagi mereka? Di sinilah sebenarnya Pancasila menjadi sangat relevan.Sayangnya, selama ini Pancasila terlalu sering diperlakukan hanya sebagai hafalan. Kita menghafal sila demi sila sejak kecil. Kita mengucapkannya saat upacara. Kita menuliskannya di dinding kelas. Tetapi sering kali lupa menghadirkan nilainya dalam kehidupan nyata. Padahal sila kedua berbunyi: “Kemanusiaan yang adil dan beradab.” Kalimat ini bukan sekadar materi ujian sekolah. Ini adalah pengingat bahwa setiap manusia harus diperlakukan dengan hormat, empati, dan rasa peduli. Namun yang sering terlihat hari ini justru sebaliknya. Kita terlalu cepat menilai orang lain hanya dari penampilan media sosialnya. Kita terlalu mudah mengejek orang yang gagal. Kita terlalu senang mengomentari hidup orang lain tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang mereka hadapi.Padahal tidak semua luka terlihat. Ada siswa yang nilainya turun bukan karena malas, tetapi karena sedang kehilangan semangat hidup. Ada anak muda yang terlihat pendiam bukan karena sombong, tetapi karena sedang berjuang melawan kecemasan. Ada remaja yang terus tersenyum bukan karena benar-benar bahagia, tetapi karena tidak ingin dianggap lemah. Masalah kesehatan mental sering kali tidak terlihat jelas seperti luka fisik. Karena itu banyak orang menganggapnya tidak serius. Kalimat seperti: “Kurang bersyukur.” , “Jangan lebay.”, “Anak zaman sekarang manja.” “Dulu juga susah tapi kuat-kuat saja.” Masih sangat sering terdengar.Padahal ucapan seperti itu justru membuat banyak anak muda semakin takut untuk terbuka.Mereka akhirnya memilih memendam semuanya sendiri. Dan ketika seseorang terlalu lama memendam rasa sakit sendirian, dampaknya bisa sangat berbahaya. UNICEF bahkan mencatat bahwa gangguan kesehatan mental kini menjadi salah satu tantangan terbesar bagi remaja Indonesia. Tindakan bunuh diri pun mulai masuk dalam penyebab utama kematian remaja. Ini bukan lagi masalah kecil.Ini alarm serius. Namun ironisnya, kita masih sering lebih sibuk menghakimi daripada mendengarkan. Kita lebih cepat memberi nasihat daripada mencoba memahami. Kita lebih mudah menyuruh orang “kuat” daripada benar-benar hadir untuk mereka. Padahal terkadang seseorang tidak membutuhkan solusi hebat. ,Mereka hanya ingin didengar tanpa dihakimi. Mereka hanya ingin merasa tidak sendirian. Di sinilah nilai gotong royong dalam Pancasila sebenarnya memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar kerja bakti atau kegiatan seremonial. Gotong royong hari ini bisa berarti saling menjaga kesehatan mental satu sama lain.Saling menguatkan. Saling mendengarkan. Saling peduli. Karena dunia hari ini sudah cukup keras. Tidak semua orang harus ikut menambah luka.Sebagai guru, orang tua, maupun masyarakat, kita mungkin terlalu fokus membuat generasi muda menjadi pintar, tetapi lupa mengajarkan cara menjadi manusia yang sehat secara emosional. Kita bangga ketika anak mendapat ranking tinggi. Kita bangga ketika mereka juara lomba. Kita bangga ketika mereka masuk sekolah favorit. Tetapi kita jarang bertanya: “Apakah kamu benar-benar bahagia?” Padahal anak muda hari ini hidup dalam tekanan yang jauh berbeda dibanding generasi sebelumnya. Mereka tumbuh di tengah persaingan yang sangat cepat. Mereka terus dituntut produktif. Dituntut sukses lebih cepat. Dituntut selalu tampil baik. Dituntut selalu kuat. Bahkan istirahat saja kadang membuat mereka merasa bersalah.Akibatnya, banyak anak muda kehilangan ruang untuk menjadi manusia biasa.Mereka merasa harus selalu sempurna. Padahal manusia tidak diciptakan untuk selalu kuat setiap waktu. Karena itu, memperingati Hari Lahir Pancasila seharusnya tidak berhenti pada upacara dan slogan semata. Pancasila harus hidup dalam cara kita memperlakukan orang lain setiap hari. Ketika kita memilih tidak ikut membully teman, itu Pancasila. Ketika kita berhenti menyebarkan hinaan di media sosial, itu Pancasila. Ketika kita mau mendengarkan seseorang tanpa menghakimi, itu Pancasila. Ketika kita membantu teman yang sedang kesulitan tanpa mempermalukannya, itu Pancasila. Ketika kita menggunakan media sosial dengan lebih manusiawi dan beradab, itu juga Pancasila. Karena pada akhirnya, inti terbesar Pancasila bukan hanya tentang negara.Tetapi tentang bagaimana manusia memperlakukan sesama manusia. Hari ini bangsa ini mungkin tidak kekurangan orang pintar. Tidak kekurangan orang hebat. Tidak kekurangan orang yang pandai berbicara. Tetapi kita masih sangat membutuhkan lebih banyak orang yang peduli. Lebih banyak orang yang punya empati. Lebih banyak orang yang tidak hanya sibuk menilai, tetapi juga mau memahami. Sebab bisa jadi, kesehatan mental generasi muda tidak akan membaik hanya dengan seminar, slogan motivasi, atau kampanye sesaat. Kadang perubahan besar justru dimulai dari hal sederhana: Lebih sedikit menghina. Lebih sedikit menghakimi. Dan lebih banyak peduli.Sebab pada akhirnya, Pancasila bukan hanya dasar negara. Pancasila adalah cara kita memperlakukan manusia lainnya.